Ibu Rumah Tangga Bukan Pengangguran
MutiaraUmat.com -- Pulang dari menjaga mertua yang sedang sakit, saya tidak langsung menuju kamar untuk beristirahat. Langkah kaki justru berbelok ke toko alat-alat tulis.
Tahun ajaran baru telah tiba. Buku baru harus dibeli. Pensil, pulpen, penggaris, penghapus, tas, hingga sampul buku harus disiapkan. Seragam yang mulai kekecilan harus diperbaiki. Bet sekolah harus dijahit ulang karena anak sudah naik kelas.
Di saat yang sama, daftar pengeluaran terus bertambah, seperti uang daftar ulang, SPP, listrik, air, internet, belanja dapur, transportasi, hingga dana darurat yang entah kapan dibutuhkan.
Lalu ada yang masih berkata bahwa ibu rumah tangga adalah "pengangguran"?
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya menunjukkan betapa sedikit orang memahami pekerjaan yang dilakukan seorang ibu setiap hari.
Seorang ibu rumah tangga adalah manajer keuangan keluarga. Ia menghitung pemasukan dan pengeluaran dengan sangat cermat agar kebutuhan sebulan terpenuhi tanpa harus berutang. Ia harus pandai menentukan prioritas, menunda keinginan demi kebutuhan, bahkan sering kali mengalahkan keinginannya sendiri agar anak-anak tetap bisa sekolah dengan layak.
Ia juga adalah koki keluarga. Setiap hari berpikir menu apa yang bergizi, disukai anak-anak, tetapi tetap sesuai kemampuan keuangan keluarga. Bukan sekadar memasak, tetapi memastikan setiap anggota keluarga mendapatkan makanan yang halal, sehat, dan cukup.
Ia adalah guru pertama bagi anak-anaknya. Sebelum mengenal guru di sekolah, anak belajar berbicara, membaca doa, mengenal sopan santun, hingga memahami benar dan salah dari ibunya. Bahkan ketika anak sudah besar, ibu tetap menjadi guru privat di rumah, menemani belajar, mengingatkan tugas sekolah, hingga memberi semangat ketika nilai mereka menurun.
Belum lagi perannya sebagai perawat keluarga. Ketika anak demam tengah malam, ibu yang pertama terbangun. Ketika suami sakit sepulang kerja, ibu yang menyiapkan obat dan makanan. Ketika orang tua mulai renta, banyak ibu yang dengan penuh kesabaran ikut merawat mereka tanpa mengenal jam kerja, tanpa lembur, tanpa tambahan gaji, bahkan tanpa hari libur.
Seorang ibu juga menjadi penjaga kesehatan mental keluarga. Ia menghibur anak ketika kecewa, menjadi tempat curhat saat mereka menghadapi masalah pertemanan, memberi nasihat ketika mereka mulai bingung menentukan pilihan hidup. Ia mendengarkan keluh kesah suami sepulang bekerja, berusaha menjaga suasana rumah tetap tenang meski dirinya sendiri sedang lelah.
Di balik rumah yang rapi, anak-anak yang berangkat sekolah tepat waktu, makanan yang tersedia di meja, tagihan yang terbayar, serta keluarga yang tetap hangat, ada seorang ibu yang bekerja tanpa henti.
Sayangnya, pekerjaan itu sering tidak terlihat karena tidak menghasilkan slip gaji. Padahal, bila seluruh pekerjaan ibu rumah tangga harus dibayar sesuai profesinya, seperti manajer keuangan, koki, guru privat, perawat, konselor keluarga, pengasuh, hingga petugas kebersihan, maka nilainya mungkin jauh lebih besar daripada satu pekerjaan formal.
Islam Memuliakan Ibu
Islam memuliakan peran seorang ibu jauh sebelum dunia modern berbicara tentang penghargaan terhadap pekerjaan domestik.
Rasulullah Saw bersabda ketika seorang sahabat bertanya, "Siapakah orang yang paling berhak aku perlakukan dengan baik?" Beliau menjawab, "Ibumu." Sahabat itu bertanya lagi, "Kemudian siapa?" Beliau menjawab, "Ibumu." Ditanya lagi, Beliau menjawab, "Ibumu." Baru pada pertanyaan keempat Rasulullah Saw menjawab, "Ayahmu." (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menunjukkan betapa tinggi kedudukan seorang ibu dalam Islam. Penghormatan itu bukan tanpa alasan. Ia diberikan karena besarnya pengorbanan yang dipikul seorang ibu sejak mengandung, melahirkan, menyusui, mendidik, hingga mendampingi anak-anaknya sepanjang kehidupan.
Imam An-Nawawi ketika mensyarah hadis tersebut dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa ibu didahulukan tiga kali karena besarnya beban yang ia tanggung: masa kehamilan, proses melahirkan, dan menyusui serta pengasuhan yang penuh kesabaran.
Pengorbanan itu menjadikan hak ibu atas bakti anak lebih besar dibandingkan siapa pun.
Lebih jauh lagi, Allah Swt. mengabadikan kemuliaan ibu dalam firman-Nya, "Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun..." (TQS. Luqman: 14).
Ayat ini menunjukkan bahwa Islam tidak pernah memandang rendah pekerjaan seorang ibu di rumah. Justru dari rumah itulah lahir generasi yang akan menentukan masa depan sebuah peradaban. Jika ibu diabaikan, keluarga akan rapuh. Jika keluarga rapuh, masyarakat pun ikut rapuh.
Karena itu, menyebut ibu rumah tangga sebagai "pengangguran" adalah penilaian yang tidak tepat.
Ukuran bekerja bukan hanya ada atau tidaknya gaji bulanan. Ada pekerjaan yang tidak menghasilkan uang, tetapi menghasilkan manusia-manusia yang salih, cerdas, dan berakhlak mulia. Bukankah itu investasi terbesar bagi sebuah bangsa?
Maka, jika masih ada yang meremehkan tugas seorang ibu rumah tangga, sesungguhnya yang perlu dipertanyakan bukanlah profesi sang ibu, melainkan cara pandang kita terhadap pekerjaan yang menjadi fondasi berdirinya sebuah keluarga.
Sebab, ibu rumah tangga bukan pengangguran. Ia adalah jantung yang membuat sebuah rumah tetap hidup dan utuh.
Barakallahufikum.[]
Nabila Zidane
Jurnalis
0 Komentar