Penulis Wajib Menjaga Ketenangan: Jaga Hati, Jaga Pikiran, Biar Ide Terus Mengalir


MutiaraUmat.com -- Menjadi penulis bukan sekadar punya laptop, kopi, lalu mengetik ribuan karakter. Ada modal lain yang sering terlupakan, yaitu pikiran jernih, hati tenang, dan kemampuan memilah mana yang perlu dipikirkan dan mana yang sebaiknya dilepaskan.

Bagaimana ide mau mengalir kalau kepala penuh urusan orang lain? 

Padahal, penulis membutuhkan ruang berpikir untuk membaca persoalan, merangkai gagasan, mengolah fakta, dan menghadirkan tulisan berbobot. Menjaga ketenangan hati dan pikiran bukan kemewahan, melainkan bagian dari ikhtiar merawat amanah ilmu.

Pertama, penulis wajib memahami ilmu agama.

Penulis Muslim tidak cukup pandai merangkai kata. Ia perlu memahami agama agar mampu membedakan yang benar dan salah, menempatkan persoalan secara proporsional, serta tidak mudah terseret emosi. Terlebih penulis ideologis yang menjadikan Islam sebagai landasan berpikir. Tulisan bukan sekadar kalimat indah, tetapi sarana menyampaikan pemikiran dan mengajak pembaca memahami persoalan dari sudut pandang Islam.

Namun, jangan sampai sibuk mengurusi segala hal hingga lupa mengurus diri sendiri. Rajin mengkritik persoalan umat, tetapi hati dibiarkan kusut. Semangat membahas perubahan masyarakat, tetapi pikiran kelelahan memikirkan sesuatu yang bahkan tidak bisa kita kendalikan.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin memberi perhatian besar pada pembinaan hati dan penyucian jiwa. Bagi penulis, ini menjadi pengingat untuk memeriksa niat, apakah menulis demi menyampaikan kebenaran dan memberi manfaat, atau justru demi memenangkan perdebatan dan mencari pengakuan?

Bukan berarti penulis harus kebal kritik. Kritik yang benar perlu diterima. Namun, tidak semua komentar harus dibawa masuk ke hati, apalagi dipikirkan sampai mengganggu pekerjaan yang lebih penting.

Kedua, pahami Qada dan Qadar.

Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitab Nizham al-Islam membahas qada dan qadar sebagai bagian dari akidah. Dalam penjelasan beliau, ada kejadian di luar kendali manusia dan ada perbuatan yang dapat dipilih manusia. Kejadian yang tidak berada dalam kuasa manusia diterima sebagai ketetapan Allah, sedangkan perbuatan dalam wilayah pilihan tetap menuntut tanggung jawab.

Apa hubungannya dengan menulis? 

Penulis bisa mengusahakan kualitas tulisan, memeriksa fakta, memperbaiki argumentasi, dan memilih waktu publikasi. Namun, apakah tulisan akan viral, disukai semua orang, atau dibagikan ribuan kali, tidak sepenuhnya berada dalam kendali penulis.

Kita boleh berharap tulisan dibaca banyak orang, tetapi tidak bisa memaksa semua orang menyukainya. Tugas kita berikhtiar dengan sungguh-sungguh, bukan mengatur seluruh hasil sesuai keinginan.

Memahami qada dan qadar bukan alasan untuk malas memperbaiki tulisan atau menyerah ketika karya sepi pembaca. Pemahaman ini justru membantu kita membedakan mana yang harus diusahakan dan mana yang diserahkan kepada Allah. Kerjakan bagian yang menjadi tanggung jawabmu. Serahkan hasil yang berada di luar kuasamu kepada Allah.

Ketiga, urus lingkaran yang menjadi tanggung jawabmu.

Penulis perlu membedakan persoalan yang menjadi tanggung jawabnya dan persoalan yang hanya menyita pikirannya. Tanggung jawab penulis antara lain menjaga kualitas tulisan, memperdalam ilmu, memeriksa informasi, meluruskan niat, memperbaiki kesalahan, dan menyampaikan gagasan secara bertanggung jawab.

