Gencatan Senjata Hanya Ilusi yang Mematikan
MutiaraUmat.com -- Gencatan senjata antara Hamas dan Israel yang diprakarsai oleh Amerika sebagai mediator pada 25 Oktober 2025 digadang-gadang bisa mendamaikan kedua negara yang sedang bertikai. Namun pada faktanya Israel terus melakukan pelanggaran gencatan senjata secara sistematis. Akibat pelanggaran gencatan senjata yang dilakukan oleh Israel, korban tewas telah melampaui 1.000 jiwa.
Sejak diumumkan gencatan senjata delapan bulan yang lalu antara kelompok bersenjata Gaza (Hamas) dengan pasukan zionis Israel, pada faktanya tidak sesuai dengan realitas yang ada. Zionis terus melakukan pelanggaran gencatan senjata. Hal ini terbukti dengan laporan investigasi yang dilakukan UNICEF (PBB). Pada konferensi persnya (UNICEF) di Jenewa (Swiss) melalui juru bicara UNICEF James Elder, menyatakan perjanjian tersebut pada kenyataannya hanya ilusi yang mematikan.
Karena zionis terus melakukan tindakan kekerasan dengan menyerang warga sipil. Akibat serangan tersebut sedikitnya 265 anak Palestina tewas, dan lebih dari 400 anak mengalami luka parah. Akibat pelanggaran gencatan senjata yang dilakukan zionis terhadap warga sipil terkhusus anak-anak, menurut Elder dalam konferensi persnya, ini akan berdampak rusaknya mental (kesehatan fisik) anak-anak Gaza dan mengakibatkan trauma psikologis yang sangat mendalam dalam kehidupan sehari-hari mereka, ujar Elder, (Smart 171, 20/6/2026).
Gencatan senjata yang digadang-gadang bisa mendamaikan kedua negara, kenyataan tidak sesuai dengan fakta. Zionis terus melancarkan aksi brutalnya terhadap warga sipil. Ini membuktikan gencatan senjata tidak pernah benar-benar menciptakan perdamaian, melainkan strategi barat meredakan opini dunia sambil membiarkan zionis terus membunuh secara terukur. Hal ini dibuktikan dengan Amerika Serikat sebagai penjamin perdamaian tetap terus memberi bantuan kepada zionis dengan cara apa pun.
Karena pada dasarnya AS sebagai penjamin perdamaian tetapi ia juga merangkap bagian dari sekutu zionis laknatullah. Tentunya masyarakat muslim tidak bisa berharap banyak dengan kata adil selagi pemimpin dunia terutama AS selaku juru damai antara rakyat Gaza dan zionis lebih berpihak kepada zionis. Mengandalkan negara penjajah untuk urusan umat Islam adalah kesalahan fatal dan melanggengkan penjajahan.
Mengapa perdamaian antara Palestina dan zionis sulit diwujudkan, padahal gencatan senjata sudah disepakati. Karena pada dasarnya zionis adalah keturunan dari Bani Israil yang dikenal dengan tabiat yang keras kepala, suka melakukan kerusakan dan permusuhan sesama manusia. Dan mereka juga kerap ingkar janji dan suka mendustakan nikmat yang telah diberikan Allah SWT.
Hal ini diabadikan dalam Al-Qur'an Surah Al-Ma'idah ayat 13 yang berbunyi, "Tetapi karena mereka melanggar janji-Nya, Kami melaknat mereka dan menjadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka mengubah firman-firman (Allah) dari tempat-tempatnya dan mereka sengaja melupakan sebagian pesan yang telah diperingatkan kepada mereka. Engkau (Muhammad) senantiasa akan melihat pengkhianatan dari mereka, kecuali sekelompok kecil di antara mereka yang tidak berkhianat. Maka, maafkanlah mereka dan biarkanlah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang muhsin."
Jadi penyebab sulitnya perdamaian terhadap masalah Palestina bukan pada pelanggaran gencatan senjata semata. Tetapi akar permasalahan adalah ketiadaan junnah (perisai) yang melindungi umat Islam itu sendiri, yaitu Daulah Islamiyah (Khilafah Islamiyah). Secara prinsip dan historis, masalah Palestina hanya bisa tuntas diselesaikan dengan dua solusi yakni jihad dan Khilafah. Penjajahan atas tanah Palestina oleh Israel adalah kezaliman, yang secara syar'i hanya dapat dihentikan dengan jihad fi sabilillah.
Jihad fi sabillah akan sangat mudah terlaksana dengan kekuatan luar biasa yaitu umat bersatu dalam satu komando di bawah naungan Daulah Islamiyah. Hanya dengan Daulah Islamiyah satu+satunya solusi untuk umat dalam setiap lini kehidupan, termasuk menyelesaikan persoalan Palestina. Jadi umat tidak boleh berharap dan bergantung pada pemimpin kafir dan musuh-musuh Islam.
Untuk itu umat harus memperjuangkan kembalinya Khilafah Islamiyah sebagai perisai (junnah) kaum muslimin yang akan menjaga setiap jengkal tanah Palestina. Untuk itu tugas kita sebagai pengemban dakwah mengajak umat kembali pada fitrahnya, yaitu kembali pada Islam dan mengajak mereka agar turut serta berjuang menerapkan syariah Islam secara Kaffah hingga terwujud Islam yang rahmatnya dapat dirasakan seluruh umat manusia dan juga seluruh alam semesta.
Wallahu'alam bish-shawab
Oleh: Rismayana
(Aktivis Muslimah)
0 Komentar