Beginilah Logika Penjajah


MutiaraUmat.com -- Khadim Syaraful Haramain, K.H. Hafidz Abdurrahman, MA menegaskan bahwa Amerika Serikat (AS) adalah negara adidaya yang pernah dijajah oleh Inggris. Meski begitu, AS tidak pernah mempunyai empati kepada wilayah dan penduduk yang dijajah. 

"Mengapa? Karena setelah merdeka, AS telah menjelma menjadi negara penjajah," jawabnya.

Menurutnya, sebagai negara penjajah, AS melakukan segala cara, sehingga posisinya tetap kokoh, dan hegemoninya di seluruh dunia tidak hilang. 

"LBB dia bubarkan, dengan alasan tidak bisa mencegah terjadinya Perang Dunia II. Kemudian, sebagai gantinya dia dirikan PBB. Pertanyaannya, apakah PBB bisa mencegah perang yang terjadi di seluruh dunia? Jawabannya sama. Namun, mengapa PBB tidak dibubarkan? Karena PBB menjadi alat penjajahan AS," jelasnya.

Ia membeberkan, PBB dengan seluruh instrumen politiknya, mulai dari UNESCO, UNICEP, NATO, World Bank, IMF, ICC, dan lain-lain adalah alat penjajahan yang mereka gunakan untuk kepentingan mereka.

"Sementara penguasa negeri kaum Muslim, yang lebih dari 50 negara, tidak ada satu pun yang tidak menjadi kaki tangan mereka," yakinnya.

Ia melanjutkan, untuk mempertahankan imperialisme mereka di dunia Islam, mereka lakukan apapun, termasuk genosida, kebijakan tangan besi, bahkan pemiskinan (siyasah ifqar). 

"Entitas Yahudi di Timur Tengah itu ibarat duri yang ditanam oleh Inggris di tubuh umat Islam. Mereka tidak punya tanah, diberi "tanah" di sana, dan terus membuat onar karena tujuannya agar Timur Tengah tetap bisa dijajah," terangnya.

Ia memaparkan, setelah PD II, AS menggantikan peran Inggris, menjaga, merawat dan menghidupi entitas Yahudi di tanah jajahannya (Palestina), untuk kepentingan imperialisme AS di Timur Tengah. 

"Jadi, Israel ini sebenarnya dijadikan tumbal oleh AS, Inggris, Perancis, dan negara penjajah lain untuk berhadapan dengan kaum Muslim. Kalau orang-orang Yahudi itu paham, harusnya mereka pergi dari tanah Palestina. Masalahnya, mereka juga keras kepala. Alih-alih meninggalkan Palestina, mereka juga melakukan pembantaian terhadap penduduk Palestina, dengan alasan mempertahankan diri. Ini logika ngawur," tekannya.

Namun menurutnya, sebaliknya, Hamas, Brigadir al-Qassam, dan seluruh pejuang yang melakukan perlawanan disebut teroris.

"Padahal, merekalah yang mempunyai hak atas wilayah itu, dan mereka berhak melakukan pembelaan diri, karena diserang dan dibantai selama 77 tahun," pungkasnya.[] Titin Hanggasari

0 Komentar