Bullying: Inikah Cermin Pendidikan Hari Ini?


Mutiara Umat — Sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman bagi anak untuk menuntut ilmu, bertumbuh, dan membangun kepribadian. Namun, bullying masih menjadi persoalan serius dalam dunia pendidikan.

Data Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 menunjukkan bahwa 24 persen siswa Indonesia melaporkan mengalami setidaknya satu bentuk bullying beberapa kali dalam sebulan atau lebih. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata negara OECD yang mencapai 20 persen. (OECD, 8 September 2026).

Di balik angka tersebut ada anak-anak yang mungkin pergi ke sekolah dengan rasa takut, kehilangan kepercayaan diri, bahkan membawa luka yang tidak terlihat. Sayangnya, bullying masih kerap dianggap sekadar candaan atau kenakalan anak.

Padahal, persoalan ini tidak cukup dilihat dari perilaku pelaku dan kondisi korban. Bullying juga menunjukkan adanya persoalan dalam pembentukan kepribadian generasi. Ketika ejekan dianggap lucu dan penghinaan dianggap candaan, ada nilai yang perlu dipertanyakan dalam lingkungan pendidikan.

Di sinilah pendidikan tidak cukup hanya mengejar nilai akademik. Seorang anak dapat memiliki kecerdasan tinggi, tetapi kecerdasan tidak otomatis melahirkan akhlak.

Islam memandang pendidikan sebagai proses membentuk manusia yang memiliki pola pikir dan pola sikap berdasarkan akidah Islam. Anak tidak hanya diajarkan bahwa bullying itu salah, tetapi memahami bahwa menyakiti dan merendahkan manusia merupakan perbuatan yang dilarang Allah Swt.

Allah Swt. berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِّن نِّسَاءٍ عَسَىٰ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, karena boleh jadi mereka yang diolok-olok lebih baik dari mereka yang mengolok-olok. Janganlah kamu saling mencela dan saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Dan barang siapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Hujurat: 11)

Ayat tersebut sangat relevan dengan persoalan bullying. Islam menjaga kehormatan manusia dan melarang penghinaan, celaan, serta panggilan buruk yang merendahkan orang lain.

Masalahnya, ketika agama hanya ditempatkan sebagai urusan pribadi sementara pendidikan dan kehidupan sosial dipisahkan dari nilai agama, pembentukan moral berisiko hanya bergantung pada aturan dan pengawasan. Anak mungkin takut dihukum ketika guru melihat, tetapi bagaimana ketika tidak ada seorang pun yang mengawasi?

Islam membangun kesadaran melalui ketakwaan. Seorang Muslim meyakini bahwa Allah selalu melihat setiap perbuatannya. Karena itu, ia tidak hanya menghindari keburukan karena takut kepada manusia, tetapi karena takut kepada Allah Swt.

Penyelesaian bullying pun tidak cukup hanya dengan aturan dan hukuman. Keluarga harus menjadi tempat pertama pembentukan akhlak, sekolah menjadi lingkungan yang aman, masyarakat memiliki kepedulian, dan negara membangun sistem pendidikan serta perlindungan anak yang kuat.

Tantangan semakin besar di era digital. Bullying tidak berhenti ketika anak meninggalkan sekolah karena penghinaan dapat terus berlangsung melalui media sosial. PISA 2025 juga mencatat 7 persen siswa Indonesia mengalami penyebaran informasi yang mengganggu tentang dirinya secara daring tanpa persetujuan beberapa kali dalam sebulan. (OECD, 8 September 2026).

Karena itu, pendidikan hari ini tidak cukup membekali anak dengan kemampuan akademik dan teknologi. Anak juga membutuhkan adab, akhlak, serta kesadaran bahwa setiap ucapan dan tindakan akan dipertanggungjawabkan.

Bullying seharusnya menjadi alarm bahwa pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada pencapaian akademik. Generasi yang kuat bukanlah generasi yang mampu menindas yang lemah, melainkan generasi yang mampu menahan dirinya ketika memiliki kesempatan untuk menyakiti.

Selama pendidikan hanya memperbaiki perilaku dari luar tanpa membangun kesadaran dari dalam, persoalan serupa akan terus berulang. Islam menawarkan pendidikan yang menjadikan akidah sebagai dasar pembentukan kepribadian, sehingga manusia tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki akhlak dan rasa takut kepada Allah.

Pada akhirnya, bullying bukan hanya persoalan anak nakal dan korban yang terluka. Ia merupakan cermin dari bagaimana keluarga mendidik, sekolah membina, masyarakat bersikap, dan sistem pendidikan membentuk manusia.

Maka pertanyaan kita bukan sekadar, “Bagaimana menghentikan bullying?”

Pertanyaan yang lebih mendasar adalah, “Manusia seperti apa yang sedang kita bentuk melalui pendidikan?”

Wallâhu a'lam bish-shawâb.

Oleh: Sera Alfi Hayunda, S.Pd. (Aktivis Muslimah) 


0 Komentar