Kapitalisme Sulap Penjara Jadi Villa? Mudah Saja!
MutiaraUmat.com -- Kapitalisme adalah surga bagi kaum berduit. Mereka bebas membeli apa saja yang dimau, siapapun bisa disuruh untuk melakukan apapun. Sebaliknya siapapun bisa melakukan apapun untuk mendapatkan keuntungan berlipat termasuk menyulap penjara yang normalnya menjadi tempat sempit, lembab dan hina karena ditinggali oleh pelaku kejahatan agar serasa hotel atau villa lengkap dengan fasilitas yang bahkan tidak dimiliki oleh rakyat merdeka yang tidak berdosa. Lalu kenyataan yang sangat memukul logika adalah oknum pesulap penjara yang demi meraup nominal fantastis agar bisa hedon dengan cara biadab itu adalah para pelaksana hukum.
Kompas.com edisi 28 September 2026 menyebutkan bahwa telah ditemukan 10 bangunan "klaster mewah" dalam sidak yang dilakukan oleh Ombudsman RI di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II Cibinong, Kabupaten Bogor pada Rabu, 23 September 2026. Di salah satu bangunannya terdapat ruang tamu, kamar, kulkas, televisi, meja makan dan sejumlah fasilitas lainnya bahkan ada minuman keras di kulkas juga. Tidak hanya itu, fasilitas mewah lain yang ditemukan adalah fasilitas fitness lengkap dan pembangunan simulator golf. Ternyata pengguna fasilitas itu alias narapidana yang menggunakan fasilitas itu membayar sejumlah uang kepada petugas lapas dengan kata lain penjara juga bisa "dikomersialkan".
Masih dari sumber yang sama, Kepala Divisi Hukum dan Investigasi Indonesia Corruption Watch (ICW), Wana Alamsyah mengatakan bahwa temuan ini bukanlah yang pertama. Menurut Wana sejak 2011, ICW telah memetakan setidaknya lima modus korupsi dalam penjara. Salah satunya adalah transaksi pengadaan fasilitas mewah pada narapidana elitnya. Ada pula pemberian izin keluar penjara yang dulu sempat viral di zaman Gayus Tambunan (narapidana koruptor pajak) yang divonis 29 tahun penjara pada 19 Januari 2011. Masih segar dalam ingatan bahwa warga binaan istimewa itu masih bisa menikmati hidup mewah di dalam penjara, bisa pergi ke Bali bahkan ke luar negeri dengan status sebagai warga binaan. Keajaiban itu ternyata didukung oleh kemampuan finansial dari hasil korupsinya untuk menyuap para petugas.
Pemaparan di atas adalah sebuah kenyataan pahit efek hidup di dalam sistem kapitalisme. Kehidupan orang-orang yang mencari nafkah dengan hati-hati agar terhindar dari harta haram sengaja disetting untuk berjuang sendiri agar mampu melanjutkan napasnya dan napas keluarga yang ditanggungnya. Karena harga kebutuhan pokok tidak pernah turun sementara gaji mereka pas-pasan. Hanya keimanan yang membuat mereka bertahan untuk tidak mencari harta dengan cara yang haram. Sebuah ketidakadilan yang menyayat hati.
Tapi itu memang kenyataan hidup dalam sistem kapitalisme. Orang-orang yang lurus dalam menjalani hidup agar mendapat ridha Allah justru selalu jadi pihak yang memprihatinkan. Karena sistem ini memang membuat manusia bahagia dengan cara yang dilarang Allah. Orang-orang yang menjalani hidup sesuai aturan Allah selalu menjadi orang sederhana dan bilapun dia kaya maka bisa dipastikan kekayaannya sesuai dengan profesi dan usaha yang dia jalani alias tidak ada kekayaan mencolok yang mencurigakan.
Kenyataan ini menambah bukti kehancuran sistem sekuler kapitalis. Semua aspek kehidupannya kacau, semua bisa dipengaruhi oleh uang, kedudukan dan kepentingan. Tidak ada jalan untuk keadilan, hukuman tegas hanya untuk rakyat jelata.
Saat kehidupan sudah kian kacau patut kiranya kita kembali merenungi hakikat hidup kita. Apakah sistem kapitalisme sekuler ini sesuai dengan ajaran Allah, Tuhan yang telah memberi kita hidup? Ternyata tidak.
Sistem hidup yang datang dari Allah adalah sistem hidup Islam yang menjamin keadilan tanpa konflik kepentingan. Semua aparat penegak hukumnya adalah orang-orang yang memiliki kepribadian Islam, ketakwaan yang tinggi, dia menyadari bahwa Allah SWT. mengetahui apapun yang dia lakukan. Selain itu mereka menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab hingga saat bertemu Allah SWT. dia bisa menghadap tanpa beban karena telah mampu menjalankannya dengan baik. Para penegak hukum dalam Islam senantiasa menjunjung tinggi keadilan hingga mampu memberi perlakuan yang sama pada para warga binaan tanpa terpengaruh kedudukan dan jabatan mereka.
Penegakan hukum dalam Islam bertujuan untuk memberi efek jera pada pelaku dan sebagai penebus dosa di dunia. Hal ini adalah pembeda utama dengan penegakan hukum kapitalisme sekuler yang justru menambah dosa karena dalam masa hukuman saja mereka bisa melanggar hukum.
Sudah terlalu lama kita hidup dalam sistem kacau ini. Saatnya kita suarakan kebenaran sistem Islam untuk mengakhiri semua penderitaan, ketidakadilan dan semua kezaliman ini.[]
Oleh: Nurul Lailiya
Aktivis Muslimah
0 Komentar