Gen Z Terhimpit Antara Tekanan Ekonomi, Hedonis, dan Krisis Tujuan Hidup


MutiaraUmat.com -- Tercatat lebih dari 48 persen Gen Z tidak merasa aman secara finansial. Bukan karena malas tapi karena beban hidup mereka semakin berat.

Survei Deloitte 2026 mencatat 48 persen Gen Z merasa tidak aman secara finansial karena biaya hidup yang terus menekan. Hal ini membuat mereka mendefinisikan ulang apa itu sukses yaitu bukan jabatan tinggi, melainkan karier stabil dengan work-life balance. Meski cemas, Gen Z dan Milenial tetap optimis dengan adaptasi lewat side hustle, upskilling, dan pelatihan AI. (Samarinda.beritaenergi.id)

Data GoodStats juga menunjukkan bahwa 64 persen Gen Z tetap menabung atau investasi, sementara 56 persen mengalokasikan dananya untuk hiburan. Masalah utamanya bukan hanya boros, tapi biaya hidup yang naik dan gaji yang tak cukup. Karena itu banyak Gen Z memilih soft saving, tetap menabung tapi juga menikmati hidup demi menjaga kesehatan mental. (Kompas.com, 12 Agustus 2026)

Inilah fakta cara bertahan hidup ala Gen Z hari ini, semua akibat pengaruh dari sistem Kapitalisme, di mana sistem Kapitalisme ini telah menjerat Gen Z dalam lingkaran tekanan biaya hidup yang semakin melambung tinggi, sementara gaji tetap jalan di tempat. 

Negara juga cuci tangan dari tanggung jawabnya dalam menjamin kebutuhan dasar, melempar seluruh beban ke pundak generasi muda. Hasilnya, Gen Z dipaksa bertahan hidup sendirian di sistem yang menguntungkan segelintir orang, sementara mereka harus bertarung demi makan, tempat tinggal, dan masa depan yang semakin suram.

Namun selain tekanan ekonomi yang menghimpit, gaya hidup sekuler liberal semakin memperparah kondisi mereka, dimana menjadikan self-reward, healing, dan konsumsi hedonis sebagai solusi pelarian Gen Z dari stres. Di sisi lain, media sosial terus mencekoki generasi dengan tren populer yang memicu FOMO dan budaya belanja impulsif. Akibatnya Gen Z terjebak dalam lingkaran dikejar biaya hidup, lalu dipaksa menyembuhkan diri dengan belanja yang justru memperparah kondisi hidup mereka.

Di balik semua itu, ada krisis yang lebih dalam lagi yaitu Gen Z kehilangan pemahaman tentang tujuan hidupnya. Ketika arah hidup manusia kabur maka kebahagiaan hidup pun hanya diukur dengan kenikmatan materi sesat bukan Ridha Allah dan kemuliaan Islam. Akibatnya, mereka bebas menentukan sendiri arah hidupnya hanya demi kesenangan duniawi sementara jiwa mereka hampa. 

Berbeda dengan sistem Islam, di mana negara atau Khilafah akan menjamin terpenuhinya kebutuhan dasar seluruh rakyatnya melalui pengelolaan Sumber Daya Alam yang sesuai syariah dan hasilnya dikembalikan untuk kepentingan umat. 

Khilafah juga akan membuka lapangan pekerjaan yang layak bagi setiap laki-laki yang mampu bekerja. Dengan begitu, rakyat termasuk Gen Z tidak akan dibiarkan berjuang sendirian menghadapi tekanan ekonomi, karena negara hadir sebagai pengurus dan pelindung, bukan justru berlepas tangan.

Negara Islam juga akan menutup rapat pintu gaya hidup hedonis dan melindungi generasi dari paparan pemikiran rusak seperti sekularisme kapitalisme beserta turunannya. Khilafah juga akan mengawasi semua media agar tidak menjadi alat pembodohan dan pemicu FOMO, melainkan mengarahkannya untuk edukasi, dakwah, dan meningkatkan ketakwaan rakyat. Dengan begitu, Gen Z tumbuh dalam lingkungan yang islami sehingga orientasi hidupnya tidak salah.

Hanya Islam satu-satunya membangun paradigma yang benar tentang hakikat hidup manusia, yaitu untuk beribadah kepada Allah semata. Sebagaimana firman Allah:
"Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku." (TQS. Adz-Dzariyat: 56)

Dengan akidah yang kokoh sebagai fondasi, generasi tidak akan mudah goyah oleh tekanan dunia dan gaya hidup hedonis. Sebaliknya, mereka akan memiliki visi yang jelas sebagai pembangun peradaban Islam, menjadikan ridha Allah sebagai tujuan utama dan kemuliaan Islam sebagai arah perjuangan hidupnya.

Wallahu a'lam bishshawab.[]


Oleh: Yeni
Aktivis Muslimah

0 Komentar