Genosida dalam Senyap di Tepi Barat


MutiaraUmat.com -- Darah anak-anak Palestina kembali menggenangi Tepi Barat. Bukan karena perang terbuka. Tapi karena kebijakan genosida dalam senyap yang dibiarkan dunia.

Fakta tidak bisa dibantah. PBB melalui Kantor Hak Asasi Manusia (riau.antarnews.com, 15/8/2026), memverifikasi bahwa dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir, ratusan anak Palestina di Tepi Barat termasuk Yerusalem Timur tewas. Rata-rata lebih dari satu anak mati setiap minggu. Ribuan anak lainnya mengalami luka-luka. Hampir separuhnya terluka karena peluru tajam. Bukan batu. Bukan peluru karet. Tapi peluru yang memang ditujukan untuk membunuh. Ratusan anak Palestina dari Tepi Barat saat ini juga masih mendekam di tahanan militer Israel. Anak-anak. Ditahan dengan tuduhan yang bahkan tidak akan pernah diberikan pada anak-anak mereka sendiri.  

Angka-angka itu bukan statistik. Itu jeritan. Itu masa depan yang dipatahkan. Serangan Zionis Israel bukan insiden. Ini strategi. Setelah Gaza diratakan, sekarang giliran Tepi Barat. Ribuan serangan, pengusiran paksa, perampasan rumah, dan pembunuhan terarah terus terjadi. Targetnya jelas: membuat Palestina kosong dari penghuninya. Dan yang paling brutal, sasarannya adalah anak-anak. Membunuh anak artinya membunuh generasi. Membuat trauma kolektif. Membuat orang tua takut melahirkan harapan. Ini bukan bentrokan. Ini pembantaian sistematis. Biadab dan menjijikkan. Dunia melihat. PBB mencatat. Tapi tidak ada yang bergerak.

Mengapa kejahatan sebesar ini bisa berlangsung begitu lama? Jawabannya karena sistem dunia hari ini dibangun di atas sekularisme dan kapitalisme.

Sekularisme memisahkan agama dari politik. Akibatnya, ukhuwah Islamiyah dicabut dari nadi kebijakan luar negeri-negeri muslim. Palestina bukan lagi urusan akidah. Ia direduksi jadi konflik kemanusiaan yang bisa dinegosiasikan, dikecam, lalu dilupakan.

Kapitalisme menjadikan keuntungan sebagai tuhan. Hubungan dagang, aliansi militer, dan investasi dengan Zionis dianggap lebih mahal harganya daripada darah anak-anak Gaza dan Tepi Barat. Para penguasa muslim lebih takut kehilangan kontrak senjata dan pasar ekspor, daripada takut pada murka Allah karena membiarkan saudara seakidah dibantai.

Maka wajar jika kecaman hanya sebatas pernyataan. Sanksi tidak ada. Tentara tidak dikirim. Batas tidak dibuka. Karena dalam logika kapitalisme-sekuler, Palestina tidak menguntungkan. Inilah buahnya: Zionis semakin brutal karena tahu tidak akan ada konsekuensi. Anak-anak mati, dunia hanya menonton.

Islam tidak mengenal politik pembiaran. Islam memerintahkan membela yang tertindas, apalagi anak-anak.

Allah Swt berfirman:  
"Dan mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan membela orang-orang yang lemah, baik laki-laki, perempuan maupun anak-anak...(TQS. An-Nisa: 75)

Jelas. Membela anak-anak yang tertindas adalah perintah, bukan pilihan.

Rasulullah Saw juga bersabda:  
"Kaum Mukminin dalam kasih sayang, cinta dan belas kasih di antara mereka bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh akan ikut merasakan sakit dan demam." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hari ini tubuh umat Islam demam. Tapi para penguasanya justru memberi aspirin berupa donasi dan doa, bukan obat berupa tentara dan jihad.

Solusi Islam hanya satu: persatuan. Ukhuwah Islamiyah sejati yang menghapus batas-batas nasionalisme penjajah. Darah Palestina adalah darah kita. Penegakan Khilafah sebagai institusi politik Islam yang memiliki tentara, memiliki wibawa, dan memiliki kewajiban melindungi umat. Tidak akan ada lagi anak-anak mati tanpa ada kekuatan yang bergerak membela. Seruan jihad dan pengiriman tentara untuk membebaskan Palestina. Ini bukan retorika. Ini kewajiban syar’i. Harus terus digaungkan oleh partai politik ideologis, ulama, dan umat sampai tanah Palestina benar-benar merdeka.

Jangan lagi bilang kita tidak berdaya. Umat Islam berjumlah miliaran tidak mungkin kalah oleh entitas kecil yang hidup dari belas kasihan Barat. Yang kita tidak punya hari ini adalah pemimpin yang berani menerapkan Islam secara kaffah.

Cukup sudah air mata. Cukup sudah anak-anak jadi korban. Jika hari ini kita diam, maka besok giliran anak-anak kita yang akan ditanya di hadapan Allah: Mengapa kalian biarkan saudaramu dibantai?

Tepi Barat bukan sedang berkonflik. Tepi Barat sedang dijajah dan dibantai. Dan selama sistem sekuler-kapitalis masih berkuasa, maka genosida ini tidak akan pernah berhenti.

Wallahu a’lam bishshawab.[]


Oleh: Faidah Alfiyah
Aktivis Muslimah

0 Komentar