Di Balik Gemerlap Gen Z: Tekanan Ekonomi dan Krisis Tujuan Hidup

MutiaraUmat.com -- Di media sosial, Gen Z terlihat sebagai generasi yang penuh warna. Mereka tampil mengikuti tren yang viral saat ini dan menikmati berbagai kemudahan teknologi. Mereka sering kali membagikan aktivitasnya melalui media sosial: berlibur, mencoba berbagai kuliner kemudian di bagikan ke media sosial. 

Namun, di balik gemerlap yang terlihat, ada realitas yang tak terlihat. Mulai dari tekanan ekonomi, tuntutan kesuksesan dari pihak keluarga, hingga budaya konsumtif, serta pertanyaan yang paling mendasar tentang tujuan hidup.

Persoalan ekonomi menjadi salah satu tantangan nyata. Data BPS menyebutkan bahwa tingkat pengangguran global untuk anak muda usia 15-24 tahun berada di angka 12,4 persen. Bahkan ada 3 dari 10 gen Z yang tidak memiliki pekerjaan (cnbc.com, 28/08/2026).

Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa memasuki usia produktif tidak selalu mudah untuk mendapatkan pekerjaan dan mencapai kemandirian ekonomi karena di tengah tuntutan hari ini untuk segera memiliki penghasilan dan meraih kesuksesan di usia muda, justru mereka dihadapkan dengan dunia kerja yang semakin kompetitif. Berbagai cara pun dilakukan untuk mendapatkan pekerjaan.

Ironinya, tekanan ekonomi berjalan beriringan dengan derasnya arus budaya konsumtif. Media sosial membuat kehidupan orang lain dapat dilihat setiap saat. Mulai dari liburan, tempat nongkrong, pakaian dan makanan hingga pencapaikan karier ditampilkan sebagai sesuatu yang ideal. Akibatnya, standar keberhasilan hanya dilihat dari banyaknya pencapaian yang harus terlihat di hadapan orang lain, bukan lagi bagaimana hidup merasa berkecukupan. Paparan ini bisa mendorong dan membentuk seseorang mengikuti gaya hidup tertentu.

Di sinilah akan muncul persoalan yang lebih dalam. Ketika kesuksesan diukur dengan apa yang dimiliki dan yang ditampilkan. Maka, disini pula anak muda bisa terjebak dalam perlombaan yang tidak akan pernah selesai. Setelah mendapatkan satu barang, maka akan muncul keinginan terhadap barang yang lain dan standar baru. Namun, tidak semua kalangan gen Z sebagai generasi hedonis. Banyak di antara mereka yang belajar, bekerja, berkarya untuk membangun masa depan. Oleh karena itu, persoalan-persoalan tersebut bukan semata-mata ada di dalam diri gen Z, melainkan ada faktor yang mendorong mereka, di antaranya adalah lingkungan sosial dan ekonomi yang membentuk cara mereka memandang kehidupan.

Perlu di pertanyakan ketika seseorang sibuk mengejar pencapaiannya, kesuksesan, dan popularitas. Apakah dia masih memiliki waktu untuk bertanya untuk apa semua itu? Pertanyaan itu penting karena manusia tidak hanya membutuhkan keberhasilan materi saja. Meskipun tidak bisa dimungkiri bahwa materi memang dibutuhkan, materi tidak menjamin seseorang menjadi benar-benar puas.

Tekanan ekonomi diperparah oleh gaya hidup sekuler-liberal yang berorientasi pada pencapaikan materi. Dimana gaya hidup seseorang dinilai berdasarkan apa yang dihasilkan dan dimiliki. Akibatnya, pertanyaan tentang nilai, makna, dan tujuan hidup dapat tersisihkan oleh pertanyaan tentang karier, pendapatan dan status sosial. 

Ia mengetahui apa yang ingin dimiliki, tetapi tidak mengetahui untuk apa ia hidup. Ia tahu bagaimana menjadi sukses menurut ukuran lingkungan, tetapi belum tentu memahami makna kesuksesan di akhirat. Oleh karena itu, jika kapitalisme menjadi akar persoalan gen Z, maka tidak cukup hanya dengan mendorong mereka menjadi lebih produktif dan kompetitif.

Dalam perspektif Islam, solusi tidak berhenti pada perubahan prilaku individu, tetapi juga menyentuh tata kehidupan dan kebijakan negara. Negara islam memiliki tanggung jawab yang harus diperhatikan. Negara Khilafah menjamin kebutuhan dasar seluruh rakyat melalui pengelolaan SDM dan memastikan lapangan kerja yang layak bagi setiap laki-laki. Selain itu, pendidikan juga diarahkan untuk membentuk kepribadian dan tujuan hidup yang berlandasan Islam, bukan hanya sekadar menyiapkan manusia menjadi tenaga kerja dan konsumen.

Selain itu, negara Islam akan menutup pintu gaya hidup hedonis dan melindungi generasi dari paparan konten yang rusak dan merusak. Negara di dalam sistem Khilafah akan diarahkan untuk edukasi dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. Dengan demikian, gen Z akan memahami, bahkan tujuan hidup seorang Muslim berkaitan dengan ibadah dan mencari ridha Allah Swt. 

Maka, akan lahir generasi muda yang bukan sekadar mencari kerja atau pengguna media sosial saja, melainkan mereka adalah generasi yang akan menentukan masa depan umat.
Wallahu a'laam

Rosita
Praktisi Pendidikan


0 Komentar