Bagi Penulis, Sepi Adalah Ruang Pertemuan antara Pikiran, Ilmu, dan Karya

MutiaraUmat.com -- Saat anak-anak mulai sibuk dengan dunianya sendiri, suami sibuk dengan pekerjaannya sendiri, lalu aku harus bagaimana? 

Cari perhatian?
Big no.

Aku juga punya dunia sendiri. Dunia yang bagi sebagian orang mungkin terlihat sepi, tetapi justru di sanalah pikiranku paling ramai. Aku memilih sibuk membaca, belajar, menyimak pengajian, memikirkan berbagai persoalan umat, lalu menuliskannya.

Aku sedang sibuk menata bekal akhiratku sendiri.
Bagiku, sendiri tidak selalu berarti kesepian. Ada masa dalam kehidupan ketika kita harus belajar menikmati ruang yang hanya berisi diri kita, pikiran kita, dan hubungan kita dengan Allah. Salah satu ruang ternyaman itu bernama menulis.

Menulis adalah rekreasi batinku. Ketika duduk di depan laptop dan mulai menyusun kata demi kata, kadang aku lupa dengan keadaan sekitar. Bahkan masalah yang tadinya memenuhi kepala perlahan minggir dengan sendirinya.

Bukan karena masalah itu tiba-tiba selesai. Bukan pula karena aku melarikan diri darinya. Pikiranku hanya mendapatkan pekerjaan yang jauh lebih produktif daripada sekadar mengulang kesedihan.

Menulis memaksaku membaca lebih banyak. Ketika ingin menulis sebuah persoalan, aku harus mencari literatur, membaca berita dari berbagai sumber, memahami data, melihat persoalan dari beberapa sudut pandang, menyimak kajian lebih khusyuk, dan mendengarkan pendapat para ulama.

Kadang sebuah tulisan yang selesai dibaca hanya dalam beberapa menit membutuhkan proses membaca dan berpikir berjam-jam. Di situlah aku justru menemukan ketenangan.

Aku seperti diingatkan bahwa dunia jauh lebih luas daripada masalah pribadiku. Ada persoalan umat yang harus dipikirkan. Ada ketidakadilan yang harus disuarakan. Ada ilmu yang perlu disampaikan. Ada pula manusia yang mungkin sedang membutuhkan sebuah kalimat untuk menguatkan langkahnya.

Maka ketika kehidupan pribadi sedang tidak baik-baik saja, aku tidak ingin seluruh energi habis hanya untuk bertanya,

“Mengapa aku mengalami ini?”

Aku lebih suka mengubah pertanyaannya, 

“Apa yang bisa kupelajari dari ujian ini, lalu apa yang bisa kutuliskan agar orang lain yang mengalami hal serupa tidak merasa sendirian?”

Mungkin itulah mengapa banyak tulisanku lahir dari perjalanan batin.
Ada luka yang tidak perlu diumumkan kepada dunia, tetapi hikmahnya boleh dibagikan. 
Ada air mata yang tidak perlu diperlihatkan kepada siapa pun, tetapi pelajaran di baliknya dapat menjadi tulisan yang menguatkan orang lain.

Masalah tidak harus membuat kita berhenti berkarya. Kadang justru dari sanalah lahir karya yang paling jujur.

Aku sudah menulis sejak SMA. Jadi jangan paksa aku menulis hanya demi laporan bulanan, target, kewajiban administrasi, agar terlihat produktif, apalagi sekadar mencari validasi. Terlalu receh bagiku jika tujuan akhirnya hanya dunia.

Aku menulis karena aku sendiri yang membutuhkan karya itu.
Aku membutuhkan proses berpikirnya.
Aku membutuhkan ilmunya.
Aku membutuhkan bekalnya.
Semakin bertambah usia, semakin kusadari bahwa tidak semua yang kita kumpulkan akan ikut pulang. 

Rumah akan ditinggalkan. Jabatan selesai. Kesibukan dunia berganti. Anak-anak tumbuh dan mempunyai kehidupan masing-masing. Bahkan orang yang paling kita cintai pun tidak selamanya dapat menemani.

Pada akhirnya ada perjalanan yang harus kita tempuh sendirian.
Karena itu aku ingin meninggalkan sesuatu yang masih bisa “bekerja” ketika tanganku sudah tidak mampu mengetik lagi karya tulisan.

Aku sering membayangkan, bagaimana jika dari ratusan tulisan yang kubuat ternyata hanya ada satu orang yang berubah menjadi lebih baik setelah membacanya?

