Dunia Hanya Persinggahan
Nak, pernahkah kita mampir di rest area saat perjalanan jauh?
Ada musala yang nyaman. Ada kopi hangat. Ada makanan enak. Toiletnya bersih. Hawanya sejuk. Rasanya ingin berlama-lama. Tapi seindah apa pun rest area, tidak ada orang waras yang menjadikannya alamat rumah.
Karena semua tahu, itu hanya tempat singgah. Begitulah dunia.
Sayangnya, banyak manusia justru sibuk mempercantik tempat singgah, sampai lupa menyiapkan rumah yang sebenarnya, yaitu akhirat.
Rumah semakin besar, tetapi sajadah semakin jarang dibentangkan.
Rekening semakin tebal, tetapi timbangan amal belum tentu bertambah.
Gelar semakin panjang, tetapi umur justru semakin pendek.
Allah Swt. telah mengingatkan,
"Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya."
(QS. Ali 'Imran: 185)
Ayat ini bukan melarang kita memiliki harta, jabatan, atau menikmati nikmat dunia. Islam tidak pernah mengajarkan kemiskinan sebagai tujuan hidup. Yang dilarang adalah ketika dunia berpindah dari tangan ke dalam hati.
Harta di tangan bisa menjadi ladang pahala. Tetapi harta di hati sering kali berubah menjadi berhala.
Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah pernah berkata,
"Dunia hanyalah tiga hari; kemarin telah berlalu, esok belum tentu engkau temui, dan hari ini adalah kesempatanmu untuk beramal."
Kalimat sederhana itu mampu menampar kesadaran kita.
Mengapa sibuk memikirkan pujian manusia yang bahkan belum tentu mendoakan kita ketika mati?
Mengapa habis-habisan mengejar popularitas, padahal kain kafan tidak memiliki kantong?
Rasulullah Saw bahkan menggambarkan betapa kecilnya nilai dunia di sisi Allah.
Beliau bersabda,
"Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir."
(HR. Bukhari)
Musafir tidak membawa seluruh isi rumahnya ke dalam koper. Ia hanya membawa bekal yang diperlukan.
Begitu pula seorang mukmin.
Ia bekerja, tetapi tidak diperbudak pekerjaan.
Ia memiliki rumah, tetapi tidak diperbudak rumah.
Ia memiliki kendaraan, tetapi tidak diperbudak gengsi kendaraan. Karena yang paling ia takutkan bukan kehilangan dunia, melainkan kehilangan ridha Allah.
Inilah yang disebut syakhsiyah Islamiyah (kepribadian Islam), yakni ketika cara berpikir (aqliyah) dan cara bersikap (nafsiyah) dibangun di atas akidah Islam. Seorang Muslim memandang segala sesuatu dengan ukuran halal-haram dan ridha Allah, bukan semata untung-rugi dunia.
Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam Asy-Syakhsiyyah al-Islamiyyah menjelaskan bahwa kepribadian Islam lahir ketika akidah Islam menjadi landasan berpikir sekaligus landasan mengendalikan seluruh kecenderungan manusia. Karena itu, seorang mukmin tidak menjadikan dunia sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai sarana meraih keridaan Allah.
Maka ketika mendapatkan nikmat, ia bersyukur.
Ketika kehilangan, ia bersabar.
Ketika berhasil, ia tidak sombong. Ketika gagal, ia tidak putus asa. Sebab orientasinya bukan dunia, melainkan akhirat.
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berkata,
"Dunia ibarat bayangan. Jika engkau mengejarnya, ia akan lari. Jika engkau membelakanginya, ia akan mengikutimu."
Betapa banyak orang kehilangan ketenangan karena mengejar sesuatu yang memang diciptakan untuk ditinggalkan.
Jabatan akan selesai.
Wajah akan menua.
Popularitas akan redup.
Anak-anak pun suatu hari akan memiliki kehidupannya sendiri.
Yang menemani kita ke liang lahat bukan mobil, bukan sertifikat, bukan jumlah pengikut di media sosial.
Yang ikut hanyalah amal.
Allah Swt. berfirman,
"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia."
(QS. Al-Qashash: 77)
Ayat ini menunjukkan keseimbangan Islam.
Bekerjalah.
Belajarlah.
Bangun usaha.
Rawat keluarga.
Nikmati rezeki yang halal.
Tetapi jangan sampai hati tertambat kepada dunia.
Karena yang dicintai secara berlebihan akan menjadi sumber luka ketika Allah mengambilnya kembali.
Maka cintailah dunia secukupnya. Gunakan ia sebagai kendaraan menuju surga. Jangan menjadikannya tujuan perjalanan.
Sebab kita semua hanyalah musafir yang sedang singgah sejenak dan sebaik-baik musafir bukan yang paling banyak membawa bekal dunia, tetapi yang paling siap ketika dipanggil pulang.
Semoga Allah menjadikan hati kita ringan terhadap dunia, namun kaya dengan iman, lapang dengan syukur, dan istiqamah mempersiapkan bekal terbaik menuju kampung akhirat. Aamiin.
Barakallahufikum.
Nabila Zidane
Jurnalis
.png)
0 Komentar