Syariat Islam Kaffah Kebutuhan Mendesak Hari Ini


Tintasiyasi.id.com -- Kondisi kita tidak sedang baik-baik saja, semua sisi kehidupan terasa sempit. Kecemasan akibat beratnya beban yang dipikul semakin menjadi-jadi. Hari ini aqidah kaum muslimin tentang rezeki sedang diuji. Perkara bertahan hidup saja susah untuk bisa diprediksi, apakah besok dapur kita tetap mengepul? 

Belum lagi ketakutan kita akan keselamatan jiwa. Kita warga Medan memang tidak sedang dalam pertempuran di medan perang, tapi nyawa kita sepertinya mudah melayang. Salah sedikit langsung bacok. Konflik sedikit langsung bawa golok. 

Dendam berujung perencanaan pembunuhan. Rasa aman benar-benar susah untuk didapatkan. Apalagi kalau ada keperluan untuk keluar malam, lebih baik ditunda dulu sampai matahari terbit, karena terlalu berisiko jika nanti kita berhadapan dengan begal di jalanan. 

Pajak yang berlapis. Harga semua kebutuhan meroket tinggi. Kebutuhan primer, sekunder apalagi tersier semua mahal. BBM subsidi sudah mulai langka. Tarif dasar listrik mahal. Pokoknya tidak ada yang murah dan gampang tinggal di Medan ini. 

Begitu pun jangan ajari masyarakatnya hemat. Berhemat pun tetap kurang sampai menunggu tanggal gajian berikutnya. Kondisi kita hari ini sudah jauh hari Allah peringatkan dalam Al-Quranul Karim Surat Thaha Ayat 124:
"Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta."

Benar saja, kita sudah lama meninggalkan Islam dalam kehidupan kita. Ajaran Islam yang mulia tidak lagi diindahkan untuk mengatasi berbagai persoalan negeri ini. Semua diatur pakai hawa nafsu. 

Sistem kapitalisme sekuler adalah biang kerok kehancuran negeri. Ketika aqidah tidak dijadikan sebagai kepemimpinan berfikir, tentulah orang sekuler tidak ada lagi rasa takut melakukan kemaksiatan seperti korupsi, kolusi, nepotisme, kecurangan, penipuan, merampas hak orang, menindas rakyat lemah, segelintir para kapital menguasai properti hajat hidup orang banyak seperti hutan, tambang, laut.

Sedangkan rakyat hanya dapat bencana alamnya. Hendaknya kita mengakhiri penderitaan ini dengan kembali kepada Allah serta menjunjung tinggi hukum-hukum-Nya.

Kerusakan sosial, ekonomi, politik, pendidikan, kesehatan, dan keamanan sudah tidak bisa diperbaiki secara parsial. Dibutuhkan sistem baru yang benar-benar memahami kondisi lemahnya manusia. 

Sistem ini wajib dari Sang Pencipta manusia yang tidak lemah dan Maha Mengetahui segala kebutuhan makhluk-Nya. Kelemahan dan keterbatasan kita tidak melayakkan kita membuat aturan bahkan untuk diri kita sendiri, apalagi untuk mengatur skala negara. Keimanan menuntut kita untuk melaksanakan syari'at. 

Syari'at sebagai hukum yang mengatur agar manusia tidak ada yang mendzalimi dan terdzalimi. Syari'at adalah pemecah seluruh masalah kehidupan kita. Jika syari'at diterapkan tentulah akan aman, damai dan sejahtera penduduk bumi.

"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." (TQS. Al A'raf ayat 96)

Namun, syari'at tidak akan mungkin bisa ditegakkan dalam sistem sekulerisme seperti sekarang. Sistem sekuler yakni memisahkan agama dari kehidupan sangat menentang syari'at Allah. Dan kita harus memahami bahwa sistem sekuler inilah yang membawa keburukan dalam hidup kita. 

Sekularisme mengakibatkan aqidah tergerus, kehidupan menjadi sempit dan sengsara, kedzaliman merajalela, bahkan menciptakan suasana islamophobia di tengah-tengah kaum muslimin. 

Sekularisme adalah musuh kaum muslimin. Jangan mau tertipu kembali dengan solusi pragmatis yang ditawarkan oleh sistem sekuler ini.

Maka, sudah saatnya kita sadar bahwa kita wajib kembali kepada kehendak Allah Sang Pencipta kita. Syari'at Islam hanya bisa ditegakkan dalam institusi negara Khilafah Islamiyah sebagaimana telah dicontohkan oleh Baginda Rasulullah Muhammad Saw. Khilafah adalah mahkota kewajiban. 

Tanpanya, banyak kewajiban syariat lain seperti hukum pidana, ekonomi, dan politik Islam tidak bisa ditegakkan secara sempurna oleh negara. Kebutuhan kita akan syariat dirasa sangatlah mendesak. 

Hanya kembali kepada hukum-hukum Allah hidup kita akan diberkahi. Masalah kita akan diselesaikan dengan sebaik-baik hukum dari Allah. Masalah ekonomi secara detail syari'at juga mengaturnya sehingga tidak akan ada lagi orang-orang yang terdzalimi. 

Masalah sosial, syariat juga tidak boleh ditinggalkan. Geng motor, begal, pemerkosaan, perselingkuhan, LGBT, dan masalah sosial lainnya akan bisa dibasmi oleh Khilafah. 

Begitu pun pendidikan, kesehatan dan keamanan tentu tugas negara yang menanggungnya, haram hukumnya dibebankan oleh masing-masing individu rakyat. Sehingga dengan dorongan aqidah kita, tentu kita punya kewajiban untuk menegakkan Khilafah yakni institusi yang menerapkan hukum-hukum syari'at secara paripurna.
Wallahu a'lam bishshawwab.[]

Oleh: Endah Sefria, S.E 
(Aktivis Muslimah)

0 Komentar