AI Semakin Cerdas: Penyelamat atau Ancaman Bagi Manusia ?

MutiaraUmat.com -- Artificial Intelligence kini hadir memudahkan kehidupan kita, AI membawa kontribusi nyata dalam dunia medis, sains dan ekonomi. Namun, di sisi lain pengoperasian AI membutuhkan infrastruktur data center yang masif. Pembangunan pusat data di berbagai negara termasuk Indonesia, memicu ancaman krisis air bersih, lonjakan konsumsi listrik, dan emisi karbon. (Muslimah Insight, 10-10-2026).

Peneliti AI terkemuka, Geoffrey Hinton, melalui riset-nya memperingatkan pemerintah global untuk bersiap menghadapi potensi intelligence explosion titik dimana AI mampu memroses dan mengoptimalkan dirinya sendiri tanpa campur tangan manusia (hstoday.us, 12-10-2026).

Setiap tujuh bulan, AI sudah semakin cerdas 2 kali lipat. Bahkan, Elon Musk menginformasikan di akhir 2026, AI sudah bisa lebih cerdas daripada manusia, dan diperkirakan pada tahun 2030 AI sudah bisa melebihi kecerdasan gabungan seluruh umat manusia (fortune.com, 9-4-2024).

Bill Gates bahkan memprediksi bahwa AI bisa menyebabkan 1 miliyar kematian manusia, yaitu melalui ancaman siber dan penyalahgunaan senjata biologis (cnnindonesia.com,28-09-2926). Sistem vital dunia yang terhubung dengan internet rentan terhadap serangan siber skala masif, peretasan infrastruktur fisik, hingga simulasi patogen berbahaya. 

Islam memberikan kerangka berpikir mendasar bahwa AI sebagai Madaniyah (Sains dan Teknologi): Produk teknologi murni yang bersifat netral dan berfungsi mempermudah kehidupan. AI sebagai Hadarah (Pandangan Hidup dan Ideologi): AI dilatih menggunakan miliaran data yang memuat nilai dan ideologi pembuatnya.

Manusia sebagai khalifah fiil ardhi pengelola bumi yang bertugas mewujudkan kemaslahatan dan mencegah kerusakan. Seperti perintah Allah Swt:
iqra' bismi rabbikal-ladzÄ« khalaq “bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan”. Ayat ini memahamkan kepada kita bahwa “Iqra’" yang merupakan intrepretasi dari “ilmu” tanpa “bismi rabbikal-ladzÄ« khalaq” intepretasi dari “Iman”, hanyalah berdampak kehancuran. 

Maka, ilmu harus disertakan oleh iman, mengingatkan kita pada ungkapan Buya Hamka : “Iman tanpa ilmu bagaikan lentera di tangan bayi. Namun, ilmu tanpa iman, bagaikan lentera di tangan pencuri”.

Seorang pencuri yang memegang lentera memiliki cahaya yang jelas untuk melihat sekitarnya, tetapi, cahaya tersebut justru ia gunakan untuk kejahatan. Maka, dampak penerapan AI sangat dipengaruhi oleh pemikiran pengembangnya, kemana arah pemanfaatan AI akan berlabuh sangat bergantung pada akidah dan ideologi manusia yang memegang kendali atas teknologi tersebut. 

Ledakan kecerdasan buatan tanpa koridor yang kokoh (kendali akidah dan syariat Islam), berisiko tinggi membawa kehancuran bagi eksistensi manusia. Agar teknologi tidak menjadi bumerang yang memusnahkan pembuatnya, maka harus diatur dan dilandasi oleh aturan-aturan syariat Islam secara wilayah dan global.

Wallahu'alam bisshawab

Airin Nuraini, SE, MSi
Dosen, Penulis Buku, founder Komunitas Sahabat Langit

0 Komentar