Kecanggihan AI, Antara Harapan dan Kekhawatiran
MutiaraUmat.com -- Di era kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi seperti hari ini, AI hadir menjadi satu harapan pembawa kemudahan dan kebermanfaatan bagi hidup manusia. Seperti di bidang medis dan teknologi lainnya, AI terbilang membantu kehidupan manusia. Namun, harapan itu kini mulai pudar karena adanya bahaya yang mengintai.
Bagaimana tidak, para peneliti kecerdasan buatan (AI), termasuk bapak AI dunia, menerbitkan riset yang kembali mewanti-wanti pemerintah untuk bersiap menghadapi "ledakan kecerdasan AI. Riset yang baru diterbitkan di jurnal Cambridge Programme on AI Science & Policy (CASP) tersebut mendesak para pembuat kebijakan untuk bertindak segera sebelum terjadi kemajuan yang tak terkendali dari teknologi tersebut.
AI dalam Sistem Sekuler Kapitalis
Dalam kehidupan sekuler yang menggeser nilai agama dan menjadikan asas manfaat sebagai standar perilaku masyarakat, kemajuan teknologi yang dibarengi dengan pola hidup berstandarkan asas manfaat akan menjadikan AI seperti bola yang bisa dioper kemana saja sesuai dengan kehendak pengembang itu sendiri.
Dari sinilah kita bisa melihat, kemajuan teknologi yang tidak berjalan sesuai akidah dan syariat Islam akan terus membawa kerusakan bagi kehidupan umat manusia. Ledakan perkembangan AI yg tidak sejalan dengan Islam sangat rentan menimbulkan kerusakan kehidupan manusia. Sebab, standar manfaat dapat menjadikan penggunaan AI meskipun pada hal-hal yang membawa kerusakan pada pihak-pihak tertentu. Terlebih, sistem kapitalisme menjadikan kuasa modal di atas maslahat bersama. Dengan asas manfaat tadi jika bertemu dengan modal para oknum yang berkepentingan, maka bisa membuat kerusakan yang begitu besar.
Konstruksi Islam
Dalam QS Al-Baqarah ayat 30 Allah menegaskan bahwa Allah menciptakan manusia sebagi Khalifah di muka bumi. Selain itu, Allah membekali manusia dengan potensi akal yang dapat memungkinkan manusia berfikir dan berkreasi dalam amanahnya sebagai Khalifah fil Ardh tersebut.
Namun, Islam juga telah menetapkan dengan tegas bahwa ada perbedaan yang sangat jelas antara bentuk yang dihasilkan oleh pemikiran manusia yang dipengaruhi ideologi (hadharah) dengan bentuk hasil pemikiran yang tidak dipengaruhi ideologi (madaniyah). Hadharah jika bertentangan dengan akidah dan ideologi Islam, maka haram untuk diambil. Jadi, tidak semua hadharah bisa diambil. Berbeda dengan madaniyah yang bebas nilai atau netral.
Kecerdasan buatan merupakan produk nyata dari kemajuan sains dan teknologi. Meski demikian, fakta menunjukkan bahwa informasi di dalam AI dipengaruhi oleh berbagai ideologi global yang diolah untuk mengambil keputusan. Oleh karena itu, setiap hasil pencarian dari AI berpotensi membawa nilai-nilai budaya luar (hadharah) yang tidak netral. Artinya, Islam tidak menjadi satu-satunya penentu warna dalam keputusan yang diambil oleh AI. Sistem tersebut tidak dapat membedakan mana hal yang sesuai dengan prinsip Islam dan mana yang bukan karena seluruh data sudah melebur menjadi satu.
Inilah yang menjadi bahayanya karena sebagai Muslim, standar segala aktifitas dan pemikiran kita adalah Islam, jika sebuah informasi menggunakan standar Islam sebagian dan standar di luar Islam sebagian lainnya, maka kejernihan pemikiran Islam menjadi sulit diwujudkan pada informasi yang diserap lewat AI. Padahal dalam beramal, setiap Muslim tidak boleh mancampuradukkan yang haq (Islam) dengan yang bathil (di luar Islam).
Berbeda jika AI dalam kendali dan pengaturan manusia yang dibentengi akidah yang kokoh dan ketundukan paripurna pada syariat. Maka, segala informasi yang termuat dalam AI tidak akan bercampur dengan pemikiran dan ideologi yang bertentangan dengan Islam seperti sa'at ini. sebab, akidah yang kokoh akan menjadikan seseorang sadar bahwa hidupnya untuk ibadah dan suatu saat nanti dia akan pulang ke sisi Al-Khaliq untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatannya. Dari sinilah syariat menjadi kompas hidupnya, termasuk dalam mengelola dan memanfaatkan AI.
Sangat kontras dengan pengelolaan dan pemanfaatan AI di tangan orang-orang kafir seperti saat ini yang hanya membawa kerusakan bagi kehidupan manusia, mencampuradukaan yang haq dengan yang bathil sehingga sangat berdampak pada tatanan hidup manusia yang sudah diamanahkan Allah sebagai Khalifah fil Ardh.
Oleh karena itu, tata kehidupan manusia sepatutnya berlandaskan syariat Islam demi meraih keselamatan hakiki. Hanya Islam yang mampu menuntun umat manusia pada koridor kebenaran yang selaras dengan fitrahnya. Dalam perkembangannya, kemajuan teknologi mutlak dimanfaatkan tanpa harus mengikis esensi kecerdasan alami manusia. Kendali sistem aturan sepenuhnya berada di bawah otoritas syariat, sehingga kecerdasan buatan (artificial intelligence) tidak akan mendikte nilai-nilai kemanusiaan. Maka, demi mencapai keselamatan tersebut, manusia wajib konsisten berjalan di atas rel syariat Islam.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Oleh : Dwi Anjani
0 Komentar