Kecanggihan AI, Berharap Maju atau Khawatir Membawa Bahaya?
MutiaraUmat.com -- Teknologi AI saat ini cukup banyak menyerap banyak pengguna. Para peneliti kecerdasan buatan (AI) termasuk "Bapak AI" dunia, menerbitkan riset yang kembali mewanti-wanti pemerintah untuk bersiap menghadapi "Ledakan kecerdasan AI". Sebuah riset berjudul "Bagaimana Jika otomatisasi R&D AI memicu ledakan kecerdasan?" melibatkan 22 peneliti termasuk Yoshua Bengio dan Geoffrey Hinton yang dianggap sebagai Bapak AI modern. (CNNIndonesia.com, 30/09/2026)
Tentu saja, setiap kemajuan teknologi yang cukup pesat hari ini termasuk perkembangan Artificial Intelligence (AI) membawa banyak manfaat dalam berbagai aspek kehidupan. Namun, dibalik kemudahannya pasti juga memiliki sisi gelap yang berpotensi menimbulkan dampak serius terutama dalam penyebaran informasi, pelanggaran privasi dan manipulasi sosial. Salah satu ancaman utama dari AI adalah kemampuan nya menghasilkan konten palsu yang sangat realistis, seperti gambar, video dan teks. Teknologi Deepfake memungkinkan seseorang ditampilkan dalam situasi yang sebenarnya tidak pernah terjadi. (Metrotvnews.com, 24/04/2026)
Kecerdasan AI ibarat dua mata pisau bagi kehidupan manusia. AI bisa membawa manfaat jika digunakan dalam koridor yang benar dan bisa menjadi ancaman bahaya jika tidak digunakan dengan penuh tanggung jawab. Kemudahan ini dapat membantu manusia dalam segala hal baik di bidang ekonomi, industri terlebih dunia pendidikan. Hal ini menjadi harapan bagi kehidupan umat manusia untuk hidup menjadi praktis dan produktif.
Ledakan kecerdasan AI harus diimbangi dengan pengawasan dari manusia agar tidak menjadi ancaman apalagi kehancuran. Karena kecerdasan bukan hal yang ditakuti selama masih dalam kendali syariat yang dimanfaatkan untuk kemaslahatan. Ketika manusia bisa menghasilkan mesin cerdas seperti AI dan mesin cerdas bisa menghasilkan mesin yang lebih cerdas lagi, tidak menjadikan manusia malas berpikir kritis dan membaca serta menyaring apa yang dihasilkan AI. Karena manusia adalah satu-satunya makhluk yang diberi kemulian akal untuk berpikir, menganalisis dan memahami kekuasaan Allah di muka bumi ini. Penggunaan AI dapat membantu manusia dalam menjalani kehidupan bukan menjadi pembuat keputusan untuk manusia. Sebab, manusia adalah pemimpin/Khalifah di muka bumi yang telah dikaruniakan oleh Allah akal pikiran yang berguna untuk memahami, menimbang hal baik dan buruk serta memutuskan. Maka, AI harus dikendalikan dibawah kontrol akidah dan syariat agar terhindar dari bahaya yang mengancam.
Islam menetapkan hukum yang tegas atas segala bentuk hasil pemikiran manusia yang dipengaruhi ideologi diluar Islam (hadharah) dan bentuk-bentuk fisik yang lahir dari ideologi diluar Islam (madaniah). Maka, Islam memandang adanya AI adalah salah satu madaniah yang boleh kita digunakan dalam batasan Syariat. Islam tidak menafikan kecanggihan sains dan teknologi bahkan Islam memandang ilmu adalah kebutuhan umat. Akan tetapi semua harus berada dalam koridor syariat.
Kecerdasan AI boleh makin berkembang dengan diimbangi pengawasan dari manusia. Dalam hal ini, jika AI berada ditangan manusia yang memiliki akidah yang kokoh dan tunduk oada Syariat akan memberikan banyak kemaslahatan bagi manusia. Sebaliknya, jika AI dalam kendali orang-orang kafir, maka akan mendatangkan bahaya dan kerusakan. Memiliki teknologi canggih adalah harapan setiap bangsa. Namun, akal manusia tidak boleh dibiarkan begitu liar tanpa adanya batasan yang mengikat serta standar benar dan salah.
Itulah sebab nya sistem kehidupan manusia wajib diatur sesuai Syariat Allah SWT secara kaffah agar manusia selamat di dunia dan akhirat mulai dari sisi individu bahkan sampai negara. Mulai dari urusan ibadah, hingga urusan teknologi.
Wallahu a'lam bishshawab.[]
Farida Marpaung
Aktivis Muslimah
0 Komentar