Gen-Z di Tengah Krisis Peradaban


MutiaraUmat.com -- Generasi Z sering disebut sebagai generasi yang paling dekat dengan teknologi. Mereka lahir dan tumbuh di tengah perkembangan internet, media sosial, dan arus informasi yang bergerak begitu cepat. Kemudahan akses informasi membuat mereka lebih terbuka terhadap berbagai isu global, sekaligus menghadapkan mereka pada tantangan yang tidak ringan.

Berbagai survei dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa masalah kesehatan mental menjadi salah satu persoalan yang banyak dialami oleh generasi muda, termasuk Generasi Z. Kecemasan, stres, kelelahan emosional, hingga perasaan kehilangan arah menjadi fenomena yang semakin sering dibicarakan.

Fenomena tersebut bukan hanya terjadi di Indonesia. Berbagai negara juga menghadapi persoalan serupa. Generasi muda di banyak belahan dunia bergulat dengan ketidakpastian masa depan, persaingan hidup yang semakin ketat, serta perubahan sosial yang berlangsung sangat cepat.

Faktor pemicu kecemasan tersebut tentu beragam. Media sosial misalnya, sering kali menghadirkan standar kesuksesan yang tidak realistis. Banyak anak muda tanpa sadar membandingkan hidupnya dengan kehidupan orang lain yang tampak sempurna di layar gawai mereka.

Di sisi lain, tekanan ekonomi juga menjadi persoalan yang nyata. Lapangan pekerjaan yang semakin kompetitif, biaya hidup yang terus meningkat, serta kekhawatiran terhadap masa depan membuat banyak anak muda merasa cemas menghadapi kehidupan yang akan datang.

Belum lagi berbagai krisis global yang terus terjadi, mulai dari konflik geopolitik, ketidakstabilan ekonomi, hingga kerusakan lingkungan. Semua itu menambah daftar panjang kekhawatiran yang membayangi generasi muda hari ini.

Namun menariknya, di tengah berbagai tekanan tersebut muncul fenomena lain yang tidak kalah penting. Banyak anak muda mulai berani menyuarakan keresahan mereka. Mereka lebih kritis terhadap berbagai persoalan sosial, politik, ekonomi, maupun budaya yang terjadi di sekitar mereka.

Gelombang kesadaran ini menunjukkan bahwa kecemasan tidak selalu berujung pada keputusasaan. Dalam banyak kasus, kegelisahan justru melahirkan sikap resistensi, yakni keberanian untuk mempertanyakan kondisi yang dianggap tidak ideal dan mencari alternatif perubahan yang lebih baik.

Jika dicermati lebih dalam, kecemasan yang dialami Generasi Z tidak muncul begitu saja. Persoalan ini memiliki akar yang lebih kompleks daripada sekadar masalah individu atau kelemahan mental semata.

Krisis multidimensi yang melanda dunia hari ini menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi kondisi psikologis generasi muda. Ketika ketidakadilan ekonomi, kerusakan moral, ketimpangan sosial, dan ketidakpastian masa depan terus berlangsung, maka rasa cemas menjadi sesuatu yang sulit dihindari.

Dalam sistem kehidupan sekuler kapitalistik saat ini, manusia didorong untuk mengejar kesuksesan material sebagai ukuran utama kebahagiaan. Akibatnya, banyak anak muda merasa tertekan untuk selalu tampil sempurna, produktif, dan berhasil menurut standar yang ditentukan oleh masyarakat.

Pada saat yang sama, potensi besar yang dimiliki generasi muda sering kali tidak diarahkan pada pembentukan jati diri yang kokoh. Mereka dibombardir oleh berbagai konten yang mengedepankan hedonisme, individualisme, dan budaya instan yang justru menjauhkan mereka dari tujuan hidup yang hakiki.

Tidak sedikit pula generasi muda yang merasa kehilangan tempat untuk bertumbuh. Alih-alih dirangkul dan dibimbing, mereka justru kerap menerima stigma negatif sebagai generasi yang dianggap lemah, manja, atau tidak tahan menghadapi tantangan hidup.

Padahal, sejarah menunjukkan bahwa pemuda selalu menjadi motor perubahan dalam peradaban. Energi, kreativitas, keberanian, dan idealisme yang dimiliki generasi muda merupakan aset besar yang dapat mengubah arah masyarakat menuju kondisi yang lebih baik.

Karena itu, sikap kritis dan keresahan yang dimiliki Generasi Z sejatinya dapat menjadi titik awal kebangkitan. Kecemasan yang mereka rasakan bisa berubah menjadi kesadaran untuk memahami akar persoalan dan mencari solusi yang benar bagi kehidupan.

Dalam pandangan Islam, akar berbagai krisis yang melanda manusia adalah tidak diterapkannya aturan Allah dalam kehidupan. Ketika manusia menjadikan hawa nafsu, kepentingan ekonomi, atau pemikiran manusia sebagai dasar pengaturan hidup, maka berbagai problem sosial dan psikologis akan terus bermunculan.

Islam hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam. Ajaran Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, tetapi juga mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri, sesama manusia, dan lingkungan sekitarnya. Karena itu, penerapan Islam secara menyeluruh akan melahirkan ketenteraman, keadilan, dan keamanan dalam kehidupan masyarakat.

Sejarah peradaban Islam menunjukkan bagaimana generasi muda dibentuk menjadi pribadi yang kuat, berkepribadian Islam, sekaligus unggul dalam berbagai bidang keilmuan. Mereka tidak tumbuh dengan krisis identitas, tetapi memiliki tujuan hidup yang jelas, yakni beribadah kepada Allah dan berkontribusi bagi kemaslahatan umat.

Selain itu, Islam menempatkan negara sebagai pelindung dan pelayan rakyat. Negara bertanggung jawab menjamin terpenuhinya kebutuhan dasar masyarakat, menyediakan pendidikan yang berkualitas, menciptakan lingkungan yang sehat, serta menjaga generasi dari berbagai pengaruh yang merusak. Dengan sistem seperti ini, generasi muda memiliki ruang yang lebih baik untuk berkembang dan mengoptimalkan potensinya.

Oleh karena itu, kebangkitan Generasi Z tidak cukup hanya dengan kampanye kesehatan mental atau motivasi sesaat. Yang dibutuhkan adalah perubahan mendasar yang mampu mengembalikan manusia kepada fitrahnya dan menghadirkan sistem kehidupan yang sesuai dengan petunjuk Allah. Saat pemuda menyadari perannya sebagai pengemban risalah Islam dan peduli terhadap kondisi umat, maka kecemasan tidak lagi melahirkan keputusasaan, melainkan berubah menjadi energi perubahan. Dari depresi menuju resistensi, dan dari resistensi menuju kebangkitan peradaban yang diridhai Allah SWT.[]


Oleh: Marissa Oktavioni, S.Tr.Bns.
Aktivis Muslimah

0 Komentar