Angka Bullying Tinggi, Sekularisme Gagal Islam Solusi


MutiaraUmat.com -- Bullying masih menjadi cerita yang belum berakhir. Bahkan kasusnya terus bertambah dari berbagai wilayah yang berbeda. Setiap tahun, ada saja kasus bullying yang muncul ke permukaan mulai dari tindakan bullying ringan hingga menghilangkan nyawa. Mirisnya, setiap kasus akan terungkap sebab viral di media sosial. 

Belum hilang dari ingatan kita kasus dugaan penganiayaan berat yang menimpa tiga santri disalah satu pondok pesantren (ponpes) di Desa Mantang, Kecamatan Batukliang, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB). Akibat insiden pembakaran tersebut, dua santri mengalami luka bakar parah di sekujur tubuh, sementara satu santri lainnya dilaporkan meninggal dunia pada bulan Ramadhan 2026 lalu. (Kompas.com, 5/6/2026)

Bahkan lebih mengejutkan lagi, data PISA 2025 mengungkap 24 persen siswa Indonesia mengalami bullying beberapa kali dalam sebulan. Lebih tinggi dari rata-rata negara OECD (20 persen). Dengan rincian 15,2% dijadikan bahan lelucon, 11,6% korban rumor buruk, 7% perundungan siber, 5,6% dipukul atau didorong, dan 3,2% diancam. (detik.com, 9/9/2026)

Data-data ini merupakan bukti tak terbantahkan tentang cermin buruk sistem pendidikan sekuler dinegeri ini. Sekularisme membuat individu dan keluarga jauh dari Islam sehingga anak tumbuh tanpa benteng keimanan, tidak ada yang mencegah seseorang menyakiti orang lain. Bahkan tidak jarang membiarkan bullying dipertontonkan dan direkam. Masyarakat yang terbentuk dalam sistem Sekulerime Kapitalisme bersikap permisif, individualistik dan tidak peduli. Bullying dinormalisasi karena orang-orang merasa "bukan urusan saya” atau “yang penting bukan saya dan keluarga yang dibully”. Ketidakperdulian ini mengakibatkan kerusakan. 

Negara yang menerapkan Sekularisme Kapitalisme tentu saja akan melahirkan sistem pendidikan sekuler yang menjauhkan generasi dari berkepribadian Islam dan tidak ada sanksi tegas bagi pelaku bullying bahkan pelaku di bawah 17 tahun pun dilindungi. Sekularisme telah menggerus kepribadian generasi menjadi generasi yang rusak. Berbagai potret buram menghiasi generasi kita tidak hanya bullying tetapi juga begal, narkoba, seks bebas dan lain-lain. Semua ini akibat buruk dari penerapan sekularisme yang menjauhkan agama dari kehidupan. Dalam sekularisme, agama hanya lah ruang pribadi bagi siapa yang ingin mendalaminya. Aturan agama dijauhkan dari ranah kehidupan dan digantikan dengan aturan manusia. Tentu saja manusia tidak akan mampu membuat aturan yang baik bagi manusia lain. Sebab manusia bersifat terbatas. Oleh sebab itu, selama sekulerisme menjadi dasar kehidupan. Berbagai persoalan tidak akan selesai hingga ke akar nya, sebab yang menjadi akar permasalahan adalah diterapkan nya sekularisme itu sendiri.

Islam membangun akidah sebagai fondasi kepribadian individu dan keluarga sejak dini. Anak yang tumbuh dengan keimanan yang kokoh akan menjadikan taqwa sebagai kendali dalam setiap perilakunya. Keluarga berperan besar dalam menguatkan akidah anak sebab akidah merupakan pondasi awal untuk membentuk keluarga yang memiliki keimanan kuat. Allah SWT berfirman, "Wahai orang-orang yangvberiman jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu” (TQS. At-Tahrim : 6).

Selain peran keluarga yang menjadi dasarnya, Islam juga membangun masyarakat yang peduli dan beramar makruf nahi mungkar, tidak permisif dan tidak membiarkan kezaliman terjadi di depan mata. Setiap anggota masyarakat memiliki tanggung jawab untuk saling menjaga dan menasehati semata-mata karena dorongan akidah dan taat kepada Allah. Selain itu, negara Khilafah yang menerapkan sistem pendidikan berbasis akidah dan sanksi tegas (uqubat) zawajir dan jawabir bagi pelaku bullying. Tiada area usia abu-abu karena setiap Muslim yang telah baligh wajib menanggung taklif atas perbuatannya. Tindakan tegas ini tentu akan sangat membantu menekan angka tingginya kasus bullying. Sistem pendidikan Islam yang diterapkan akan melahirkan generasi yang berkepribadian dan berakhlak mulia, beriman kepada Allah SWT. Penerapan sistem kehidupan Islam (Khilafah) akan mengontrol berjalannya fungsi keluarga, masyarakat dan negara untuk menciptakan masyarakat yang baik, taat pada syariat serta meraih keberkahan hidup dari Allah SWT. 

Untuk itu, solusi untuk menyelesaikan tingginya kasus bullying hanya dengan menerapkan sistem kehidupan Islam yaitu penerapan syariat Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan.

Wallahu a’lam bishshawab.[]


Oleh: Pipit Ayu
Aktivis Muslimah

0 Komentar