Rapuhnya Generasi Z di Tengah Krisis Identitas

MutiaraUmat.com -- Menurut survei secara global, 48 persen Generasi Zilenial merasa tidak aman secara finansial. Angka ini bukan sekadar statistik, tetapi wakil dari jutaan jiwa muda yang bangun setiap pagi dengan kecemasan akan biaya hidup yang terus meroket, persaingan validasi di media sosial, harga pangan yang tidak murah, hingga ketidakmampuan menabung untuk masa depan. Suara netizen Indonesia, (18/8/2026).

Di tengah tekanan ekonomi dan kondisi lapangan pekerjaan yang sulit, generasi ini dipaksa masuk ke dunia kerja dengan jaminan kontrak yang minim dan gaji bulanan yang pas-pasan, sementara alokasi belanja mereka untuk kebutuhan yang bukan kebutuhan pokok terus meningkat, self-reward, healing, terjebak budaya hedonis, hingga gaya hidup yang terus meningkat dianggap sebagai kondisi yang harus terus dilaksanakan oleh Gen Z. Maka, tak heran jika generasi ini dilabeli dengan generasi malas dan generasi yang terobsesi validasi di media sosial.

Gen Z adalah generasi yang terimpit di antara tiga ideologi, yakni kapitalisme, sosialisme, dan Islam. Ideologi kapitalisme yang saat ini mendominasi dunia, menganggap bahwa manusia adalah alat produksi sekaligus konsumen. Negara yang seharusnya berfungsi sebagai ra'in (pengurus) yang menjamin kebutuhan dasar rakyat, justru melepaskan diri dari tanggung jawabnya. Sehingga, pendidikan kesehatan, keamanan, dan lapangan kerja diserahkan kepada mekanisme pasar yang kejam. Mereka dipaksa membeli kebahagiaan yang sebenarnya bukan merupakan kebutuhannya.

Akibatnya, Gen Z tumbuh dengan pemahaman bahwa mengejar validasi untuk bertahan hidup adalah prestasi yang tertinggi. Mereka tidak dididik untuk berempati memikirkan dan membangun peradaban, melainkan diajarkan untuk bersaing agar tidak tergilas. Kondisi itu diperparah oleh gaya hidup sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan, sehingga standar kebahagiaan dan kesuksesan hanya diukur berdasarkan nilai materinya. 
Manusia adalah materi yang tujuan hidupnya adalah memaksimalkan kenikmatan duniawi tanpa memikirkan benar dan salah, baik atau buruk.

Dari sinilah lahir budaya hedonis yang dibungkus dengan bahasa penuh cinta seperti self-love, healing, dan mental health awareness. Menjaga kesehatan mental itu penting, tetapi dalam bingkai kapitalisme sekularisme saat ini, sehat berarti mampu menikmati dunia sebanyak-banyaknya. Media sosial menjadi wadah utama ideologi ini untuk terus-menerus membanjiri Gen Z dengan konten-konten unfaedah yang menjadi tren, keinginan flexing hingga  menyebabkan banyak generasi terjerat pinjol, standar kecantikan yang diagungkan, ditambah algoritma yang didesain untuk memicu kondisi FOMO (Fear of Missing Out), yaitu rasa cemas atau takut ketinggalan tren yang ada di tengah-tengah generasi saat ini.

Situasi ini menegaskan bahwa kondisi tersebut bukanlah sekadar krisis moral individu semata, melainkan krisis sistemik yang sudah disusun sedemikian rupa, sehingga generasi menganggap bahwa hidup ini harus dinikmati dengan cara apa pun. Masalah hubungan dengan Sang Pencipta ada pada ranah masing-masing individu.
Gen Z tidak memahami tujuan hidupnya, mereka diajarkan bahwa hidup adalah kesempatan untuk mencari jati diri, maka kebahagiaan hanya diukur dari kenikmatan materi sesaat, bukan dari ridha Allah dan kemuliaan dirinya di hadapan Allah Swt.

Allah Swt., berfirman di dalam Al-Qur'an surah Adz-Dzariyat: 56

 ÙˆَÙ…َا Ø®َÙ„َÙ‚ْتُ الْجِÙ†َّ ÙˆَالْاِÙ†ْسَ اِÙ„َّا Ù„ِÙŠَعْبُدُÙˆْÙ†ِ ۝٥٦
 
"Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku."

Penghambaan seorang mahluk kepada Rabb-nya adalah dengan mentaati segala perintah dan larangan-Nya, termasuk bagaimana Allah memerintahkan seorang imam atau pemimpin untuk mengurusi rakyatnya dengan baik. Islam membentuk generasi yang bertakwa kepada Allah Swt., melalui pembinaan, maka seorang pemimpin tentu tidak akan membiarkan generasinya rusak bersamaan dengan arus kehidupan yang berjalan karena ia tahu betul bagaimana tanggung jawabnya kelak di hadapan Rabb-nya.

Negara akan menutup pintu gaya hidup hedonis dan melindungi generasi dari konten yang merusak, negara akan mengelola SDA sesuai dengan syariat Islam sehingga kesejahteraan rakyat akan dirasakan secara merata di seluruh pelosok negeri. Imam atau Khalifah akan menerapkan syariat secara total karena negara bukanlah regulator bagi para pengusaha, melainkan  pengurus aktif (ra'in) yang bertanggung jawab penuh atas urusan rakyatnya.

Anita Octavia Mayasari 
Aktivis Muslimah

0 Komentar