Komentar orang, penilaian pembaca, persaingan yang tidak perlu, hingga urusan pribadi orang lain yang tak berkaitan dengan amanah kita, tidak semuanya harus masuk ke ruang pikiran.

Kalau ada kritik yang benar, ambil manfaatnya. Kalau ada kesalahan, perbaiki. Kalau ada perbedaan pendapat, pelajari argumennya. Namun, jika persoalan itu tidak membutuhkan tindakan kita, jangan biarkan ia menghabiskan energi yang seharusnya dipakai untuk berkarya.

Kita bukan petugas piket yang wajib mengawasi seluruh kehidupan manusia. Hehehe!
Rasulullah Saw. bersabda,
“Bersemangatlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah merasa lemah.” (HR Muslim).

Hadis ini memberi pedoman, arahkan energi pada hal yang bermanfaat, mohon pertolongan Allah, dan jangan menyerah. Manfaatkan waktu untuk membaca, meneliti, berdiskusi, menyusun gagasan, dan menghasilkan karya. Jangan sampai energi habis memikirkan sesuatu yang tidak bisa diubah, sementara amanah yang bisa dikerjakan justru terbengkalai.

Keempat, tawakal bukan berhenti berusaha.

Allah berfirman dalam Al-Qur'an surah Ali Imran ayat 159, yang mengajarkan agar setelah membulatkan tekad, manusia bertawakal kepada-Nya. Ayat ini mengingatkan pentingnya keseimbangan antara usaha dan penyerahan diri kepada Allah.

Penulis tetap perlu belajar, membaca referensi, memperbaiki teknik menulis, dan terbuka terhadap evaluasi. Ketika hasilnya belum sesuai harapan, jangan buru-buru menganggap diri tidak berbakat.

Tulisan yang sepi pembaca bukan bukti bahwa kita harus berhenti. Mungkin judulnya perlu diperbaiki, sudut pandangnya kurang kuat, atau penyajiannya perlu dibuat lebih menarik. Evaluasi bagian yang bisa diperbaiki, lalu lanjutkan ikhtiar.

Namun, jangan menjadikan angka tayangan sebagai penentu harga diri. Hari ini tulisan ramai, besok mungkin biasa saja. Hari ini dipuji, besok bisa dikritik. Kalau ketenangan hati bergantung pada respons manusia, kita akan menjadi tawanan penilaian orang lain.

Menulislah dengan serius, tetapi jangan menggantungkan seluruh kebahagiaan pada hasil publikasi. Berikan yang terbaik, lalu bertawakallah.

Kelima, rawat pikiran agar ide tetap hidup

Ide tidak selalu datang saat kita memaksa diri duduk di depan laptop. Kadang gagasan muncul setelah membaca buku, berdiskusi, beristirahat, atau merenungkan kejadian sehari-hari. Karena itu, penulis juga perlu memberi ruang untuk beristirahat demi memulihkan tenaga dan menjernihkan pikiran.

Jaga hubungan dengan Allah. Perbanyak membaca, bukan hanya membaca komentar. Perluas wawasan, bukan memperluas daftar orang yang membuat kita kesal. Hehehe!
Jangan memaksa diri memikirkan semua persoalan sekaligus. Pilih satu gagasan, dalami, lalu tuliskan.

Selesaikan satu amanah sebelum membebani diri dengan sepuluh urusan lain.
Pikiran yang terus dipenuhi kecemasan akan kesulitan menyediakan ruang untuk berpikir mendalam. Sementara tulisan yang baik membutuhkan perhatian, ketelitian, dan kejernihan.

Penulis yang ingin terus berkarya perlu menjaga bukan hanya keterampilan menulis, tetapi juga ketenangan batinnya.


Oleh: Nabila Zidane
Jurnalis

0 Komentar