Ketika Kepercayaan Diuji: Refleksi dari Pernyataan Pemimpin dan Solusi Islam


MutiaraUmat.com -- Negara adalah rumah bersama. Di dalamnya ada pemimpin dan ada rakyat. Hubungan keduanya ibarat nahkoda dan penumpang kapal. Ketika ombak datang, yang dibutuhkan bukan saling menyalahkan, tetapi kerja sama untuk tetap selamat sampai tujuan.

Beberapa waktu lalu, beredar pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang kurang lebih bermakna: bagi Warga Negara Indonesia yang tidak menerima atau kecewa dengan keputusan pemerintah, dipersilakan untuk keluar dari Indonesia. 

Pernyataan seorang pemimpin negara tentu mengundang berbagai respons dari masyarakat. Ada yang memahami sebagai bentuk ketegasan agar masyarakat mendukung program pemerintah. Ada juga yang merasa tersinggung karena merasa suaranya tidak didengar. 

Dalam demokrasi, perbedaan pendapat adalah hal yang wajar. Justru dari perbedaan itulah kebijakan dapat diuji dan diperbaiki.

Dalam beberapa tahun terakhir, ada sejumlah kebijakan pemerintah yang memicu kekecewaan di tengah masyarakat. Beberapa di antaranya:  

Pertama. Kebijakan Ekonomi: Kenaikan harga bahan pokok, bahan bakar minyak, dan tarif dasar listrik membuat daya beli masyarakat menurun. Di saat yang sama, pemutusan hubungan kerja di beberapa sektor masih terjadi.  

Kedua. Kebijakan Pajak dan Utang: Beban pajak yang dirasa memberatkan usaha mikro, kecil, dan menengah serta rencana penambahan utang negara menimbulkan kekhawatiran akan keberlanjutan fiskal.  

Ketiga. Kebijakan Sosial: Program-program bantuan sering dinilai belum tepat sasaran. Di sisi lain, kasus korupsi yang masih muncul membuat publik bertanya tentang integritas pengelolaan anggaran.

Kekecewaan ini bukan berarti membenci negara. Ini adalah bentuk kepedulian warga agar negaranya menjadi lebih baik.

Rakyat sudah banyak menelan kekecewaan yang bertubi-tubi. Bahkan saat ini mereka menghadapi tekanan yang tidak ringan.  

Harga kebutuhan pokok naik, lapangan kerja terbatas, dan biaya pendidikan serta kesehatan semakin tinggi. Banyak kepala keluarga yang harus memutar otak agar dapur tetap mengepul.

Di media sosial, kita melihat fenomena pamer kekayaan di satu sisi, dan di sisi lain banyak orang yang curhat tentang sulitnya hidup. Kesenjangan ini menimbulkan rasa lelah, apatis, bahkan sebagian memilih untuk pergi ke luar negeri mencari penghidupan yang lebih baik.

Kondisi seperti ini rawan menimbulkan krisis kepercayaan. Rakyat merasa jauh dari penguasa, dan penguasa merasa tidak dipahami rakyatnya.

Islam memiliki panduan yang sangat jelas dalam menghadapi situasi seperti ini. Nabi Muhammad ï·º dan para sahabat telah mencontohkan bagaimana menjaga ukhuwah meski dalam kondisi sulit.

Prinsip Nasihat dengan Cara yang Baik

Allah berfirman dalam Surah An-Nahl ayat 125:  
"Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik."

Artinya, kritik boleh disampaikan, tetapi dengan adab. Begitu juga pemimpin wajib membuka ruang dialog, bukan menutupnya.

Kembali kepada Takwa dan Saling Tolong

Saat Madinah mengalami krisis ekonomi dan pangan, Nabi tidak memerintahkan orang untuk keluar. Beliau justru menguatkan persaudaraan antara Muhajirin dan Ansar. Orang yang mampu membantu yang lemah. Inilah semangat gotong royong.

Pemimpin adalah Pelayan Rakyat.

Rasulullah ï·º bersabda: "Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya." (H.R. Bukhari)  

Pemimpin akan ditanya tentang rakyatnya. Rakyat juga akan ditanya tentang ketaatan dan kontribusinya. Hubungan ini harus dibangun di atas amanah, bukan emosi.

Fakta yang terjadi saat ini, pemimpinnya saling menjauh dari rakyatnya. Pernyataan keras dapat melukai, tetapi diam juga bukan solusi. 

Yang kita butuhkan hari ini adalah duduk bersama. Pemerintah mendengar, rakyat memahami, dan semua kembali kepada nilai-nilai Islam: adil, amanah, dan saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.

Wallahu a'lam bishshawab.[]


Oleh: Faidah Alfiyah
Aktivis Muslimah

0 Komentar