Banyak Teman, Banyak Koneksi, Mengapa Masih Merasa Sendirian?
Mutiaraumat.com -- Kita hidup di zaman ketika manusia semakin mudah terhubung. Ada telepon pintar, media sosial, berbagai komunitas, kampus, tempat kerja, hingga ruang-ruang publik yang selalu ramai. Namun, di tengah keramaian itu, tidak sedikit generasi muda yang justru merasa sendirian.
Kesepian hari ini bukan sekadar persoalan tidak memiliki teman. Ia dapat menjadi gambaran dari keterasingan yang lebih dalam: seseorang dikelilingi banyak manusia, tetapi tidak menemukan tempat untuk mencurahkan beban; memiliki banyak koneksi di dunia maya, tetapi tidak memiliki ikatan yang menguatkan ketika menghadapi persoalan hidup.
Fenomena ini Patut Menjadi Perhatian Serius.
Pada 10 September 2026, seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya berinisial RR (19) diduga melakukan percobaan bunuh diri dengan melompat dari lantai enam gedung kampus. RR selamat dan menjalani perawatan, sementara polisi masih mendalami motif kejadian tersebut.
Beberapa hari sebelumnya, seorang pria berinisial FS (30) ditemukan meninggal dunia di kawasan Gelora Bung Karno, Jakarta Pusat. Polisi menyebut FS diduga meninggal akibat bunuh diri. Sebelumnya, FS sempat mengunggah pesan perpisahan dan mengunggah bukti donasi Rp40 juta yang diberikan kepada komunitas kesehatan mental serta rumah singgah hewan.
Kasus-kasus tersebut semakin mengkhawatirkan jika diletakkan dalam konteks data layanan kesehatan mental. Sepanjang 31 Juli 2025 hingga 31 Juli 2026, Healing119.id mencatat 15.979 orang mengakses layanan. Dari jumlah itu, 3.036 orang tercatat memiliki keinginan mengakhiri hidup. Kelompok usia 21–30 tahun mendominasi dengan 54,08 persen, disusul usia 11–20 tahun sebesar 33,04 persen. Kementerian Kesehatan juga menyebut keluhan kesepian banyak ditemukan pada kelompok usia muda.
Bukan Sekadar Persoalan Individu
Tentu, tidak tepat menyimpulkan bahwa setiap kasus bunuh diri disebabkan oleh satu faktor. Masalah kesehatan mental memiliki banyak kemungkinan penyebab, seperti tekanan keluarga, persoalan relasi, kondisi ekonomi, pengalaman traumatis, perundungan, tekanan akademik, maupun kondisi psikologis tertentu.
Namun, pertanyaan yang lebih besar tetap layak diajukan: mengapa semakin banyak anak muda merasa begitu berat menghadapi kehidupan?
Dalam perspektif Islam, manusia tidak hanya dipandang sebagai makhluk yang mengejar kesuksesan duniawi. Manusia memiliki tujuan penciptaan, yaitu beribadah kepada Allah. Kehidupan dunia dipahami sebagai tempat ujian, sementara kehidupan akhirat merupakan kehidupan yang sebenarnya.
Ketika pemahaman semacam ini tidak menjadi dasar kehidupan, ukuran keberhasilan mudah bergeser. Sukses dapat dipersempit menjadi prestasi, karier, pendapatan, popularitas, penampilan, atau pencapaian pribadi. Kegagalan dalam satu bidang akhirnya terasa seperti kegagalan hidup secara keseluruhan.
Budaya yang sangat menekankan pencapaian individu juga dapat memperkuat kecenderungan seseorang untuk memikul beban sendirian. Semangat untuk mandiri dan “menjadi versi terbaik dari diri sendiri” pada dasarnya tidak selalu buruk. Namun, ketika dibarengi dengan budaya yang semakin asosial, hubungan antarmanusia dapat berubah menjadi hubungan yang transaksional dan dangkal.
Orang didorong untuk mengejar targetnya masing-masing. Pendidikan diarahkan pada kompetisi dan pencapaian. Kehidupan ekonomi membuat manusia sibuk mempertahankan penghidupan.
Media sosial menghadirkan standar keberhasilan yang terus-menerus dibandingkan. Akhirnya, seseorang bisa terlihat baik-baik saja di hadapan banyak orang, tetapi menyimpan persoalan yang tidak pernah diketahui siapa pun.
Di sinilah kritik terhadap sekularisme dan kapitalisme menjadi relevan sebagai salah satu perspektif untuk membaca persoalan.
