Bullying dan Krisis Karakter: Menakar Ulang Sistem Pendidikan, Merindu Peran Islam


MutiaraUmat.com -- Angka 24 persen bukan sekadar statistik. Di baliknya ada anak-anak yang menahan sakit di dalam diam, ada tawa yang berubah menjadi luka, dan ada rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang, namun tak lagi terasa aman. Data PISA 2025 menunjukkan bahwa hampir seperempat siswa Indonesia mengalami bullying beberapa kali dalam sebulan—lebih tinggi dari rata-rata negara OECD yang berada di kisaran 20 persen. Rinciannya pun bukan hal yang bisa kita abaikan: 15,2 persen siswa dijadikan bahan lelucon, 11,6 persen menjadi korban rumor buruk, 7 persen mengalami perundungan siber, 5,6 persen dipukul atau didorong, dan 3,2 persen menerima ancaman.

Ketika angka-angka ini kita baca dengan hati, bukan hanya dengan logika, kita akan sampai pada satu pertanyaan besar: ada apa dengan cara kita mendidik generasi? Karena bullying bukan sekadar kenakalan remaja biasa. Ia adalah cermin dari sebuah sistem yang gagal menanamkan nilai, gagal membangun empati, dan gagal menjadikan keimanan sebagai benteng perilaku.

Ketika Sekularisme Menjauhkan Manusia dari Fitrahnya

Salah satu akar masalah yang jarang dibicarakan secara jujur adalah bagaimana sekularisme perlahan menjauhkan individu dan keluarga dari agama. Pendidikan dipisahkan dari nilai-nilai Ilahi. Keluarga sibuk mengejar materi, sementara anak tumbuh tanpa bimbingan ruhani yang kokoh. Akibatnya, ketika anak menghadapi tekanan, ia tidak punya pegangan. Ketika ia melihat kelemahan orang lain, tidak ada suara hati yang mencegahnya untuk menyakiti.

Islam mengajarkan bahwa setiap manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah, namun fitrah itu perlu dijaga dan dirawat. Tanpa keimanan yang ditanamkan sejak dini, fitrah itu bisa tertutup oleh lingkungan yang keras dan kering dari nilai. Anak yang tumbuh tanpa benteng keimanan akan mudah terbawa arus, dan lebih dari itu, ia bisa menjadi pelaku kekerasan tanpa merasa bersalah.

Masyarakat yang Permisif dan Individualistik

Bullying tidak tumbuh di ruang hampa. Ia tumbuh subur di masyarakat yang permisif, individualistik, dan acuh tak acuh. Sistem sekuler-kapitalis membentuk manusia yang sibuk dengan urusannya sendiri, yang menganggap kekerasan sebagai "bukan urusan saya", dan yang merasa aman selama anaknya sendiri tidak menjadi korban. Dalam masyarakat seperti ini, bullying dinormalisasi. Bahkan, sering kali ia dianggap sebagai bagian dari "proses pendewasaan" yang keliru.

Padahal, Islam mengajarkan amar ma'ruf nahi munkar. Seorang Muslim tidak boleh diam ketika melihat kezaliman, sekecil apa pun itu. Rasulullah Saw. bersabda, "Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya; jika tidak mampu, dengan lisannya; jika tidak mampu, dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman." (HR. Muslim). Dalam kerangka ini, bullying bukan hanya masalah pelaku dan korban. Ia adalah tanggung jawab kolektif masyarakat.

Sistem Pendidikan yang Kehilangan Ruh

Negara yang menerapkan sekularisme-kapitalisme melahirkan sistem pendidikan yang hanya berorientasi pada angka, ijazah, dan daya saing pasar. Pendidikan karakter sering kali hanya menjadi slogan, bukan praktik. Tidak ada fondasi akidah yang kokoh, tidak ada keteladanan yang konsisten, dan yang paling menyedihkan, tidak ada sanksi tegas yang membuat pelaku bullying jera.

Bahkan, perlindungan hukum terhadap anak di bawah 17 tahun sering kali disalahpahami sebagai pembebasan dari tanggung jawab. Padahal, dalam Islam, setiap Muslim yang telah baligh sudah mukallaf—sudah menanggung beban tanggung jawab atas perbuatannya. Tidak ada area abu-abu dalam usia. Yang ada adalah pendidikan yang harus memastikan setiap anak memahami batas halal dan haram, serta konsekuensi dari setiap perbuatannya.

Islam sebagai Sistem yang Membentuk Karakter Terbaik

Islam bukan sekadar agama ritual. Ia adalah sistem hidup yang lengkap, yang mengatur hubungan manusia dengan Allah, dengan dirinya sendiri, dan dengan orang lain. Islam membangun akidah sebagai fondasi kepribadian individu dan keluarga sejak dini. Anak yang tumbuh dengan keimanan yang kokoh akan menjadikan taqwa sebagai kendali dalam setiap perilakunya. Ia tidak akan tega menyakiti orang lain, karena ia tahu bahwa Allah Maha Melihat dan Maha Adil.

Islam juga membangun masyarakat yang peduli. Masyarakat yang tidak permisif, yang tidak membiarkan kezaliman terjadi di depan mata. Dalam masyarakat Islam, setiap individu merasa bertanggung jawab atas kebaikan bersama. Ukhuwah bukan sekadar slogan, melainkan ikatan yang nyata dalam suka dan duka.

Dan yang tidak kalah penting, Islam menghadirkan negara yang bertanggung jawab. Negara Khilafah menerapkan sistem pendidikan berbasis akidah, yang tidak hanya mencerdaskan akal, tetapi juga membina ruh dan membentuk karakter. Sanksi tegas (uqubat) zawajir dan jawabir diterapkan bagi pelaku bullying, sehingga ada efek jera dan ada keadilan bagi korban. Tiada area usia abu-abu, karena setiap Muslim yang telah baligh wajib menanggung taklif atas perbuatannya.

Merindu Pendidikan yang Humanis dan Ilahiyah

Angka 24 persen adalah alarm bagi kita semua. Ia mengingatkan bahwa pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, tetapi pembentukan manusia. Pendidikan yang humanis adalah pendidikan yang memanusiakan manusia, yang melihat anak bukan sebagai objek, tetapi sebagai makhluk Allah yang memiliki fitrah dan potensi kebaikan.

Islam hadir sebagai sistem yang mampu membentuk pemuda terbaik dan berbudi luhur. Pemuda yang bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara spiritual, santun dalam perilaku, dan peduli terhadap sesama. Pemuda yang menjadikan taqwa sebagai kompas, dan menjadikan Rasulullah Saw. sebagai teladan.

Maka, sudah saatnya kita bertanya dengan jujur: apakah sistem pendidikan kita sudah berpihak pada pembentukan karakter? Apakah nilai-nilai keimanan sudah menjadi fondasi, bukan sekadar pelengkap? Dan apakah kita, sebagai masyarakat, sudah cukup peduli untuk mencegah bullying, bukan hanya menyesalinya setelah korban berjatuhan?

Jawabannya mungkin tidak mudah. Tetapi satu hal yang pasti, selama kita menjauh dari Islam, selama itu pula kita kehilangan kompas dalam mendidik generasi. Wallahu a'lam bishshawab.[]


Oleh: Ratih Lestari, S.Pd.
Aktivis Muslimah dan Guru

0 Komentar