Ketenangan Pikiran: Obat Gratis Yang Sering Kita Lupakan


MutiaraUmat.com -- Sobat Nabila, pernah enggak, gara-gara memikirkan sesuatu, kepala mendadak pusing, dada terasa sesak, perut mulas, tidur berantakan, bahkan badan pegal-pegal? Padahal, seharian cuma duduk sambil memikirkan masalah. Enggak angkat semen, enggak mengaduk adonan bakso, tetapi badan rasanya seperti habis kerja rodi. Wkwkwkwk

Begitulah uniknya hubungan pikiran, emosi, dan tubuh manusia. Apa yang terjadi di dalam kepala ternyata bisa memengaruhi kondisi fisik. Saat kita mengalami stres, tubuh melepaskan hormon seperti kortisol dan adrenalin. Detak jantung meningkat, otot menegang, dan tubuh bersiap menghadapi ancaman.

Masalahnya, ancaman zaman sekarang kadang bukan harimau yang mengejar kita, melainkan pesan WhatsApp yang bikin jantung berdebar, tagihan yang datang bertubi-tubi, atau seseorang yang membaca pesan tetapi tidak membalasnya. Waduh, yang terakhir ini bisa bikin imajinasi bekerja lembur sampai dini hari.

Jika stres berlangsung terus-menerus, tubuh bisa ikut kelelahan. Sebagian orang mengalami sakit kepala, gangguan pencernaan, sulit tidur, atau tekanan darah yang meningkat. Stres juga dapat memengaruhi kebiasaan makan dan aktivitas fisik. Akibatnya, kesehatan bisa ikut terdampak.

Jadi, jangan meremehkan kesehatan pikiran. Kita sering rajin membeli vitamin, merawat wajah, menjaga pola makan, dan berolahraga, tetapi lupa merawat isi kepala. 

Wajah sudah pakai serum berlapis-lapis, sementara pikiran dibiarkan menjadi tempat penampungan masalah dan overthingking.

Pikiran yang tenang membantu tubuh menjalankan fungsinya dengan lebih baik. Namun, perlu diingat, ketenangan bukan obat untuk semua penyakit. Jika tubuh mengalami gangguan, pemeriksaan dan pengobatan medis tetap diperlukan.

Lantas, bagaimana menjaga pikiran agar tidak terus-menerus menjadi sumber kelelahan?

Pertama, belajar membedakan mana yang bisa kita kendalikan dan mana yang tidak. Kita bisa mengendalikan sikap dan keputusan sendiri, tetapi tidak bisa mengatur isi kepala semua orang. Kalau semua orang harus sesuai keinginan kita, itu bukan ketenangan, melainkan sedang membuka cabang kerajaan pribadi. Wkwkwk

Kedua, jangan memelihara kemarahan terlalu lama. Marah adalah emosi manusiawi, tetapi terus-menerus mengulang kejadian menyakitkan di kepala hanya membuat kita kembali merasakan tekanan yang sama. Memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan orang lain atau membiarkannya menyakiti kita lagi. Kita tetap boleh memasang batas yang sehat.

Ketiga, cukupkan tidur, bergerak secara teratur, makan bergizi, dan luangkan waktu untuk beristirahat. Jika masalah terasa berat, berceritalah kepada orang yang dipercaya atau tenaga profesional. Tidak semua persoalan harus ditanggung sendirian. Bahkan ponsel saja perlu diisi daya, masa manusia dipaksa beroperasi 24 jam tanpa jeda?

Keempat, belajar menerima bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana. Ada hal yang berhasil, ada yang gagal, ada yang datang membawa kebahagiaan, dan ada pula yang membuat kita harus menarik napas panjang sambil berkata, “Ya Allah, ujian apalagi ini?”

Bagi seorang Muslim, ketenangan juga berkaitan dengan hubungan kepada Allah Swt. Zikir, doa, salat, membaca Al-Qur'an, dan tawakal dapat menjadi sumber kekuatan batin. Allah berfirman dalam Al-Qur'an surah Ar-Ra'd ayat 28 bahwa dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram.

Tawakal bukan berarti duduk diam menunggu masalah menghilang seperti mantan yang tiba-tiba tidak aktif di media sosial. Tawakal berarti berusaha, berdoa, mengambil langkah yang benar, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah.

Kita tidak bisa mengendalikan semua kejadian, tetapi kita bisa belajar mengelola respons terhadapnya. Kita tidak harus memenangkan setiap perdebatan, membalas setiap sindiran, atau membuktikan diri kepada semua orang. Kadang, memilih diam dan menjaga jarak justru lebih bijaksana daripada menghabiskan energi untuk pertengkaran yang tidak menghasilkan apa-apa.

Ingat, ketenangan bukan berarti hidup tanpa masalah. Ketenangan adalah kemampuan menghadapi masalah tanpa membiarkannya menguasai seluruh kehidupan kita. Jangan sampai tubuh ikut menanggung beban dari persoalan yang terus kita putar di kepala. Kalau memang perlu diselesaikan, selesaikan. Kalau perlu dibicarakan, bicarakan. Kalau perlu meminta bantuan, jangan gengsi dan jika sesuatu memang berada di luar kendali kita, belajarlah melepaskannya. Sebab, hidup ini sudah cukup melelahkan tanpa harus membuat pikiran menjadi musuh bagi diri sendiri.

Rawat pikiran, jaga emosi, sayangi tubuh, dan dekatkan hati kepada Allah. Bukan supaya kita kebal terhadap masalah, melainkan agar kita lebih kuat dan bijaksana dalam menghadapinya.

Bonusnya, kalau pikiran lebih tenang, tidur lebih nyaman, dan wajah tidak terus-menerus tegang, orang rumah pun mungkin ikut bahagia. Lumayan, kan? Kesehatan terjaga, suasana rumah lebih damai, energi tidak habis untuk marah-marah yang justru mengganggu suasana rumah.

Ingat sob, kita tidak selalu bisa memilih apa yang terjadi dalam hidup, tetapi kita bisa belajar memilih bagaimana meresponsnya.[]


Nabila Zidane
Jurnalis

0 Komentar