Tetap Berdakwah, Jangan Kalah oleh Hujatan, Istiqamahlah dengan Keimanan
Mutiaraumat.com -- Ada masa ketika berdakwah terasa seperti lari maraton, tetapi garis finisnya tidak kelihatan. Sudah menulis panjang, yang datang malah komentar, “Kena Cuci otak lu!”
Sudah bicara pakai dalil, dibalas, “Primitif!” Sudah menjelaskan dengan santun, tetap saja dicap fanatik. Ya sudah, selow saja.
Sebab kita berdakwah bukan karena yakin semua orang akan menerima. Kita berdakwah karena ingin menjalankan kewajiban dan karena mencintai sesama manusia.
Kita tidak ingin melihat manusia hidup tanpa arah, keluarga kehilangan pegangan, anak-anak tumbuh tanpa batas halal-haram, sementara kebebasan dijadikan alasan untuk membenarkan apa saja.
Cendekiawan Muslim Ustaz Ismail Yusanto pernah menyampaikan nasihat yang dalam, “Kekuatan hanya sebab, bukan penentu keberhasilan dakwah. Penentu itu ada di tangan Allah Swt. melalui pertolongan-Nya (nashrullah).”
(tintasiyasi.id, 13/8/2026)
Kalimat ini penting untuk siapa pun yang sedang lelah berdakwah. Kita tetap wajib menyusun strategi. Harus belajar. Harus punya ilmu. Harus memperbaiki cara bicara. Harus menyampaikan dengan argumen yang kuat dan akhlak yang baik.
Tetapi jangan pernah mengira hasil sepenuhnya berada di tangan kita.
Kita menyampaikan, Allah yang membukakan hati.
Kita menanam, Allah yang menumbuhkan.
Kita mengetuk pintu, Allah yang menentukan kapan pintu itu terbuka.
Bukankah Rasulullah Saw sendiri tidak dapat memberikan hidayah kepada orang yang beliau cintai?
Allah Swt berfirman,
“Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.” (QS Al-Qashash: 56)
Maka jangan ukur keberhasilan dakwah hanya dari jumlah like, komentar, atau orang yang langsung berubah setelah membaca tulisan kita.
Kalau ukuran kita adalah pujian manusia, satu hujatan saja bisa membuat kita berhenti.
Kalau ukuran kita adalah viral, kita akan mudah kecewa ketika jangkauan turun. Tetapi kalau ukuran kita adalah ridha Allah, kita akan belajar istiqamah meski tidak selalu dipuji.
Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menekankan pentingnya pengemban dakwah memiliki kesungguhan dalam menjalankan kewajiban dakwah dan menjadikan aktivitasnya berorientasi kepada Allah.
Artinya, dakwah bukan panggung untuk mencari tepuk tangan, melainkan jalan perjuangan yang membutuhkan kesabaran, ilmu, keberanian dan keikhlasan dan dakwah sejatinya adalah bentuk cinta.
Sobat Nabila, kalau melihat orang berjalan menuju jurang, masa kita bilang, “Terserah kamu, itu pilihan hidupmu.” (sambil tutup mata, tutup telinga)
Kalau kita bisa mengingatkan, kita ingatkan. Bukan karena merasa paling suci. Bukan karena merasa sudah sempurna. Tetapi karena kita ingin sama-sama selamat.
Kita mengingatkan tentang bahaya narkoba karena tidak ingin generasi rusak. Kita mengingatkan tentang miras karena tidak ingin akal dan kehidupan hancur.
Kita mengingatkan tentang seks bebas karena tidak ingin kehormatan manusia direndahkan.
Kita mengingatkan tentang berbagai penyimpangan nilai karena kita percaya manusia membutuhkan batas. Sebab kemajuan teknologi tidak otomatis membuat manusia semakin mulia.
Manusia bisa menciptakan kecerdasan buatan, tetapi tetap bisa kehilangan kendali atas hawa nafsunya. Bisa membangun gedung setinggi langit, tetapi belum tentu mampu membangun keluarga yang sehat.
Bisa berbicara tentang kebebasan, tetapi justru terjebak dalam narkoba, perjudian, miras, eksploitasi seksual dan berbagai kerusakan sosial.
Jadi jangan buru-buru menganggap semakin jauh dari agama berarti semakin maju. Teknologi boleh maju. Ilmu pengetahuan harus berkembang. Tetapi manusia tetap membutuhkan petunjuk dari Penciptanya.
Sebab kecerdasan menjawab tantangan zaman, sementara wahyu memberikan arah tentang darimana berasal, untuk apa dan ke mana hidup sesudah mati.
Karena itu, ketika kita dihujat kena cuci otak, primitif, tukang mimpi. Ya sudah, tinggal minum kopi aja dulu.
Tidak perlu membalas setiap komentar dengan kemarahan.
Jawab dengan ilmu dan santun
Kalau tidak perlu, ya diskip.
Jangan sampai karena ingin mengajak orang menuju kebaikan, kita justru kehilangan akhlak dalam prosesnya. Tetaplah menyampaikan kebenaran dengan cara yang makruf.
Ada tulisan yang langsung diterima. Ada yang ditolak.
Ada yang dicaci hari ini, tetapi mungkin dipikirkan bertahun-tahun kemudian. Kita tidak pernah tahu kalimat mana yang Allah jadikan sebab seseorang berubah.
Maka jangan remehkan satu tulisan, satu nasihat. satu percakapan dan satu doa.
Bisa jadi kita merasa hanya menanam benih kecil, sementara Allah sedang menyiapkan pohon besar yang kelak memberi teduh kepada banyak orang. Itulah nashrullah.
Pertolongan Allah tidak selalu datang dalam bentuk yang kita bayangkan. Kadang berupa terbukanya hati seseorang. Kadang berupa kekuatan untuk tetap istiqamah. Kadang berupa dipertemukannya kita dengan orang-orang baik. Kadang berupa kemampuan untuk tetap tersenyum ketika dihujat.
Tugas kita adalah berusaha sebaik mungkin. Hasilnya? Serahkan kepada Allah. Maka kepada siapa pun yang sedang lelah berdakwah, rapikan niat, tambah ilmu, perbaiki cara, jaga akhlak, tetap bergerak. Jangan berhenti hanya karena komentar manusia.
Lelahmu, jadikan lillah.
Tulisanmu, jadikan lillah.
Nasihatmu, jadikan lillah.
Kesabaranmu menghadapi hujatan, jadikan lillah.
Sebab kalau semuanya dilakukan karena Allah, maka tidak ada perjuangan yang benar-benar sia-sia.[]
Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis)
0 Komentar