Sekularisme memisahkan agama dari pengaturan kehidupan publik, sehingga agama cenderung ditempatkan pada wilayah personal. Sementara kapitalisme menempatkan kepemilikan dan aktivitas ekonomi sebagai bagian penting dalam pengaturan kehidupan masyarakat.
Dari sudut pandang Islam, pemisahan agama dari kehidupan tersebut bermasalah karena Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga hubungan manusia dengan sesama dan pengelolaan kehidupan masyarakat.
Islam dan Ketahanan Jiwa
Islam membangun ketahanan manusia dari fondasi akidah. Seorang Muslim ditanamkan keyakinan bahwa hidup memiliki tujuan, setiap kesulitan berada dalam pengetahuan Allah, dan setiap ujian memiliki nilai di sisi-Nya.
Allah berfirman:
«“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”
(QS. Al-Baqarah: 286)»
Keyakinan ini bukan berarti Islam mengajarkan manusia mengabaikan persoalan psikologis atau menolak bantuan profesional. Justru ketika seseorang mengalami tekanan berat, mencari pertolongan merupakan bagian dari ikhtiar.
Islam juga memberikan batas yang tegas bahwa kehidupan manusia memiliki kehormatan. Bunuh diri bukan jalan keluar dari persoalan. Larangan tersebut menjadi bagian dari penjagaan terhadap jiwa sekaligus pengingat bahwa kehidupan adalah amanah dari Allah.
Namun, ketahanan jiwa tidak cukup dibangun hanya pada tingkat individu. Islam juga membangun hubungan sosial melalui keluarga, ukhuwah, kepedulian terhadap tetangga, kewajiban menolong orang yang membutuhkan, serta berbagai mekanisme sosial yang mencegah seseorang terlepas sendirian dari komunitasnya.
Dengan demikian, persoalan kesepian tidak hanya dijawab dengan mengatakan kepada seseorang, “Kamu harus kuat.” Masyarakat juga perlu bertanya: apakah kita sudah menjadi lingkungan yang membuat orang lain merasa aman untuk bercerita dan meminta pertolongan?
Membangun Kehidupan yang Menjaga Manusia
Dalam perspektif sistem Islam yang ditawarkan oleh pemikiran politik Islam, negara memiliki tanggung jawab lebih luas daripada sekadar menyediakan layanan ketika masalah sudah terjadi. Negara dipandang bertanggung jawab menciptakan lingkungan kehidupan yang mendukung penjagaan agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta.
Pendidikan berbasis akidah diarahkan untuk membentuk manusia yang memahami tujuan hidup, bukan semata-mata mengejar nilai dan pekerjaan. Sistem ekonomi diarahkan pada pemenuhan kebutuhan masyarakat dan pencegahan eksploitasi.
Keluarga dan masyarakat diperkuat agar memiliki fungsi sosial yang nyata. Negara juga berkewajiban menyediakan pelayanan kesehatan, termasuk layanan kesehatan jiwa, bagi masyarakat.
Dalam kerangka Khilafah, seluruh pengaturan tersebut ditempatkan dalam penerapan syariat Islam secara menyeluruh. Ini merupakan konstruksi normatif dalam pemikiran politik Islam yang perlu dikaji berdasarkan sumber-sumber syariat dan dibandingkan secara kritis dengan sistem politik yang ada.
Pada akhirnya, kasus-kasus anak muda yang mengalami keputusasaan seharusnya tidak berhenti sebagai berita yang lewat di layar ponsel. Ia semestinya menjadi bahan muhasabah bersama.
Sebab, mungkin persoalannya bukan karena generasi muda terlalu lemah. Bisa jadi mereka sedang tumbuh dalam lingkungan yang menuntut mereka menjadi kuat, tetapi tidak cukup memberi mereka alasan untuk bertahan; menuntut mereka sukses, tetapi tidak selalu mengajarkan makna kesuksesan; menghubungkan mereka dengan ribuan orang, tetapi tidak selalu menghadirkan seseorang yang benar-benar hadir ketika mereka jatuh.
Kesepian di tengah keramaian adalah alarm. Ia mengingatkan bahwa manusia tidak cukup hanya membutuhkan koneksi, tetapi juga membutuhkan makna, kasih sayang, keluarga, masyarakat, dan keyakinan yang memberikan arah kehidupan.
Karena itu, membangun generasi yang tangguh tidak cukup dengan mengajarkan mereka cara menghadapi tekanan. Yang lebih mendasar adalah membangun lingkungan kehidupan yang membantu mereka memahami untuk apa mereka hidup, kepada siapa mereka bergantung, dan bahwa ketika mereka berada dalam kesulitan, mereka tidak harus menghadapinya seorang diri.[]
Oleh: Nur Hidayah
(Aktivis Muslimah)
0 Komentar