Umur Diam-Diam Berkurang, Amal Sudah Bertambah Belum?
MutiaraUmat.com -- Umur itu memang lucu. Dia tidak pernah datang membawa surat pemberitahuan. Tidak ada notifikasi yang berbunyi, "Selamat, Anda resmi memasuki babak baru kehidupan."
Tahu-tahu saja kita sudah berada di sana.
Kemarin rasanya masih dipanggil "Mbak". Sekarang mulai ada yang memanggil, "Bu..." dengan nada yang sangat hormat.
Di minimarket, kasir yang usianya mungkin seumuran anak kita buru-buru menawarkan kursi.
Awalnya kita menolak.
"Enggak usah, mbak."
Padahal dalam hati berkata, "Alhamdulillah... memang capek juga."
Aku sering tertawa sendiri mengingat masa-masa muda bersama suami.
Dulu naik motor pulang-pergi Sidoarjo-Surabaya berkali-kali dalam sehari rasanya biasa saja.
Pagi berangkat, siang pulang, sore berangkat lagi. Sampai rumah bukan istirahat, malah masih semangat keluar mencari bakso atau sekadar keliling sebentar.
Kalau ada teman mengajak bertemu malam hari, jawabannya hampir pasti, "Ayo!"
Sekarang? Baru sampai rumah dari perjalanan, maka
tujuan pertama bukan lagi dapur. Bukan ruang tamu. Bukan pula kulkas. Tujuan pertama dan paling mulia adalah tempat tidur.
Tas masih menggantung di bahu.
Kerudung kadang belum dilepas.
Yang penting rebahan dulu. Kalau ada yang bertanya, "Makan dulu mik?"
Jawabannya sederhana.
"Nanti saja... biar kasur yang menyambutku lebih dulu."
Dulu begadang sampai jam sebelas malam masih terasa biasa. Masih sempat membaca buku, menulis, mengobrol, atau menyelesaikan pekerjaan.
Sekarang? Jam delapan malam mata sudah mulai mengirim sinyal. Jam delapan lewat sedikit masih berusaha terlihat kuat.
Jam delapan lewat lima belas mulai menguap. Jam delapan lewat tiga puluh alamat hilang.
Bukan menghilang dari rumah. Tetapi menghilang ke alam mimpi.
Ternyata yang berubah bukan semangat.
Yang berubah hanyalah tenaga.
Tetapi setelah kupikir-pikir, semua itu bukan kabar buruk.
Itu hanya cara Allah mengingatkan bahwa dunia memang bukan tempat tinggal selamanya.
Kalau badan terus kuat seperti usia dua puluh tahun, mungkin kita akan semakin lupa bahwa perjalanan pulang kepada Allah semakin dekat.
Allah membuat tubuh perlahan melambat agar hati semakin berlari menuju-Nya.
Sebab sering kali ketika tubuh sedang berada di puncak kekuatan, manusia merasa hidupnya masih sangat panjang.
Masih merasa besok bisa bertobat.
Masih merasa tahun depan bisa mulai menghafal Al-Qur'an.
Masih merasa nanti saja memperbaiki salat..Padahal tidak ada seorang pun yang tahu sampai kapan jatah napasnya.
Rasulullah Saw menerima wahyu pertama pada usia empat puluh tahun. Masa-masa setelah itu justru menjadi masa perjuangan terbesar beliau. Berdakwah, menghadapi penolakan, berhijrah, memimpin umat hingga menyempurnakan risalah.
Artinya, usia matang bukan tanda selesai.
Justru bisa menjadi masa panen amal.
Di usia yang terus bertambah ini, aku juga mulai bertanya kepada diriku sendiri, "Jejak apa yang ingin kutinggalkan?"
Ternyata aku tidak terlalu tertarik mengejar popularitas.
Nama besar tidak otomatis membuat seseorang besar di sisi Allah. Jumlah pengikut media sosial tidak selalu sebanding dengan berat timbangan amal.
Tulisan yang viral hari ini bisa tenggelam besok pagi.
Pujian manusia bisa berubah menjadi cacian hanya karena satu kesalahan.
Tetapi satu kalimat yang mengajak manusia semakin dekat kepada Allah, satu tulisan yang menguatkan akidah, satu artikel yang mengingatkan pentingnya syariat Islam, bisa terus mengalir pahalanya meskipun penulisnya telah lama berada di alam kubur.
Karena itu, jika hari ini aku masih menulis, bukan semata-mata agar namaku dikenal.
Aku ingin setiap huruf menjadi saksi yang membelaku di hadapan Allah.
Aku ingin tulisan-tulisan tentang Islam, tentang syariat, tentang dakwah, tentang pentingnya membangun syakhsiyah Islamiyah, menjadi amal jariyah yang terus mengalir.
Boleh jadi suatu hari orang lupa siapa penulisnya.
Tidak masalah.
Yang penting Allah tidak melupakan ikhtiar kecil itu.
Aku semakin yakin, membangun syakhsiyah Islamiyah jauh lebih penting daripada membangun citra diri.
Citra hanya hidup di mata manusia.
Syakhsiyah yang dibangun di atas akidah Islam akan menemani seseorang sampai akhirat.
Mungkin kita tidak dikenal banyak orang.
Mungkin tulisan kita tidak pernah menjadi berita utama.
Mungkin video kita tidak pernah ditonton jutaan orang.
Tetapi jika karena satu tulisan ada seorang ibu yang semakin rajin mengaji, ada seorang ayah yang kembali menjaga salat berjamaah, ada seorang remaja yang mulai mencintai Islam, bukankah itu jauh lebih mahal daripada jutaan tanda suka?
Semakin bertambah umur, aku justru ingin semakin sedikit dikenal manusia, tetapi semakin dikenal oleh langit.
Sebab ketika malaikat menutup lembar kehidupan kita, tidak ada lagi yang ditanya tentang jumlah pengikut, jumlah penonton, atau seberapa sering nama kita disebut manusia.
Yang ditanya adalah iman, amal saleh, ilmu yang diamalkan, dan jejak kebaikan yang kita tinggalkan.
Rasulullah Saw bersabda, "Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amalnya." (HR. Ahmad dan Tirmidzi).
Karena itu jangan sedih jika sekarang badan lebih cepat lelah.
Jangan kecewa jika jam delapan malam sudah mengantuk.
Mungkin Allah sedang mengurangi tenaga kita untuk menambah kesadaran bahwa waktu pulang semakin dekat.
Maka selama masih diberi napas, mari isi hari-hari dengan sesuatu yang bernilai di sisi-Nya.
Satu ayat lagi.
Satu sedekah lagi.
Satu istighfar lagi.
Satu tulisan lagi yang mengajak manusia kepada kebaikan.
Sebab umur memang habis diam-diam.
Semoga dosa kita juga diam-diam dihapus oleh Allah dan semoga ketika umur benar-benar selesai, kita pulang bukan membawa popularitas, melainkan membawa bekal amal yang membuat Allah ridha kepada kita, aamiin.[]
Nabila Zidane
Jurnalis
0 Komentar