Artificial Intelligence (AI) dalam Cengkeraman Hadlarah Barat
MutiaraUmat.com -- Di Balik Revolusi AI dan Ancaman Nyata Kehilangan Kendali Manusia
Dunia hari ini tengah berdiri di ambang lompatan teknologi paling radikal dalam sejarah. Kecanggihan AI yang kita puja hari ini ternyata dirancang bukan untuk mempermudah hidup, melainkan untuk melenyapkan kendali manusia itu sendiri?
Di tengah euforia kecanggihan kecerdasan buatan (AI) yang menawarkan revolusi medis dan efisiensi teknologi tanpa batas, para peneliti global, termasuk para Bapak AI dunia, justru menerbitkan riset darurat yang mewanti-wanti pemerintah agar segera bersiap menghadapi kiamat digital berupa ledakan kecerdasan. Di balik harapan besarnya, ledakan kendali mandiri ini menyimpan bom waktu yang mengerikan, mulai dari ancaman senjata biologis dan perang siber, lenyapnya kendali serta keterlibatan mutlak manusia, hingga potensi memicu perang pemusnah antarnegara.
Benturan Hadlarah Sekuler dan Perkembangan Madaniyah
Dalam kitab Nidzamul Islam (Peraturan Hidup dalam Islam) karangan Syekh Taqiyuddin an-Nabhani, beliau memilah menjadi dua jenis, yaitu Hadlarah (pandangan hidup yang melahirkan konsep kebahagiaan dan hukum) serta Madaniyah (sains, teknologi, dan perkakas fisik). AI adalah bentuk Madaniyah yang bersifat universal. Namun, ketika AI digerakkan oleh Hadlarah kapitalisme Barat yang berasaskan sekularisme (memisahkan agama dari kehidupan) dan utilitarianisme (semata-mata mengejar materi dan keuntungan), teknologi ini berubah menjadi monster yang tidak terkendali.
Terdapat tiga analisis mengapa ledakan AI tanpa syariat berujung pada kehancuran peradaban, berdasarkan konsep pemikiran beliau:
Pertama, penyalahgunaan Teknologi Akibat Pemisahan Agama (Sekularisme)
Syekh Taqiyuddin menegaskan bahwa jika perbuatan manusia tidak diikat dengan perintah dan larangan Allah (syariat), manusia akan bertindak destruktif demi memuaskan nalurinya (Gharizah). Ketika AI dikembangkan tanpa dasar akidah, para korporasi dan negara kapitalis akan menggunakannya untuk menciptakan senjata biologis otomatis, perang siber, hingga algoritma perang pemusnah antarnegara, demi dominasi materi dan kekuasaan global.
Kedua, Kehilangan Kendali Manusia atas Fitrah dan Rasa Aman
Dalam pandangan sistem sosial Islam, teknologi diadopsi untuk mempermudah tugas manusia dan memakmurkan bumi (khilafah fil ardhi), bukan untuk menggantikan esensi kemanusiaan itu sendiri. Ledakan AI yang menghilangkan kendali dan keterlibatan manusia menciptakan kekosongan moral yang fatal. Mesin yang tidak memiliki akal—dalam arti kemampuan menilai baik dan buruk (al-husnu wal qubhu) berdasarkan standar pencipta—akan mengambil keputusan dingin yang bisa mengorbankan jutaan nyawa demi efisiensi angka.
Ketiga, Kekacauan Sosial-Ekonomi Akibat Ketertundukan pada Kapitalisme
Kapitalisme mengukur segala sesuatu dari efisiensi biaya. AI tanpa syariat akan melahirkan pemutusan hubungan kerja massal dan monopoli informasi oleh segelintir elit pemilik modal, memperlebar jurang kemiskinan secara ekstrem.
Integrasi Sains dan Syariat dalam Sejarah Islam
Dalam catatan sejarah Islam, para ulama, ilmuwan, dan khalifah terdahulu telah memberikan contoh nyata bagaimana menempatkan teknologi sebagai Madaniyah (perkakas sains universal) yang tunduk secara mutlak di bawah kendali Hadlarah Islam (syariat Allah).
Pertama: Pada masa keemasan Islam (era Daulah Abbasiyah hingga Utsmaniyah), para ilmuwan Muslim seperti Al-Fazari dan Maryam Al-Asturlabiya menyempurnakan alat astronomi bernama astrolabe (alat pencari bintang).
Kedua: Pada abad ke-12, seorang insinyur Muslim legendaris bernama Al-Jazari menciptakan berbagai mesin otomatis (robotika awal) dan sistem hidrolik air yang sangat canggih melalui kitabnya Al-Jami' bainal Ilmi wal Amal.
Ketiga: Ketika pasukan Islam membuka wilayah Samarkand pada abad ke-8, mereka mempelajari teknologi pembuatan kertas dari Tiongkok. Teknologi ini langsung diadopsi dalam skala massal oleh Kekhalifahan Abbasiyah dengan mendirikan pabrik kertas pertama di Baghdad.
Menjinakkan Monster AI dengan Kendali Syariat
Umat Islam zaman dahulu sangat maju secara Madaniyah (sains dan teknologi) justru karena mereka sangat kuat memegang Hadlarah (akidah dan syariat) Islam. Ketika hari ini kita menghadapi ledakan AI, peradaban Islam terdahulu telah memberikan cetak biru (blueprint) bahwa AI tidak perlu ditolak, melainkan wajib diatur oleh hukum syariat.
Ketika sains dilepaskan dari kompas moral akidah, kehancuran peradaban tinggal menunggu waktu. Hanya dengan tunduk pada aturan Sang Pencipta, kemajuan teknologi ini dapat bertransformasi menjadi rahmat, bukan laknat bagi kehidupan manusia.
Oleh karena itu, penyikapan umat Islam terhadap ledakan AI tidak boleh sekadar kagum atau membebek pada regulasi Barat. AI harus diposisikan sebagai perkakas (Madaniyah ammah) yang wajib dikendalikan secara mutlak di bawah naungan syariat Islam, sehingga pemanfaatannya senantiasa terarah untuk kemaslahatan dakwah, kemanusiaan, dan ketakwaan kepada Allah Swt.
Oleh: Putri Rahmi DE, SST
Aktivis Muslimah
0 Komentar