Bukan Karma, Pahami Sejarah
Peristiwa-peristiwa tersebut sama sekali bukan ajaran Islam. Islam adalah ajaran Allah SWT yang benar dan sempurna. Karena itu, yang harus dinilai adalah perbuatan manusia dengan Islam, bukan Islam dengan perbuatan manusia.
Hal ini perlu disampaikan karena Ayu Widyantari pada 2 September 2026 mengunggah pertanyaan di Facebook, “Bagaimana kisah tragis ini bisa terjadi pada keluarga san nabi? Karma? Hukum sebab-akibat?”
Di dalam unggahan yang dibagikannya terdapat status Tanti Mustika Dewi yang menulis, “Umar dibunuh, Ustman dibunuh, Ali dibunuh dan berperang dengan istrinya Nabi yaitu Aisyah, cucu nabi dipenggal yang satu, yang satunya lagi diracun, Fatimah putri Nabi mati menderita dikarenakan sakit batin. Sejarah Islam awal adalah sejarah yang sangat membingungkan sekalipun memilukan. Coba bayangkan!!”
Fakta Sejarah
Fakta sejarahnya memang ada. Khalifah Umar bin al-Khaththab ra. dibunuh ketika mengimami shalat Shubuh. Khalifah Utsman bin Affan ra. dibunuh setelah rumahnya dikepung para pemberontak. Khalifah Ali bin Abi Thalib ra. kemudian dibunuh oleh Abdurrahman bin Muljam, seorang Khawarij. Ada pula Perang Jamal yang melibatkan Siti Aisyah ra. dan Ali ra., serta tragedi Karbala yang menewaskan Husain bin Ali ra. dapun Hasan bin Ali ra. wafat setelah mengalami sakit, dengan sejumlah riwayat sejarah menyebut bahwa beliau meninggal akibat racun.
Namun, mencatat fakta sejarah berbeda dengan menetapkan makna di baliknya. Bahwa peristiwa-peristiwa itu terjadi pada masa kaum Muslim tidak berarti peristiwa tersebut merupakan ajaran Islam. Demikian pula, fakta bahwa pelaku atau korban suatu peristiwa berstatus Muslim tidak otomatis menjadikan peristiwa tersebut sebagai gambaran ajaran Islam.
Sejarah Bukan Ajaran
Menyebut rangkaian tragedi tersebut sebagai “sejarah Islam awal” juga perlu diluruskan. Jika yang dimaksud adalah sejarah yang terjadi pada masa awal umat Islam, istilah itu masih dapat dipahami. Namun, jika rangkaian tragedi tersebut kemudian dijadikan alasan untuk mempersoalkan Islam, cara berpikir itu tidak tepat.
Perang, pembunuhan, pemberontakan, dan kezaliman yang dilakukan manusia adalah fakta sejarah yang harus dilihat berdasarkan siapa pelakunya, apa latar belakangnya, bagaimana peristiwanya, dan bagaimana Islam menilainya.
Umar ra. tidak dibunuh karena Islam mengajarkan pembunuhan terhadap orang saleh. Utsman ra. tidak dibunuh karena Islam mengajarkan pemberontakan. Ali ra. tidak dibunuh karena Islam mengajarkan pertumpahan darah. Husain ra. tidak dibantai karena Islam membenarkan kezaliman.
Semua itu adalah perbuatan manusia yang harus dinilai dengan hukum Allah SWT.
Bahkan jika pelakunya mengaku Muslim, pengakuan tersebut tidak mengubah kejahatan menjadi ajaran Islam. Orang Islam bisa menyimpang dari Islam. Karena itu, jangan memasukkan penyimpangan manusia ke dalam ajaran Islam, lalu menjadikan penyimpangan itu sebagai alasan untuk mempersoalkan Islam.
Karma Bukan Islam
Pertanyaan tentang “karma” juga perlu dijawab dengan jelas. Islam mengakui adanya hubungan sebab-akibat dalam kehidupan. Perbuatan manusia dapat menimbulkan konsekuensi. Kezaliman dapat mendatangkan akibat buruk, sedangkan ketaatan mendatangkan pahala.