Satu orang yang kembali mengingat Allah. Satu orang yang hampir menyerah kemudian memilih bertahan. Satu orang yang sebelumnya tidak memahami Islam lalu terdorong untuk belajar. Atau satu orang yang mulai berani melakukan amar makruf nahi mungkar.

Bukankah itu sudah sangat membahagiakan?

Rasulullah Saw bersabda,

“Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim).

Aku tidak membutuhkan jutaan pembaca agar sebuah tulisan terasa berarti. Jika Allah menjadikan satu tulisan sebagai jalan seseorang menuju kebaikan, itu sudah menjadi hadiah luar biasa.

Karena itu aku menganggap tulisan sebagai follower sejati.
Follower media sosial bisa datang dan pergi. Algoritma berubah. Engagement naik turun. Akun bahkan bisa hilang. Tetapi karya yang bermanfaat dapat berjalan jauh melampaui usia penulisnya.

Ia dibaca, disimpan, dibagikan, lalu mungkin ditemukan bertahun-tahun kemudian oleh seseorang yang bahkan tidak pernah mengenal penulisnya.

Rasulullah Saw juga mengingatkan bahwa ketika manusia meninggal dunia, amalnya terputus kecuali tiga perkara, salah satunya ilmu yang bermanfaat. 
(HR. Muslim).

Aku berharap tulisan-tulisan itu menjadi bagian kecil dari ilmu yang bermanfaat dan kelak menemani perjalanan panjangku menuju akhirat.

Sebagai jurnalis, menulis juga menjadi caraku menjaga otak agar terus bekerja dan hati agar tetap peka. Aku tidak ingin terbiasa melihat persoalan masyarakat kemudian menganggap semuanya biasa.

Ketika ada kebijakan yang merugikan rakyat, ketidakadilan yang dibiarkan, kemiskinan yang hanya dipandang sebagai statistik, atau kemungkaran yang dinormalisasi, pena tidak selayaknya diam.

Menulis bagiku adalah bagian dari amar makruf nahi mungkar. Pena mempunyai tanggung jawab. Ia dapat menjadi saksi zaman, menyampaikan kritik, membongkar cara pandang yang keliru, sekaligus menawarkan perspektif Islam terhadap persoalan kehidupan.

Namun di balik semua itu, menulis tetap menjadi perjalanan batinku.
Aku belajar bahwa ketenangan tidak harus datang karena keadaan di sekitar sesuai keinginan. Kadang ketenangan justru muncul ketika kita memiliki sesuatu yang membuat hidup terasa berarti.

Saat anak-anak sibuk dengan dunianya, biarkan mereka bertumbuh. Saat suami sibuk dengan pekerjaannya, biarkan ia menyelesaikan tanggung jawabnya. Aku tidak harus menunggu seseorang menyediakan kebahagiaan untukku.

Aku juga mempunyai dunia.
Ada buku yang belum selesai kubaca. Ada kajian yang ingin kusimak. Ada persoalan umat yang ingin kupahami. Ada tulisan yang menunggu diselesaikan. Masih banyak gagasan yang ingin kutinggalkan sebelum waktuku selesai.

Maka jangan kasihan melihat seorang penulis duduk sendirian berjam-jam di depan laptop. Boleh jadi ia sedang sangat bahagia.

Sebab bagi penulis, sepi bukanlah ruangan kosong.
Sepi adalah ruang pertemuan antara pikiran, ilmu, dan karya.
Jika suatu hari tulisan-tulisan itu mampu menenangkan seseorang yang sedang menjalani ujian hampir sama denganku, aku akan bersyukur.
Berarti luka tidak berhenti menjadi luka. Luka berubah menjadi pelajaran. Pelajaran berubah menjadi tulisan. Dan tulisan, insyaallah, berubah menjadi kebaikan yang terus berjalan.

Aku tidak tahu berapa panjang usia yang masih Allah berikan. Maka selama masih diberi nikmat sehat, ingatan, kemampuan berpikir, kesempatan belajar, dan ide yang terus berdatangan, aku ingin terus menulis. Bukan karena ingin dikenang manusia. Aku hanya berharap ada sesuatu yang tetap mengetuk pintu langit ketika suatu hari namaku tidak lagi ramai disebut di bumi.

Sebuah tulisan mungkin selesai ketika titik terakhir diletakkan. Namun perjalanan manfaatnya bisa jadi baru dimulai.

Barakallahufiikum.


Oleh: Nabila Zidane
Jurnalis

0 Komentar