Jalan Menuju Kedaulatan Digital
MutiaraUmat.com -- Artificial Intelligence (AI) sebagai produk teknologi yang pada dasarnya bersifat netral dan bebas nilai. Ibarat api yang memiliki sifat dasar membakar, AI dapat dimanfaatkan untuk kebaikan, tetapi juga berpotensi membawa dampak buruk jika disalahgunakan.
Dalam pandangan Islam, teknologi adalah alat bantu untuk mempermudah hidup manusia. Karena itu, kehadiran AI tidak perlu ditolak. Meski demikian, ada tantangan besar yang harus dihadapi: penguasaan AI membutuhkan keahlian khusus dan investasi yang tidak sedikit. Hal ini penting demi mewujudkan kedaulatan digital agar kita tidak terus-menerus bergantung pada negara luar yang saat ini jauh lebih unggul, baik dalam penguasaan teknologi maupun manufakturnya.
Saat ini, para ilmuwan Muslim telah bergerak dengan mengembangkan berbagai aplikasi berbasis nilai-nilai Islam. Namun, kita masih menghadapi ketergantungan mendasar: chip yang menjadi "otak" utama AI masih diproduksi oleh raksasa teknologi asing.
Upaya menanamkan data dan nilai-nilai Islami ke dalam sistem AI memang sudah berjalan. Namun, selama infrastruktur dan perusahaan pembuatnya masih dikuasai pihak asing, potensi intervensi seperti penyaringan atau pengaturan algoritma yang dapat mengaburkan nilai-nilai Islam yang murni akan selalu ada.
Solusi Mendalam dan Cemerlang
Diperlukan upaya nyata untuk membangun kesadaran kritis umat Islam agar tidak sekadar menjadi pengguna dan pasar teknologi semata. Hal ini hanya dapat terwujud jika menggunakan perspektif Islam, sebab Islam mampu memberikan solusi yang tuntas.
Oleh karena itu, untuk menghadapi hegemoni sistemis ini, umat Islam membutuhkan tandingan yang sepadan, sebuah institusi global yang tidak hanya memiliki otoritas keagamaan, tetapi juga kedaulatan politik dan kekuatan finansial untuk membangun ekosistem teknologi yang mandiri. Wadah pelindung tersebut terwujud dalam sebuah institusi politik global, yakni Khilafah.
Sebagai institusi yang berbasis ideologi, Khilafah tidak akan menghadapi perkembangan teknologi dengan kepanikan atau antipati. Strategi yang dijalankan meliputi beberapa langkah krusial:
Pertama, revolusi sistem pendidikan. Negara akan menghapus dikotomi pendidikan sekuler. Kurikulum Khilafah akan mengintegrasikan sains modern dengan pemahaman tsaqafah Islam yang kuat. Targetnya adalah melahirkan ilmuwan di bidang umum (dokter, insinyur, pakar IT dan lainnya) yang sekaligus menguasai dasar-dasar ilmu agama. Dengan demikian, mereka memiliki kapasitas berpikir yang matang dan tidak mudah terkecoh oleh jawaban instan dari teknologi asing.
Kedua, kemandirian kebijakan teknologi. Negara tidak akan membiarkan umat Islam menjadi konsumen pasif yang bergantung pada raksasa Big Tech asing. Syekh An-Nabhani dalam Kaifa Hudimat al-Khilafah mengingatkan bahwa ketergantungan teknologi merupakan pintu masuk bagi invasi budaya Barat.
Kebijakan teknologi Khilafah akan memosisikan Artificial Intelligence (AI) secara tegas berdasarkan kaidah usul fikih. Islam membedakan secara jelas antara hadharah (ikatan pemikiran yang dipengaruhi pandangan hidup) dan madaniyah (bentuk fisik dari kemajuan sains atau alat). Teknologi AI pada dasarnya merupakan madaniyah umum yang bersifat mubah (boleh) untuk dimanfaatkan.
Oleh karena itu, Khilafah akan mengambil peran sebagai pemimpin dalam pengembangan riset AI melalui reposisi yang sahih:
Pertama, AI sebagai alat bantu (khidmat). AI akan dioptimalkan secara masif sebagai alat bantu administrasi negara, riset sains, penerjemahan kitab secara cepat, digitalisasi manuskrip kuno, hingga sarana bagi para ulama untuk melacak referensi teks hadis atau ayat secara instan.
Kedua, kedaulatan algoritma islami. Khilafah akan membangun infrastruktur superkomputer dan model bahasa besar (Large Language Model) secara mandiri. Basis data dan data latih (training data) AI tersebut akan dikurasi secara ketat oleh lembaga keulamaan negara berdasarkan kitab-kitab muktabar, sehingga murni dan bebas dari infiltrasi kebijakan konten (content policy) liberal Barat.
Dengan konstruksi yang sistemis ini, teknologi AI tidak lagi menjadi alat sekuler untuk melemahkan Islam, melainkan berbalik menjadi sarana perjuangan yang tunduk di bawah syariat Islam untuk menyebarkan dakwah ke seluruh penjuru dunia.
Oleh: Evy Farlina, S.Pd.,
Aktivis Muslimah
0 Komentar