Sekolah Tak Lagi Aman: Perundungan Berdarah Buah Sistem Sekuler
MutiaraUmat.com -- Kasus dugaan perundungan yang menimpa seorang siswa MTs Islam Wangunrejo, Pati, sungguh memprihatinkan. Seorang siswa kelas VII diduga dikeroyok tiga kakak kelasnya hingga berusaha menyelamatkan diri dengan memanjat pagar sekolah. Dalam upaya tersebut, korban dilaporkan mengalami luka berat hingga dua ruas jarinya terputus. Jika fakta ini terbukti melalui proses hukum, maka peristiwa tersebut bukan sekadar kenakalan remaja, melainkan alarm serius atas krisis keamanan dan pembinaan karakter di lingkungan pendidikan (Tribun, 03/08/2026)
Fenomena perundungan bukan lagi kasus yang berdiri sendiri. Berulang kali muncul kekerasan antarsiswa, tawuran, pelecehan, hingga tindak kriminal di lingkungan sekolah. Ironisnya, sekolah yang semestinya menjadi tempat menuntut ilmu dan membentuk akhlak justru berubah menjadi ruang yang membuat sebagian anak merasa takut. Hal ini menunjukkan bahwa persoalan tidak cukup diselesaikan dengan mediasi, sanksi administratif, atau kampanye anti-bullying semata.
Akar masalahnya adalah sistem pendidikan sekuler yang memisahkan pembentukan akidah dan akhlak dari tujuan utama pendidikan. Keberhasilan sekolah lebih sering diukur melalui nilai akademik, prestasi, atau indikator administratif, sementara pembinaan kepribadian Islam tidak menjadi fondasi. Di sisi lain, sistem kapitalisme mendorong budaya individualisme, kompetisi tanpa empati, normalisasi kekerasan melalui media digital, serta lemahnya perhatian terhadap kesehatan mental dan pembinaan karakter generasi. Akibatnya, sebagian remaja kehilangan rasa takut kepada Allah dan menganggap kekerasan sebagai cara menyelesaikan persoalan.
Islam memandang pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, tetapi pembentukan kepribadian yang berlandaskan akidah Islam. Sekolah, keluarga, dan negara memiliki tanggung jawab bersama membentuk generasi yang berilmu, bertakwa, serta menghormati nyawa dan kehormatan sesama manusia. Negara juga wajib menyediakan sistem pendidikan yang menanamkan akhlak mulia serta menegakkan hukum secara adil terhadap setiap bentuk kekerasan agar memberi efek jera dan melindungi korban.
Allah SWT berfirman:
"Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa." (TQS. Al-Ma'idah: 8).
Rasulullah ï·º bersabda:
"Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya." (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Beliau juga bersabda:
"Tidak boleh menimbulkan bahaya bagi diri sendiri maupun orang lain." (HR. Ibnu Majah).
Kasus di Pati hendaknya menjadi momentum evaluasi menyeluruh terhadap arah pendidikan nasional. Selama pendidikan dibangun di atas paradigma sekularisme dan kapitalisme yang mengabaikan pembinaan akidah serta akhlak, kekerasan di sekolah akan terus berulang dalam berbagai bentuk. Islam menawarkan sistem pendidikan yang menempatkan pembentukan kepribadian sebagai tujuan utama, didukung keluarga yang kokoh, masyarakat yang peduli, dan negara yang menjalankan amanah untuk melindungi setiap anak dari kezaliman.
Wallahu a'lam bishshawab.[]
Oleh: drh. Mei Widiati, M.Pd.
(Pemerhati Pendidikan dan Kesehatan)
0 Komentar