Jangan Samakan Wahyu dengan Dongeng


(Catatan atas status Luthfi Assyaukanie yang menyandingkan kisah-kisah mukjizat dengan mitologi)

MutiaraUmat.com -- Bagi seorang ateis, semua mukjizat memang tampak seperti mitos. Sebab sejak awal ia menolak keberadaan Tuhan yang Mahakuasa.

Namun, ketika narasi serupa justru disampaikan oleh Luthfi Assyaukanie, persoalannya menjadi jauh lebih serius. Sebab, pilihan contoh yang digunakannya membuat pembaca sulit menghindari kesimpulan bahwa sasaran kritiknya adalah mukjizat-mukjizat yang dikenal dalam ajaran Islam, meskipun ia tidak menyebut Allah, Al-Qur'an, maupun hadis secara langsung.




Bagi generasi muda, nama Luthfi Assyaukanie mungkin sudah tidak terlalu populer. Namun, pada era 1990-an hingga awal 2000-an, ia dikenal sebagai salah satu tokoh yang paling vokal mengusung pemikiran Islam liberal di Indonesia sekaligus ikut mendirikan Jaringan Islam Liberal (JIL). Karena itu, pandangannya tidak dapat dipisahkan dari paradigma liberal yang menempatkan rasio manusia sebagai tolok ukur dalam menilai ajaran agama.

Pada 2 Agustus 2026, Luthfi Assyaukanie menulis sebuah status di akun Facebook-nya yang menyandingkan kisah-kisah seperti tongkat Nabi Musa yang membelah laut, Maryam yang melahirkan Nabi Isa tanpa ayah, Ashabul Kahfi, dan Isra Mikraj dengan mitologi Yunani. Ia bahkan menutupnya dengan kalimat bahwa orang modern yang masih mempercayai kisah-kisah semacam itu adalah "kurang waras."

Status tersebut memang tidak menyebut Al-Qur'an ataupun Rasulullah SAW. Namun, contoh-contoh yang dipilih justru identik dengan mukjizat yang Allah abadikan dalam Al-Qur'an dan hadis.

Di sinilah letak persoalannya.

Mitos Bukan Mukjizat

Mukzijat berupa tongkat Nabi Musa yang membelah laut, Maryam yang melahirkan Nabi Isa tanpa ayah, Ashabul Kahfi yang tertidur selama ratusan tahun, Isra dan Mikraj Rasulullah SAW oleh Luthfi Assyaukanie diposisikan sejajar dengan kisah Odyssey, lalu diberi kesimpulan bahwa orang yang mempercayainya tidak rasional.

Padahal, menyamakan mukjizat dengan mitologi merupakan kekeliruan mendasar. Odyssey adalah karya sastra. Al-Qur'an adalah kalam Allah. Odyssey lahir dari imajinasi manusia. Al-Qur'an berasal dari wahyu Allah.

Karena itu, sebelum menilai isi Al-Qur'an, terlebih dahulu harus dipastikan sumber Al-Qur'an itu sendiri.

Iman Berawal dari Pembuktian

Islam tidak pernah mengajarkan keimanan yang membuta. Justru Islam mengajak manusia menggunakan akalnya.

Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam Nidzamul Islam (Peraturan Hidup dalam Islam) pada pembahasan Tharīqul Īmān (Jalan Menuju Keimanan) menjelaskan, akal mampu membuktikan asal-usul Al-Qur'an.

Pertanyaannya sederhana. Siapakah pembuat Al-Qur'an? Kemungkinannya hanya tiga. Pertama, Al-Qur'an adalah karya bangsa Arab. Kedua, Al-Qur'an adalah karya Muhammad SAW. Ketiga, Al-Qur'an berasal dari Allah SWT.

Kemungkinan pertama gugur.

Allah sendiri menantang seluruh bangsa Arab untuk membuat satu surah saja yang sebanding dengan Al-Qur'an.

"Dan jika kamu meragukan Al-Qur'an yang Kami turunkan kepada hamba Kami, maka buatlah satu surah yang semisal dengannya..." (QS Al-Baqarah [2]: 23)

Bangsa Arab yang terkenal sebagai ahli sastra tidak mampu menjawab tantangan itu.

Kemungkinan kedua pun gugur.

Muhammad SAW adalah bagian dari bangsa Arab.

Jika seluruh bangsa Arab tidak mampu membuat yang semisal Al-Qur'an, apalagi seorang Muhammad SAW seorang diri.

