Mencetak Santri Menjadi Kader Ulama Pembangunan Peradaban Islam
MutiaraUmat.com -- Pesantren merupakan salah satu basis massa pendidikan terbesar yang memiliki pengaruh kuat di tengah masyarakat. Hal ini ditunjukkan melalui data terbaru dari Kementerian Agama (Kemenag) RI per Oktober 2026, yang menginformasikan jumlah santri terverifikasi berdasarkan nama dan alamat (By Name By Address / BNBA) telah mencapai 4.634.406 jiwa. Jumlah yang sangat besar ini tersebar di puluhan ribu pondok pesantren di seluruh penjuru Indonesia. Pemerintah dan organisasi keagamaan pun memberikan perhatian besar terhadap potensi ini melaui peringatan tahunan. Pada perayaan tahun ini, Kementerian Agama RI menetapkan tema resmi “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”. (rri.co.id, 18-10-26)
Melalui momentum Hari Santri 2026,
arah pembinaan santri ditekankan untuk memperkuat peran mereka dalam pembangunan nasional. Santri tidak lagi dipandang sebelah mata hanya sebagai penjaga tradisi kitab kuning. Mereka didorong untuk menjadi generasi yang berkarakter, produktif, kreatif, adaptif, serta mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Pemerintah juga berharap santri memiliki kemandirian ekonomi sekaligus kepedulian sosial yang tinggi. (nasional.kompas.com, 18-10-26)
Pergeseran Peran dan Tantangan Seremonial
Jika kita menelaah lebih dalam, tuntutan agar santri terlibat aktif dalam segala sektor pembangunan justru membawa kekhawatiran baru. Ketika santri terlalu difokuskan untuk menguasai teknologi canggih, ekonomi praktis, dan keahlian kerja demi mengisi pos-pos pembangunan negara, ada risiko besar yang mengintai. Fokus ini dikhawatirkan dapat mengaburkan dan mereduksi peran utama santri yang sejatinya adalah sebagai kader ulama dan penjaga benteng hukum Islam. Waktu dan energi yang seharusnya digunakan untuk mendalami ilmu-ilmu syariat yang mendalam berpotensi terbagi demi mengejar kompetensi duniawi.
Selain itu, kemeriahan Hari Santri yang setiap tahun dirayakan kerap kali terjebak dalam program formalitas. Peringatan ini seringkali hanya berakhir sebagai ajang seremonial tahunan yang diisi dengan perlombaan seni, turnamen olahraga, atau kompetisi keterampilan teknis belaka. Euforia semacam ini memang menghibur dan menyatukan massa. Sayangnya, esensi dasar dari refleksi perjuangan kaum santri dalam menegakkan kebenaran agama seringkali tenggelam di balik panggung-panggung festival.
Tantangan lainnya muncul dari konsep pengamalan nilai agama dan kebangsaan yang digaungkan saat ini. Upaya untuk meleburkan nilai spiritual ke dalam bingkai kebangsaan dikhawatirkan mengarah pada nasionalisme spiritual yang sempit. Doktrin ini berpotensi membatasi cakrawala berpikir santri, seolah-olah ruang lingkup pengabdian dan kepedulian Islam hanya terbatas pada garis perbatasan teritorial sebuah negara saja.
Mengembalikan Peran Santri untuk Peradaban Dunia
Melihat tantangan-tantangan di atas, perlu ada rekonstruksi berpikir mengenai arah masa depan santri. Tugas utama dan paling mulia dari seorang santri adalah menjadi kader ulama di masa depan. Mereka harus dipersiapkan menjadi ahli tafsir, ahli fikih, dan pemikir Islam yang mumpuni. Ulama adalah pewaris para nabi, dan tugas mereka tidak bisa digantikan oleh sekadar menjadi pekerja korporasi atau birokrat biasa.
Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Dan sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar maupun dirham, melainkan mereka mewariskan ilmu." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).
Lebih dari itu, santri tidak boleh dididik hanya untuk menjadi pengikut atau sekadar pelengkap dalam sistem yang ada saat ini. Santri seharusnya dipersiapkan dengan mentalitas pemimpin ideologis yang berjuang untuk membangun kembali kejayaan dan peradaban Islam di panggung dunia. Allah Swt. telah menegaskan karakter umat Islam sebagai umat terbaik yang dilahirkan untuk memimpin manusia menuju kebaikan.
Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah." (QS. Ali 'Imran: 110).
Sejarah mencatat bahwa peradaban Islam pernah memimpin dunia dengan keadilan, ilmu pengetahuan, dan kesejahteraan yang universal. Visi global inilah yang harus ditanamkan ke dalam dada empat juta lebih santri di Indonesia.
Islam adalah agama yang universal (rahmatan lil 'alamin). Nilai-nilai Islam menyatukan seluruh umat manusia dan menghapus sekat-sekat nasionalisme yang sering kali memecah belah persaudaraan seagama. Dalam sudut pandang politik Islam yang kafah, penetapan Islam yang benar dalam mengatur kehidupan bermasyarakat dan bernegara secara global diwujudkan melalui adanya satu kepemimpinan umat yang disebut Khalifah, serta wadah institusi politik yang menaunginya, yaitu Khilafah. Kewajiban mengangkat satu kepemimpinan bagi seluruh umat ini disandarkan pada sabda Rasulullah saw. :
"Barangsiapa yang mati sedangkan di lehernya tidak ada baiat (kepada Khalifah/Imam), maka ia mati dalam keadaan mati jahiliah." (HR. Muslim).
Serta kabar gembira mengenai kembalinya institusi ini di masa depan:
"...Kemudian akan ada kembali Khilafah yang mengikuti manhaj (metode) Kenabian." (HR. Ahmad).
Melalui pemahaman yang utuh dan visi yang melintasi batas negara, santri akan mampu berdiri tegak sebagai arsitek sejati pembangun peradaban global yang diridai oleh Allah Swt.. Oleh karena itu, mari kita rapatkan barisan untuk menuntun kembali para santri pada khittah perjuangan mereka yang sesungguhnya sebagai garda terdepan umat. Sudah saatnya potensi besar ini tidak lagi terabaikan, melainkan diaktifkan secara nyata demi kemaslahatan agama, bangsa, dan dunia. Wallahua'lam bishowab.
Oleh: Hanum Hanindita, S.Si
Penulis Opini Islam
0 Komentar