Darurat Kecemasan Tak Sekadar Healing

MutiaraUmat.com -- Fakta mengejutkan diungkap oleh Fikom Unpad pada 7 April 2026 lewat kutipan data Depkes RI tahun 2026 yang menunjukkan sekitar 34,5% hingga 40% remaja Indonesia (Gen-Z) mengalami gangguan kesehatan mental. Masalah ini dipicu oleh tekanan media sosial, standar hidup yang tidak realistis, dan cyberbullying. Selain itu, tuntutan prestasi yang tinggi, konflik keluarga, serta kebiasaan bergadang dan kurang olahraga membuat kondisi mereka makin memburuk.  

Banyak orang menuduh Gen-Z sebagai generasi yang rapuh atau lembek seperti buah stroberi. Padahal, kecemasan mereka sangat wajar. Mereka dipaksa hidup di dunia modern yang tidak adil, dimana nilai seorang manusia hanya diukur dari hal-hal materi, seperti harta, jabatan, pekerjaan, dan penampilan fisik (lookism). Mereka dipaksa hidup di dunia modern yang tidak adil. 

Mengapa krisis sekuler-kapitalistik ini tidak hanya membuat cemas, tetapi sampai merusak jati diri Gen Z sebagai pemuda? Jati diri Gen Z hanya dinilai sebatas nilai ekonomi karena standar kesuksesan diukur secara materi. Jati diri pemuda tidak lagi dinilai dari sisi perilakunya yang takut berbuat dosa, tetapi dipersempit dengan, “Berapa gajimu? Kerja di mana? Apa pekerjaanmu? Sudah punya rumah?”. Gen Z sebagai pemuda merasakan kegagalan menjalani hidup karena merasa tidak berguna sebab tak punya uang. Ketika gagal memenuhi standar materi tersebut akibat sulitnya lapangan pekerjaan dan persaingan antara pencari pekerja yang sangat tinggi, maka mereka akan merasa gagal menjadi dirinya sendiri dan kehilangan arah tujuan hidup.  

Standar hidup dibombardir oleh algoritma media sosial yang membuat mereka haus tampil sempurna secara fisik, terlihat bahagia dan harmonis, flexing (pamer kekayaan) dianggap sebagai role model kehidupan. Hidup terjebak dalam kebohongan dan berpura-pura demi validasi like, subscribe, sharing, followers. Layar HP adalah kehidupan penuh tipu daya. Begitu layar dimatikan, identitas diri kembali terguncang hebat dengan sebuah tanya dalam hampa, aku ini siapa? 

Krisis mental ini bukan takdir buruk, melainkan dampak dari pengabaian secara sistemik oleh negara. Ketika anak muda mencoba bersikap kritis terhadap ketidakadilan ini, generasi tua justru sering mencap mereka sebagai pembangkang yang kurang bersyukur. 

Akibatnya, potensi besar anak muda untuk mengubah masyarakat sengaja dilemahkan. Gen-Z dibuat terlalu lelah menghadapi masalah pribadi mereka sendiri. Energi mereka habis untuk memikirkan jerawat, produk perawatan kulit (skincare), cicilan barang, dan cara agar terlihat kaya di media sosial. Sifat kritis dan idealisme mereka akhirnya menguap begitu saja, berganti menjadi keluhan dan pelarian instan berkedok kata "healing". 

Liburan atau healing biasa tidak akan bisa menyembuhkan jiwa yang rusak akibat urusan dunia. Kita perlu melawan kecemasan dengan healing iman. Rasa cemas dan gelisah sebenarnya adalah alarm dari Allah bahwa lingkungan kita sedang tidak baik-baik saja. Sikap skeptis ini membuktikan bahwa pemuda saat ini sadar, peduli, dan tidak mudah dibohongi. Energi tersebut harus menjadi titik balik untuk bangkit. Healing dengan iman akan mengisi kekosongan jiwa dan mengembalikan fokus pada tujuan hidup yang hakiki. 

Islam hadir dengan membawa sebuah misi hidup yaitu menghamba kepada Sang Pencipta. Apabila dilakukan secara totalitas, maka akan bernilai pahala dan berujung surga. Penerapannya akan menciptakan ketenangan, ketentraman, dan keselamatan dunia akhirat bagi semesta alam. Islam melakukan sebuah tindakan pencegahan dalam peraturannya, memberikan tata cara hingga teknis pelaksanaan aturan dan sanksi yang tegas yang memiliki efek jera.  

Sejarah telah membuktikan bagaimana peradaban Islam membentuk generasi yang tidak hanya jenius diberbagai bidang, tetapi juga manusia shalih yang taat pada pencipta-nya. Mengapa mereka memiliki mental tangguh dan tak mudah menyerah? Karena jiwa mereka terisi dengan healing iman yang diterapkan melalui sistem negara yang berasaskan Islam. Negara hadir memberikan rasa aman kepada rakyatnya dengan memenuhi kebutuhan dasar mereka serta memberikan jaminan kesejahteraan secara adil. Sudah saatnya generasi muda peduli dan mengambil peran untuk kejayaan Islam dan kesejahteraan masyarakat. Dengan begitu, masa depan emas bagi Gen Z bukan lagi sebatas mimpi, melainkan sebuah kepastian yang nyata yang terbukti.  

Yota Mutia, S.Psi 
Praktisi Art Therapy

0 Komentar