Maka tinggal satu kemungkinan yang tersisa.

Al-Qur'an berasal dari Allah SWT.

Jika akal telah sampai pada kesimpulan bahwa Al-Qur'an berasal dari Allah, maka seluruh berita yang terdapat di dalamnya pasti benar. Termasuk seluruh berita tentang mukjizat para nabi.

Liberalisme Memang Berawal dari Keraguan

Di sinilah pemikiran liberal menghadapi persoalan. Liberalisme menjadikan akal manusia sebagai hakim atas wahyu. Akibatnya, setiap peristiwa yang melampaui hukum kebiasaan dianggap layak dicurigai, dipertanyakan, bahkan direduksi menjadi mitos.

Sebaliknya, Islam menempatkan akal sebagai alat untuk memahami wahyu, bukan sebagai hakim atas wahyu.

Akal yang sehat justru mengakui bahwa Allah Yang menciptakan hukum alam tentu berkuasa menangguhkan hukum yang Dia ciptakan kapan pun Dia kehendaki.

Itulah hakikat mukjizat.

Mukjizat bukan pelanggaran terhadap kekuasaan Allah. Namun sebagai bukti kekuasaan Allah. Karena itu, menolak mukjizat bukanlah kesimpulan ilmu pengetahuan. Itu hanyalah pilihan filsafat yang menolak intervensi Tuhan dalam alam semesta.

Allah Sendiri Mengabarkannya

Mukjizat yang disinggung dalam status tersebut bukanlah dongeng. Allah SWT sendiri yang mengabarkannya. Tentang tongkat Nabi Musa yang membelah laut, Allah berfirman,

"Lalu Kami wahyukan kepada Musa, 'Pukullah laut itu dengan tongkatmu.' Maka terbelahlah laut itu dan setiap belahan seperti gunung yang besar" (QS ssy-Syu'ara' [26]: 63).

Tentang Maryam yang melahirkan Nabi Isa tanpa ayah,

"Maryam berkata, 'Bagaimana mungkin aku mempunyai anak, padahal tidak ada seorang laki-laki pun yang menyentuhku dan aku bukan seorang pezina?' Jibril berkata, 'Demikianlah. Tuhanmu berfirman, ‘Hal itu mudah bagi-Ku’'" (QS Maryam [19]: 20–21).

Tentang Ashabul Kahfi,

"Dan mereka tinggal dalam gua mereka selama tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun" (QS Al-Kahfi [18]: 25).

Tentang Isra Rasulullah SAW,

"Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda Kami" (QS Al-Isra' [17]: 1).

Adapun Mi'raj diterangkan dalam hadis-hadis sahih riwayat al-Bukhari dan Muslim. Rasulullah SAW memang diperjalankan dengan Buraq, bukan "kuda terbang" sebagaimana diksi yang digunakan dalam status tersebut. Pergantian istilah itu tampak sederhana, tetapi mengubah cara pandang pembaca. Mukjizat yang dijelaskan dalam hadis direduksi menjadi cerita fantasi yang mudah ditertawakan.

Bagi seorang mukmin, semua itu bukan mitos. Semua itu adalah khabar yang datang dari Allah Yang Mahabenar dan penjelasan Rasulullah SAW dalam hadis-hadis sahih.

Narasi Lama Orang Kafir

Menariknya, Al-Qur'an ternyata telah mengabarkan bahwa orang-orang kafir terdahulu juga menggunakan pola pikir yang sama. Mereka menyebut wahyu Allah sebagai asāṭīrul awwalīn (dongeng-dongeng orang terdahulu).

Allah berfirman,

"Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami, mereka berkata, 'Sungguh, kami telah mendengar (ayat-ayat seperti) ini. Kalau kami menghendaki, niscaya kami dapat membacakan yang semisal ini. Ini tidak lain hanyalah dongeng-dongeng orang terdahulu'" (QS al-Anfal [8]: 31).

Allah juga berfirman,

"Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Apakah yang telah diturunkan Tuhanmu?' Mereka menjawab, 'Dongeng-dongeng orang terdahulu'" (QS an-Nahl [16]: 24).

Bahkan mereka berkata,

"Dan mereka berkata, 'Itu hanyalah dongeng-dongeng orang terdahulu yang diminta agar dituliskan, lalu dibacakan kepadanya setiap pagi dan petang'" (QS al-Furqan [25]: 5).

