Tekanan Ekonomi, Konsumtivisme, dan Krisis Identitas: Tantangan Gen Z di Era Modern

MutiaraUmat.com -- Lebih dari 48 persen Gen Zilenial (Gen Z) menyatakan tidak merasa aman secara finansial. Angka ini mencerminkan kecemasan generasi muda terhadap ketidakpastian ekonomi, PHK, dan mahalnya biaya hidup di tahun 2026.

Di tengah tekanan ekonomi dan PHK massal, alokasi belanja Gen Z untuk self-reward, healing, dan gaya hidup justru terus meningkat. Bagi mereka, ini bukan lagi soal kemewahan. Ini adalah 'kebutuhan emosional' — cara bertahan dari burnout, anxiety, dan rasa tidak aman akan masa depan.

Jebakan Budaya Hedonis:Dari Self Reward hingga FOMO Media Sosial

Sistem Kapitalisme menciptakan tekanan ekonomi yang mengimpit Gen Z. Di satu sisi biaya hidup terus naik, seperti sewa kos, makan, pendidikan, dan kesehatan. Di sisi lain gaji stagnan dan lapangan kerja tidak sebanding. Di tengah itu, negara lepas tangan dari kewajiban menjamin kebutuhan dasar. Akibatnya, generasi muda dipaksa berjuang sendirian. Mereka harus jadi pekerja, investor, content creator, sekaligus 'terapis' bagi dirinya sendiri hanya untuk bertahan hidup.

Tekanan ekonomi itu diperparah oleh gaya hidup sekuler-liberal yang menanamkan prinsip: 'hidup cukup sekali, nikmati sekarang'. Akibatnya, self-reward, healing, dan konsumsi hedonis dijadikan 'solusi' pelarian dari stres kerja dan masa depan yang tidak pasti. Di saat yang sama, media sosial terus mencekoki generasi dengan tren populer. Dari kopi Rp40.000, konser, sampai outfit OOTD. Algoritmanya memicu FOMO dan budaya belanja impulsif, maka jadilah lingkaran setan. Gaji habis untuk menenangkan diri, lalu stres lagi karena uang habis. (Kompas.Com 21/08/2026).


Akar Krisis:Ketika Generasi Kehilangan Tujuan Hidup

Di balik fenomena tekanan ekonomi dan konsumerisme, terdapat krisis fundamental yang melanda Gen Z, yaitu krisis makna dan tujuan hidup. Lemahnya pemahaman mengenai hakikat penciptaan manusia menyebabkan orientasi kebahagiaan bergeser. Kebahagiaan tidak lagi berlandaskan pada nilai-nilai transendental seperti ridha Allah dan kemuliaan Islam, melainkan direduksi menjadi pemenuhan kenikmatan material yang bersifat temporer dan hedonistik.


Khilafah:Institusi Negara Penerapan Syariat untuk Kesejahteraan Rakyat

Negara Khilafah menerapkan prinsip jaminan kebutuhan pokok bagi seluruh rakyat. Mekanismenya adalah melalui pengelolaan Sumber Daya Alam yang termasuk milik umum oleh negara, sebagaimana ditetapkan dalam syariat. Pendapatan dari SDA tersebut kemudian didistribusikan untuk pemenuhan kebutuhan dasar dan penyediaan layanan publik. Di sisi lain, negara berkewajiban menciptakan dan memastikan ketersediaan lapangan kerja yang layak bagi setiap laki-laki. Dengan demikian, beban ekonomi tidak dilimpahkan sepenuhnya kepada individu, sehingga rakyat, termasuk Gen Z, tidak akan berjuang sendirian menghadapi kerasnya kehidupan.

Islam tidak membiarkan generasi tumbuh tanpa pagar. Islam menutup pintu gaya hidup hedonis dari akarnya melalui hukum dan pendidikan. Kenikmatan tidak dilarang, tetapi diletakkan pada tempatnya untuk menguatkan ibadah, bukan melalaikan. Islam juga melindungi generasi dari paparan konten merusak seperti sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan, kapitalisme yang mengukur sukses dengan harta, dan turunannya seperti liberalisme dan individualisme. Dalam Khilafah, media tidak diserahkan ke pasar. Media akan diarahkan negara untuk tiga fungsi, yaitu edukasi, informasi yang benar, dan meningkatkan ketakwaan rakyat. Sehingga yang masuk ke otak generasi adalah ilmu, iman, dan semangat membangun peradaban.

Islam membangun paradigma yang benar tentang hakikat hidup manusia. Allah berfirman: 'Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku' QS. Adz-Dzariyat: 56. Artinya, hidup bukan untuk menumpuk harta, bukan untuk validasi, dan bukan untuk hedon, tetapi hidup adalah misi. Dengan akidah yang kokoh ini, generasi tidak akan mudah goyah. Mereka tidak akan mengukur sukses dari gaji dan followers. Sebaliknya, mereka akan memiliki visi besar, yakni menjadi pembangun peradaban Islam. Generasi yang kerjanya ibadah, sekolahnya jihad ilmu, dan hidupnya untuk memuliakan Islam.

Oleh: Saufinah
Praktisi Pendidikan

0 Komentar