Tiga Tahun Thufan Al-Aqsha: 20 Ribu Pelajar Syahid dan Seruan Khilafah

Mutiaraumat.com -- Kementerian Pendidikan Palestina pada Rabu, 7 Oktober 2026 merilis data sebanyak 20.748 pelajar Palestina dan 1.058 tenaga pendidikan serta administrasi tewas di Jalur Gaza dan Tepi Barat selama tiga tahun berlangsungnya konflik (Metro TV News, 2026). 

Data video Detik mengkonfirmasi konflik 3 tahun tersebut telah menelan lebih dari 20 ribu nyawa pelajar dan guru Palestina (20.detik.com, 2026). Bahkan laporan Metro TV mencatat 21.745 anak meninggal dunia dalam tiga tahun perang di Gaza (Metro TV News, 2026). Angka ini menjadi bukti genosida pendidikan yang sistematis.

Dalam periode yang sama, pasukan dan warga Israel meningkatkan serangan di Tepi Barat dengan korban sebanyak 1.210 warga Palestina tewas, sekitar 13.350 lainnya terluka, dan lebih dari 24.600 orang ditahan (Metro TV News, 2026). 

Secara keseluruhan, korban tewas Palestina mencapai 74.245 jiwa dalam tiga tahun genosida Israel di Gaza (Gaza Media, 2026). Laporan Liputan6 juga menyebut lebih dari 74 ribu warga Palestina tewas selama 3 tahun perang Gaza (Liputan6.com, 2026). Fakta angka ini menunjukkan skala kejahatan kemanusiaan yang luar biasa besar.

Serangan brutal Zionis Israel sengaja dilakukan untuk tujuan genosida dan perampasan wilayah Palestina, di mana paradigma perang negara kafir adalah penjajahan untuk menguasai sumber daya dan wilayah (Metro TV News, 2026). 

Pelajar dan sekolah yang seharusnya dilindungi justru menjadi sasaran serangan, hal ini menjadi salah satu bukti kejahatan perang yang nyata. Data NTV News juga mencatat lebih dari 20 ribu pelajar Palestina tewas dalam tiga tahun konflik, mayoritas dari Gaza (NTV News, 2026). 

Serangan terhadap fasilitas pendidikan adalah strategi untuk menghancurkan generasi dan peradaban Palestina.

Kegagalan menghentikan kejahatan ini tidak lepas dari ketidakberdayaan para pemimpin negara adidaya, lembaga internasional seperti PBB, dan penguasa negeri-negeri muslim yang terbelenggu nasionalisme. 

Mereka hanya mampu mengecam tanpa mengirim pasukan untuk menghentikan genosida. Padahal Allah SWT berfirman, "Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan membela orang-orang yang lemah" (QS. An-Nisa: 75). 

Ayat ini menunjukkan wajibnya membela kaum lemah yang ditindas, termasuk pelajar Palestina.

Berbeda dengan paradigma penjajahan kafir, paradigma perang atau jihad dalam sistem Khilafah adalah membebaskan manusia dari kekufuran dan kezaliman, bukan untuk penjajahan apalagi genosida. 

Jihad juga wajib dilakukan untuk melawan penjajahan dan membela kehormatan kaum muslimin yang darahnya ditumpahkan. Rasulullah SAW dalam perang berpesan,

"Janganlah kalian membunuh anak-anak, wanita, orang tua, dan jangan merusak tempat ibadah" (HR. Abu Dawud). 

Syariat Islam terkait perang melindungi warga sipil, perempuan, anak-anak dan lansia, hal ini menunjukkan kemuliaan Islam.

Oleh karena, itu dibutuhkan kekuatan global baru yang mampu membebaskan Palestina secara hakiki, bukan sekadar diplomasi tanpa gigi. Menegakkan Khilafah sebagai kekuatan global umat Islam sangat penting untuk menghentikan kejahatan perang Zionis Israel dan negara-negara kafir. 

Khilafah akan menjalankan misi dakwah untuk menebar rahmat bagi umat manusia seluruh dunia dan mewujudkan tentara yang bergerak ketika ada satu anak muslim terluka. 

Khilafah tidak hanya dibutuhkan oleh umat Islam tapi urgen untuk membangun peradaban manusia yang mulia dan menghentikan genosida pelajar selamanya.[]

Oleh: Rif'ati Ilmi
(Aktivis Muslimah)

0 Komentar