Saat Melahirkan Masih Jadi Judi Nyawa

MutiaraUmat.com -- Miris angka kematian ibu (AKI) di negeri ini masih berstatus tinggi, berada dikisaran 189 hingga mencapai 305/100.000 kelahiran hidup, belum mencapai target, SDGs 2030 yaitu 70/100.000. Menurut ketua umum Pengurus Pusat Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia hal ini sangatlah memprihatinkan. Karena kondisi ini masih terjadi meski jumlah dokter spesialis kebidanan cukup banyak di negeri ini. Dan hal ini menunjukkan Indonesia masih tertinggal dari negara Asia Tenggara lainnya. (Koranindopos.com, Selasa, 21/04/2026)

Adapun salah satu faktor penyebab AKI di Indonesia masih tinggi yaitu distribusi dokter dan fasilitas kesehatan yang tidak merata disejumlah daerah. Daerah perkotaan mempunyai tenaga kesehatan (nakes) dan fasilitas kesehatan (faskes) yang sangat memadai. Sementara untuk pelosok daerah terutama yang berada diluar pulau Jawa nakes dan faskes masih sangat minim.

Selain itu ada kesenjangan lainnya antara pulau Jawa dan luar pulau Jawa, jika di Jakarta SC darurat bisa diselesaikan lebih kurang selama 15 menit, akan tetapi di daerah pedalaman sebagaimana yang terjadi di pulau Sumatra Utara, seorang ibu harus menempuh perjalanan naik perahu dan naik motor selama lebih kurang enam jam lamanya baru sampai ke Rumah Sakit. Jelas hal ini bukan sekedar soal duit saja, tapi juga soal keadilan.

Dari fakta diatas bisa disimpulkan bahwa AKI tinggi ini bukan masalah medis aja, tapi ada beberapa krisis yang terjadi yaitu: Pertama, Krisis Literasi Kesehatan. Banyak ibu hamil yang tidak tahu tanda bahaya dalam kehamilan. Seperti, bengkak wajah, kejang-kejang, sakit kepala hebat, pendarahan dan lainnya. Padahal pendarahan bisa membuat seseorang mati dalam waktu dua jam. 

Kedua, Krisis Akses dan Keadilan. Katanya BPJS sudah mengcover semua persalinan. Tapi, di Papua, Maluku, NTT, bahkan daerah pelosok Sumatra Utara sangat miris dimana Puskesmas dan PONED nya tidak mempunyai dokter. Fasilitasnya seperti USG mengalami kerusakan, bank darahnya juga kosong, sedangkan ibu-ibu daerah tersebut harus dirujuk tiga kali dulu baru dapat penanganan. 

Dari sini jelas penyebab AKI di Indonesia tinggi menunjukkan lalai dan abainya negara dalam melindungi nyawa rakyatnya termasuk ibu hamil. Sehingga berdampak pada kelangsungan hidup bagi anak. 

Karena kondisi yang demikian itu dipertanyakan masihkah kesehatan menjadi hak setiap manusia? Karena didalam negara yang menganut sistem kapitalisme ini segala sesuatu yang mendatangkan nilai guna akan diubah menjadi komoditi. Dengan kata lain saat ini kesehatan bukan lagi hak yang melekat pada manusia, melainkan sudah menjadi lahan basah bagi penguasa dan pengusaha untuk mendapatkan keuntungan yang besar. 

Karena bagaimanapun konsep kesehatan dalam sistem kapitalisme tidak akan pernah cocok dengan filosofi kesehatan itu sendiri sebagai hak dasar bagi setiap manusia. Karena kapitalisme hanya menjadikan kesehatan sebagai sarana untuk meraih keuntungan semata.

Maka konsep inilah yang sebenarnya menjadi masalah bagi sistem kesehatan hari ini. Karena untuk mendapat layanan kesehatan rakyat hanya punya satu pilihan, yaitu membayar. Kata gratis dan cuma-cuma tidak ada dalam kamus kapitalisme. Dengan kata lain "Seberapa banyak yang anda bayar, sebanyak itulah yang anda terima."

Sedangkan dalam Islam, kesehatan itu dipandang sebagai salah satu hak dasar bagi seluruh rakyat yang harus dipenuhi oleh negara dengan sebaik-baiknya dengan biaya terjangkau bahkan gratis. Dan hal ini dapat diwujudkan dengan penerapan sistem ekonomi Islam yang memungkinkan negara memiliki sumber-sumber pendapatan yang mampu memenuhi kebutuhan layanan kesehatan. Salah satunya dari hasil pengelolaan akan sumber daya alam yang tidak terbatas yang telah diciptakan oleh Allah SWT, dan ini hanya akan terealisasi dalam naungan khilafah Islam. Wallahu’alam bishshowab.

Oleh: Santriani Br Bancin, SE 
Aktivis Dakwah

0 Komentar