Karena itu, seorang Muslim semestinya berhati-hati agar tidak mengulang narasi yang sama dengan kemasan istilah yang berbeda.

Menyebutnya "mitos", "legenda", atau "kitab kuno" tidak mengubah substansinya apabila yang dimaksud adalah mukjizat yang Allah kabarkan dalam wahyu-Nya.

Jangan Jadikan Akal sebagai Hakim

Bagi seorang mukmin, ukuran kebenaran bukanlah apakah suatu peristiwa sesuai dengan pengalaman manusia. Ukuran kebenaran adalah apakah Allah Yang Mahabenar mengabarkannya.

Allah SWT berfirman,

"Sesungguhnya perumpamaan (penciptaan) Isa di sisi Allah adalah seperti (penciptaan) Adam. Dia menciptakannya dari tanah, kemudian Dia berfirman kepadanya, 'Jadilah!' Maka jadilah ia" (QS Ali 'Imran [3]: 59).

Dan Allah SWT berfirman,

"Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, 'Jadilah!' Maka jadilah ia" (QS Yasin [36]: 82).

Sains mempelajari keteraturan ciptaan Allah. Mukjizat adalah pengecualian yang Allah tampakkan sebagai tanda kenabian. Karena itu, persoalan utamanya bukanlah apakah mukjizat sesuai dengan kebiasaan alam.

Persoalan utamanya adalah: “Apakah Al-Qur'an benar-benar berasal dari Allah?”

Jika jawabannya: “Ya”, maka seluruh berita yang dikandungnya adalah benar.

Jangan pernah menyamakan wahyu dengan dongeng. Sebab ketika wahyu disejajarkan dengan mitologi, yang direndahkan bukan hanya kisah para nabi, melainkan juga otoritas Allah sebagai Al-Haqq, Dzat Yang Mahabenar.

Wallāhu a'lam bi ash-shawāb.[]

Depok, 19 Shafar 1448 H | 3 Agustus 2026 M
Joko Prasetyo | Jurnalis


Nb: Berikut tulisan di akun Facebook Luthfi Assyaukanie

Mitos Odyssey

Para sejarawan dan kaum cendekia berdebat tentang The Odyssey, kitab kuno karangan Homer, apakah isinya semata-mata mitos atau ada aspek historis di dalamnya. Sebagian berpandangan bahwa tokoh dan peristiwa dalam Odyssey benar-benar nyata. Sebagian lainnya mengatakan bahwa Homer sepenuhnya mengarang kisah itu. The Odyssey adalah karya sastra, bukan sejarah.

Kalau kita memakai standar kritis, banyak peristiwa dalam the Odyssey memang penuh dengan kisah mitologis. Pada masanya, ketika manusia masih diliputi kegelapan, peristiwa-peristiwa ganjil itu dianggap nyata. Keganjilan dipandang sebagai mukjizat atau campur tangan dewa. Maka, raksasa bermata satu, pulau yang dihuni penyihir, dan kutukan manusia menjadi babi, dipahami sebagai peristiwa nyata.

Sekarang, jika ada orang yang mempercayai kisah-kisah ganjil dalam Odyssey pastilah ia dianggap kurang waras. Kita hidup di zaman yang penuh dengan penjelasan ilmiah. Jika ada kitab yang bilang manusia kuno berukuran 20 hasta pastilah kitab itu keliru. Karena tidak ada bukti ilmiah spesies manusia yang memiliki ukuran setinggi itu. Begitu juga, kalau ada kitab yang menjelaskan manusia tiba2 bisa menjadi babi, itu hanya dongeng yang dibuat-buat.

Kitab-kitab kuno cenderung berisi mitos-mitos ganjil. Manusia primitif yang belum bersentuhan dengan sains modern cenderung meyakini kebenarannya. Mereka menganggap keganjilan itu sebagai mukjizat dan campur tangan dewa. Ada manusia yang bisa menggunakan tongkat untuk membelah laut, perawan yang melahirkan bayi, kuda terbang ke langit ketujuh, dan manusia tertidur selama ratusan tahun, itu semua diyakini sebagai peristiwa nyata. Keganjilan itu dipandang sebagai campur-tangan dewa.

Tapi, bagi manusia modern, yang mau menggunakan pikirannya dan percaya pada ilmu pengetahuan, kisah-kisah dalam kitab kuno itu hanyalah mitos, alias karangan orang-orang dulu. Hanya orang kurang waras yang masih percaya itu semua sebagai peristiwa nyata.


0 Komentar