Pemuda Berdaya dengan Islam

Mutiaraumat.com -- Belakangan ini berbagai survei menyebutkan bahwa generasi Z terutama di Indonesia paling banyak mengalami kecemasan dan gangguan mental. 

Gen Z usia 15-25 tahun banyak yang merasa hidupnya capek, hopeless (tidak mempunyai harapan), burnout (kelelahan fisik/mental karena stres kerja atau sekolah yang berkepanjangan) dan cemas tentang masa depan.

Faktor pemicunya beragam. Mulai dari pengaruh media sosial, tekanan sosial, pertemanan, gaya hidup, kesenjangan hidup dan lain lain. Apa yang mereka lihat, mereka dengar dan apa yang mereka rasakan amat berpengaruh dalam kehidupan mereka selanjutnya. 

Fenomena ini menggejala di seluruh dunia, hingga karir dan masa depan membuat gen Z bersikap lebih skeptis atau tidak mudah untuk mempercayai sesuatu.

Namun dari kondisi tersebut muncul gelombang resistensi yang diprediksi mampu menjadi titik balik bagi generasi ini. Artinya ada perlawanan dalam diri anak muda untuk tidak mengikuti suatu sistem yang telah berlaku saat ini. 

Misalnya, ketika dia kerja atau sekolah/kuliah dia merasa tertekan dengan tugas atau lembur yang sudah diberikan guru atau atasan. Maka dia berpikir untuk tidak mau mengikuti atau menjalankan tugas demi kewarasan diri atau demi kesehatan mentalnya. 

Perasaan tertekan terus menerus membuat dia 'nge-lock' atau menganggap masalah dibikin bandel saja, dengan tidak memperdulikan tugas yang sudah diberikan. Dengan begitu mereka merasa sedikit lebih lega.

Krisis multidimensi (banyak dimensi/sisi yang dalam hal ini, masalah yang dihadapi) yang melanda dunia hari ini menjadi pemicu utama kecemasan gen Z. Masalah yang datang berbarengan, hingga mental generasinya makin terpuruk. 

Misalnya, seorang mahasiswa yang kuliah di perantauan. Dengan sendirinya dia harus memikirkan banyak hal. Mulai dari bayar UKT, kos, bensin, biaya makan dan lain lain yang membuat kondisi mentalnya terpuruk. 

Belum lagi kalau ada masalah di keluarga atau lingkar pertemanannya. Pada saat yang sama dia sama sekali tidak memegang uang di tangan. 

Akhirnya karena tidak ada yang harus dibayarkan, maka masalah masalah tadi menimbulkan stres, sakit, dan putus asa. Semua dialami dalam satu waktu.

Potensi mereka sebagai pemuda dilemahkan dengan berbagai hal yang merusak jati diri melalui peradaban sekuler kapitalis. Sistem kapitalis yang berlaku hari ini memang tidak bersahabat dan tidak sejalan dengan cita cita anak muda. 

Biaya kuliah dan sekolah yang berkualitas berbanding lurus dengan biaya yang harus dikeluarkan. Makin tinggi kualitas pendidikan makin mahal biayanya. Tercatat ada 60 ribu siswa SNBP yang batal daftar ulang terkendala biaya UKT mahal di tahun 2026 ini (http://ruang.id, 26/06/2026). 

Sungguh amat disayangkan. Pemerintah lebih mementingkan program ga guna macam embege sialan itu.

Abainya riayah negara terhadap generasi juga menjadi faktor utama. Negara kurang memperhatikan dan mengapresiasi apa yang menjadi harapan dan cita cita anak muda.

Alih-alih dirangkul, generasi muda justru seringkali mendapat stigma buruk dari generasi di atasnya. Mereka dianggap ga becus, tidak kompeten, tidak diapresiasi bakat dan keberadaannya bahkan bisa saja terjadi aksi pembullyan terhadap generasi muda. Di sisi lain, kecemasan dan sikap kritis gen Z bisa menjadi peluang perubahan untuk mereka bangkit menuju kondisi yang lebih ideal.

Islam hadir sebagai solusi dari semua permasalahan. Krisis yang melanda hari ini bisa ditemukan jalan keluar sampai ke akarnya, karena penerapan Islam secara kaffah/keseluruhan mendatangkan Rahmatan lil Alamin yang membawa ketenangan dan keselamatan bagi hidup manusia.

Di masa kepemimpinan Rasulullah berikut Khalifah penggantinya, karakter generasi di masa kejayaan Islam dibentuk secara kuat, berkepribadian Islam dan cakap dalam berbagai bidang keilmuwan. Generasi diberi pengetahuan dulu tentang akidah. Setelahnya dibentuk pemikirannya untuk menjadi generasi emas di masa depan, karena mereka sadar, kehadirannya adalah ujung tombak peradaban.

Kehadiran negara sebagai pelindung dan pelayan umat, menjamin pemenuhan kebutuhan hidup secara adil. Apalagi dalam hal pendidikan. Menyadarkan pemuda hari ini untuk mengemban mabda Islam, serta peduli terhadap kondisi umat. Sehingga masa depan emas bukan lagi sebatas angan-angan. Wallahu a'laam bishshawwab.[]

Oleh: Umul Bariyah
(Aktivis muslimah)

0 Komentar