Tak Ada Tempat yang Aman Seantero Gaza bagi Warga Palestina


Mutiaraumat.com -- Rencana Isra*l ingin menguasai wilayah Gaza hingga 70 persen memicu kekhawatiran warga Gaza, penanda garis kuning dibuat oleh Zion*s Yahudi pada bulan Oktober tahun lalu dengan menandai blok beton berwarna kuning sebagai pembatasnya. 

Rakyat Gaza pun harus hidup didalam garis tersebut, nyatanya meskipun garis pembatas itu dibuat tidak ada jaminan keamanan bagi rakyat Gaza di Palestina (Metrotvnews.com 10/06/26).

Selama genjatan senjata masih berlangsung, entitas Zion*s tetap melakukan serangan kepada warga sipil Palestina tak terkecuali anak-anak maupun perempuan. Kekejaman terus berlangsung hingga saat ini dengan rencana pemukiman diperluas hingga 70 persen. 

Bagi warga Palestina tak ada tempat aman seantero Gaza sekalipun mereka dalam kawasan yang katanya masih milik Palestina.

Hasil dari kesepakatan gencatan senjata pada Oktober tahun lalu, bahwa Gaza dibelah menjadi dua zona. Di Timur Garis Kuning sekitar 53-58% wilayah Gaza yang mendapatkan kontrol penuh dari pihak Zion*s, sementara itu di Barat Garis Kuning, sekitar 42-47% wilayah dikuasai Hamas dan dan menjadi tempat pengungsian dua juta warga Gaza.

Larangan diberlakukan bagi warga Gaza untuk tidak menyeberang ke timur garis kuning tersebut, padahal rumah, sumber air bahkan ladang mereka berada pada wilayah tersebut. Siapa pun yang mendekati garis tersebut akan dihadapi dengan tembakan.

Tak kalah mengejutkan juga bahwa AS dan Zion*s berubaya mencabut status Yordania sebagai wali penjaga Waqf Islam komplek masjid. Dan menggantinya dengan badan baru bentukan pemerintahan Zion*S yang akan mendeklarasikan Masjidilaqsa sebagai "pusat multiagama" yang ditandai dengan mengibarkan bendera dan menyanyikan lagu kebangsaan di depan masjid tanpa adanya tindakan tegas dari aparat.

Berbagai cara yang dilakukan Zion*s Yahudi ini merupakan cara yang licik demi menguasai dan merebut Palestina termasuk Masjidilaqsa dari tangan kaum Muslimin.

Semua ini bermula ketika terjadi perjanjian Oslo ll pada tahun 1995 dan diulang kembali pada tahun 2025 lalu yang membagi wilayah A,B dan C yang sangat menguntungkan Zion*s, yang katanya hanya berlaku selama lima tahun.

Namun hingga lebih dari 30 tahun Zion*s terus menguasai wilayah C dengan terus mendirikan pemukiman, menguasai sarana vital, mengawasi keluar masuk warga Gaza, menghancurkan ladang serta merobohkan dan menghancurkan rumah2 warga. 

Hal serupa juga diterapkan di Masjidilaqsa, sejak 1967 Zion*s memegang kendali keamanan diarea masjid, pemegang kunci gerbang, polisi, detektor logam, serta aturan jam dan umur orang yang bisa masuk ke masjid. Waqf Islam Yordania hanya mengurus bagian dalam masjid.

Kondisi seperti ini akan terus berlangsung sebab hasil dari penghianatan para penguasa muslim. Mereka tunduk kepada AS bahkan mendukung adanya solusi dua negara serta bergandengan tangan dengan AS maupun Zion*s demi kelanggengan kekuasaan mereka.

Paham nasionalisme pun terus dihembuskan oleh kafir penjajah kepada para penguasa muslim dan juga kaum muslimin sehingga kekejaman ini terus berlangsung hingga sekarang.

Oleh karena itu, untuk melepaskan dan membebaskan Palestina dan negeri-negeri Muslim lainnya dari tangan dan cengkraman penjajahan kafir penjajah adalah dengan bersatunya kaum muslimin dalam satu komando kepemimpinan yaitu Khilafah.

Dengan adanya Khilafah, Khilafah yang akan menggerakkan tentara kaum muslimin dan mengusir kafir penjajah yang selama ini menguasai negeri-negeri Muslim termasuk Palestina. 

Sebagaimana janji Allah dalam QS. An-Nur:55 bahwa kaum muslimin akan berkuasa dimuka bumi, dan meneguhkan agama Islam serta, menukar keadaan sekarang dengan keadaan aman sentosa. Wallahu'allam bishshowwab.[]

Oleh: Khoiriyah
(Aktivis Muslimah)

0 Komentar