Namun, hal itu berbeda dengan konsep karma. Tidak setiap musibah yang menimpa seseorang boleh dipastikan sebagai hukuman atas dosa tertentu. Musibah bisa menjadi ujian, akibat dari suatu sebab yang bersifat duniawi, atau memiliki hikmah yang tidak kita ketahui. Karena itu, manusia tidak boleh memastikan maksud Allah di balik suatu musibah tanpa dalil.
Musibah bukan otomatis karma.
Allah SWT berfirman:
“Dan seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.”
(QS al-An'am: 164)
Ayat ini menegaskan bahwa seseorang tidak menanggung dosa orang lain. Karena itu, pertanyaan tentang “karma” tidak tepat jika digunakan untuk menghubungkan tragedi yang menimpa anggota keluarga Nabi Muhammad SAW seolah-olah penderitaan satu orang merupakan balasan atas perbuatan orang lain.
Sebab Harus Berdalil
Islam tidak menolak sebab-akibat. Allah SWT menciptakan kehidupan dengan berbagai sebab dan akibat. Namun, manusia tidak boleh seenaknya menentukan bahwa suatu tragedi tertentu pasti merupakan akibat dari dosa atau kesalahan tertentu.
Untuk mengatakan, “Ini terjadi karena itu,” diperlukan dasar. Tidak cukup hanya karena dua peristiwa terjadi berurutan, berdekatan, atau tampak memiliki hubungan.
Terlebih lagi, menghubungkan penderitaan seseorang dengan kesalahan anggota keluarganya membutuhkan dalil yang jelas. Tanpa dalil, itu hanya dugaan.
Demikian pula, klaim bahwa Fatimah putri Nabi Muhammad SAW “mati menderita dikarenakan sakit batin” tidak bisa begitu saja dipastikan sebagai fakta sebab-akibat tanpa dasar riwayat yang dapat dipertanggungjawabkan. Apalagi jika klaim tersebut kemudian digunakan untuk membangun kesimpulan tentang “karma” keluarga Nabi.
Itu bukan cara Islam menetapkan hukum Allah SWT.
Islam Tetap Sempurna
Yang perlu dibedakan adalah Islam dan sejarah kaum Muslim. Islam bersumber dari wahyu Allah SWT. Sementara manusia bisa taat dan bisa pula menyimpang.
Allah SWT berfirman:
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian...”
(QS al-Ma'idah: 3)
Maka, kesalahan manusia tidak mengurangi kebenaran Islam sedikit pun. Islam tidak menjadi benar karena semua Muslim benar, dan Islam tidak menjadi salah karena ada Muslim yang berbuat salah.
Islam benar. Islam sempurna.
Karena itu, rangkaian tragedi tersebut tidak menjadikan sejarah Islam awal sebagai sesuatu yang “membingungkan” dalam pengertian bahwa Islamnya yang bermasalah. Yang perlu dipahami adalah bahwa sejarah kaum Muslim berisi ketaatan sekaligus penyimpangan manusia. Keduanya harus dinilai dengan standar Islam.
Justru Islamlah yang menjadi ukuran untuk menilai setiap perbuatan manusia. Maka, tragedi Umar, Utsman, Ali, Aisyah, Fatimah, Hasan, dan Husain ra. harus dibaca sebagai peristiwa sejarah yang dilakukan dan dialami manusia, bukan sebagai ajaran yang bersumber dari Islam.
Jangan menyebutnya karma. Jangan pula menetapkan sebab-akibat tanpa dalil. Dan jangan mencampurkan sejarah penyimpangan manusia dengan ajaran Islam yang sempurna.
Sebab persoalannya sederhana: Islam adalah standar untuk menilai sejarah kaum Muslim; sejarah kaum Muslim bukan standar untuk menilai Islam.[]
Depok, 20 Rabiul Awal 1448 H | 2 September 2026 M
— Joko Prasetyo | Jurnalis

.jpeg)
0 Komentar