Anak-Anak Gaza Lebih Menakutkan di Mata Zi*n1s


MutiaraUmat.com -- Perang selalu meninggalkan luka paling dalam pada kelompok yang paling lemah, yaitu anak-anak. Sejak Oktober 2023, kondisi anak-anak di Gaza menjadi perhatian dunia internasional karena dampaknya yang sangat berat, baik secara fisik maupun psikologis, laporan lembaga internasional menunjukkan betapa parahnya kondisi anak di Gaza. 

UNICEF dan media internasional mencatat ribuan anak meninggal dan terluka sejak Oktober 2023. Masuk Juni 2026, UNICEF dan Al Jazeera melaporkan ada periode di mana rata-rata satu anak meninggal setiap hari di Gaza, bahkan ketika gencatan senjata sedang berlangsung. Media Kompas menyebut fenomena ini sebagai generasi yang hilang di tengah perang. Selain korban jiwa, banyak anak yang selamat, namun harus hidup dengan cacat permanen akibat amputasi dan luka bakar. 

Rumah mereka hancur, orang tua mereka meninggal, dan rasa takut itu menempel setiap hari, trauma psikologis yang mereka alami akan terus membekas dan mengganggu tumbuh kembangnya. Di sisi lain, sekolah roboh, rumah sakit lumpuh, air bersih susah, dan gizi anak makin buruk. Ketika hak dasar untuk hidup, belajar, dan tumbuh diambil, maka masa depan satu generasi benar-benar dalam bahaya.

Anak menjadi paling rentan karena Gaza adalah wilayah yang sangat padat. Ketika konflik terjadi di tengah permukiman, anak-anak tidak punya ruang untuk lari dan mereka masih bergantung penuh pada orang dewasa. Di sisi lain, hukum humaniter internasional dan resolusi PBB memang mewajibkan perlindungan anak dalam perang, tetapi di lapangan korban sipil terus berjatuhan.

Laporan media BBC, CNN Indonesia, dan Al Jazeera menunjukkan bahwa norma perlindungan itu belum berjalan sebagaimana mestinya. Akibatnya muncul luka yang bersifat generasional. Pendidikan hilang selama bertahun-tahun, trauma tidak tertangani, dan gizi buruk menciptakan generasi yang sulit berkembang. Jika dibiarkan, mereka akan kehilangan kesempatan untuk membangun masa depan masyarakatnya.

Islam meletakkan perlindungan jiwa dan keturunan sebagai tujuan syariah yang paling utama. Anak adalah amanah yang haknya wajib dijaga. Dari sisi kemanusiaan pun, anak harus diprioritaskan dalam konflik, namun selama akar masalahnya tidak diselesaikan, maka upaya bantuan saja tidak akan cukup. Solusi tuntas hanya bisa diwujudkan melalui penerapan Islam kaffah dalam institusi Khilafah. 

Khilafah adalah negara yang menjalankan seluruh hukum Islam secara menyeluruh, termasuk hukum yang melindungi warga sipil dan melarang membunuh anak-anak dalam peperangan. Dengan kekuatan politik dan militernya, Khilafah akan menghentikan agresi terhadap kaum Muslim di Palestina, menjamin keamanan sipil, dan membuka jalur aman yang benar-benar bisa melindungi anak-anak. 

Setelah keamanan terjamin, Khilafah akan memulihkan Gaza secara total. Melalui Baitul Mal, negara akan membangun kembali rumah sakit, sekolah, dan seluruh infrastruktur yang hancur. Layanan kesehatan dan rehabilitasi fisik diberikan gratis, program trauma healing dikelola negara, serta kebutuhan pangan dan gizi anak dipenuhi tanpa tebang pilih. 

Pendidikan Islam ditegakkan agar anak-anak tumbuh dengan akidah yang kokoh dan harapan yang jelas. Lebih dari itu, Khilafah menyatukan seluruh negeri Muslim di bawah satu kepemimpinan. Islam kaffah tidak mengenal sekat nasionalisme yang memecah umat. Dengan persatuan itu, pembebasan Palestina menjadi tanggung jawab bersama seluruh umat, bukan urusan satu negara saja, hanya dengan cara ini amanah melindungi anak-anak Palestina bisa ditunaikan dengan sempurna dan berkelanjutan.

Setiap angka korban anak adalah cerita tentang masa depan yang terputus, tugas kita adalah memastikan tragedi ini tidak terus berulang, dengan memperjuangkan tegaknya Islam kaffah dalam Khilafah. Kita sedang melindungi anak-anak Gaza hari ini dan menjamin masa depan mereka di bawah naungan syariah Islam dalam institusi Khilafah.[]


Oleh: Iswatik 
(Aktivis Muslimah)

0 Komentar