Mindfulness in a Restless World


MutiaraUmat.com -- Di tengah kondisi penuh distraksi. Gen Z kerap berhadapan dengan berbagai informasi. Baru-baru ini, sebuah konten youtube dari seorang intelektual muda mengungkap pendapatnya mengenai Mindfulness in the age of bad news yang akhirnya menuai pro dan kontra di tengah masyarakat, khususnya generasi muda hari ini. Penyampaiannya mengenai mindfulness dengan kondisi dirinya mempersiapkan sarapan mewah menjadi kritik pedas generasi yang saat ini sedang dihimpit berbagai masalah, salah satunya asap karhutla yang membahayakan. Bagi mereka yang terdampak langsung, konten tersebut sama sekali tidak memberikan ketenangan. Adapun bagi yang lain, mereka berpendapat bahwa hal tersebut seperti bagian dari ketidakpedulian. Namun, apakah mindfulness hanya berarti fokus pada hal yang ada di depan kita dan jangan terlalu memikirkan masalah di luar diri?

Dalam sejarahnya, mindfulness sendiri adalah istilah berbahasa inggris yang digunakan oleh seorang sarjana Buddhis Inggris bernama T.W Rhys Davids pada 1881, untuk menyebut sebuah praktik kuno perhatian dan kesadaran (meditasi) yang dilakukan dalam tradisi Buddhis (Jurnal Mindfulness, 11/05/2026). Kemudian di abad ke 20, tradisi tersebut dibawa kepada konteks barat dan diteliti dalam ranah psikologi dan medis. Hingga akhirnya, seorang tokoh bernama Jon Kabat-Zinn memperkenalkan mindfulness melalui program Mindfulness-Based Stress Reduction (MBSR), yang dikembangkan untuk membantu menghadapi berbagai persoalan seperti stress dan nyeri kronis (binus.ac.id).

Perkembangan mindfulness kemudian mengalami pergeseran konteks. Di Barat, praktik yang dulunya memiliki akar keagamaan tersebut akhirnya dikembangkan dalam bentuk yang lebih sekuler, hanya digunakan sebagai metode untuk melatih perhatian dan mengelola pengalaman psikologis tanpa harus mengadopsi keyakinan agama tertentu. Padahal manusia sesungguhnya diciptakan bukan hanya sekedar menghadapi tekanan dengan mengelola pikiran, tetapi ia juga makhluk yang diciptakan dengan keterbatasan.

Maka, ini akan menjadi semakin menarik ketika melihatnya dari perspektif Islam. Sebab, Islam tidak hanya berbicara tentang bagaimana manusia mengelola keadaan batinnya, tetapi juga memberikan pandangan tentang hubungan manusia dengan Allah, bagaimana memahami ujian dan penderitaan, serta bagaimana seharusnya seseorang bersikap terhadap realitas di sekitarnya. Misalnya dalam menghadapi ujian, Islam mengajarkan sabar terhadap ujian, dan bersyukur atas setiap nikmat. Dengan kekuatan keimanan, setiap individu dilatih untuk senantiasa menyandarkan diri pada Rabb-Nya dan tidak berputus asa terhadap realita yang dihadapi. 

Islam memberikan pandangan mengenai manusia bukan sebagai objek yang dikaji. Tapi ia dipahami dari apa yang ada dalam dirinya. Manusia dipandang sebagai makhluk atau ciptaan dengan khasiat potensi berpikir, naluri dan kebutuhan jasmani. Ia tidak akan dijauhkan dari perasaannya. Seperti halnya Rasulullah ketika ditinggal oleh istri dan pamannya - Khadijah r.a. dan Abu Thalib. Dua kehilangan itu terjadi dalam periode yang sama dan menjadi masa duka yang sangat berat bagi beliau. Dari sini kisah tersebut mengajarkan bahwa sabar dan tenang itu bukan tidak merasakan sakit dan sedih. Tetapi kesedihan menjadi pengingat kepada siapa manusia seharusnya menyandarkan dirinya ketika menghadapi sesuatu yang berada di luar kemampuannya. 

Tak hanya itu, Islam tidak hanya mengajarkan terkait ibadah ritual saja, tetapi ia punya sekumpulan cara untuk memberikan penyelesaian terhadap setiap persoalan. Dalam tata kelolanya, perlindungan islam bersifat berlapis. Mulai dari individu yang dibangun dalam dirinya akidah yang kokoh, dan ketakwaan yang kuat. Keluarga menjadi lapis kedua yang memberikan kasih sayang dan dukungan, peran dalam keluarga dipastikan berjalan dengan semestinya. Dalam lingkup masyarakat, pendidikan akan diberikan secara gratis dengan keilmuan yang tinggi, bukan hanya silabus materi yang dijalankan. Masyarakat juga akan bersatu untuk mencegah berbagai bentuk kerusakan yang muncul akibat kebijakan yang semena-mena. Negara berperan untuk memastikan bahwa setiap warga yang tinggal didalamnya mendapat akses pendidikan dan kesehatan secara gratis, memantau bahwa setiap kepala keluarga mendapat pekerjaan layak dan mampu memenuhi kebutuhan dasar. Juga memberikan penegasan terhadap manusia yang memonopoli kekayaan negara. 

Dengan demikian, bisa kita lihat bahwa Islam tidak hanya menawarkan teknik untuk membuat seseorang lebih tenang ketika menghadapi persoalan dunia, tetapi Islam yang diterapkan dalam skala negara akan mampu untuk memenuhi kebutuhan individu per individunya serta menjadi pelindung bagi jiwa, akal dan harta mereka, sehingga mereka akan menjadi manusia yang bukan hanya terpenuhi kebutuhan hidupnya, namun juga menjadi manusia yang bangkit pemikirannya, sehat mentalnya dan tidak mudah dijajah. Wallahu a'lam bishshawab.[]


Oleh: Himmah Al Mardliyah
Aktivis Muslimah

0 Komentar