Rupiah Melemah, UMKM Merana


MutiaraUmat.com -- Melemahnya nilai tukar rupiah mulai berdampak kepada UMKM. Kenaikan bahan baku impor menjadi salah satu penyebab kondisi ini. Salah satunya produksi tempe, yang tidak luput dari dampak kenaikan dolar dan geopolitik dunia. Bagaimana tidak kebutuhan kedelai nasional 90% masih dipenuhi melalui impor, dari kebutuhan nasional sebesar 2,74 juta ton pertahun.

Selain itu Kondisi ini diperparah dengan kenaikan harga plastic yang hampir 100%. Hal ini tentu membuat para pengrajin tempe diberbagai daerah terpaksa menaikkan harga tempe atau mengurangi ukuran agar masih bisa terjangkau. Berbagai kebutuhan pangan yang masih bergantung pada impor menyebabkan semakin sulitnya masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pokok.

Lemahnya nilai tukar rupiah dan mahalnya kedelai impor menunjukkan rapuhnya sistem ekonomi kapitalisme. Sistem ekonomi kapitalisme yang lahir dari buah pemikiran manusia yang lemah dan terbatas, akan sangat mudah sekali untuk bergejolak dan hancur. Selain itu bahwa sistem ekonomi kapitalisme telah membuktikan kegagalan dalam penerapannya.

Dalam hal ini negara yang menggunakan ekonomi kapitalisme telah gagal dalam melindungi keberlangsungan usaha rakyat. Semakin lama rakyat kecil khususnya UMKM semakin kesulitan memutarkan modal usaha karena semakin mahalnya harga bahan baku. Sedangkan negara seolah diam dan tidak mengambil arah kebijakan sama sekali.

Besarnya ketergantungan bahan impor khususnya kedelai menunjukkan lemahnya ketergantungan pangan dan ekonomi suatu negara. Arah kebijakan negara tidak mampu melindungi para petani agar bisa bersaing dengan pasar global. Bahkan secara nyata pemerintah lebih cenderung untuk menggenjot kran impor.

Dalam sistem Islam yaitu khilafah akan menggunakan emas dan perak sebagai alat tukar sehingga nilai uang lebih stabil dan tidak spekulatif. Sebagaimana hadis Nabi, “"Dari Ibnu Umar, ia berkata; Saya datang menemui Nabi dan mengatakan... 'Sesungguhnya saya menjual unta di Baqi' dengan dinar dan mengambil dirham.' Beliau bersabda: 'Tidak mengapa engkau mengambil harga pada hari itu, selama belum berpisah dan antara kalian berdua tidak ada sesuatu (tanggungan).'" (HR. Abu Daud dan lainnya)

Khilafah akan berusaha memaksimalkan potensi dalam negeri guna memenuhi kebutuhan masyarakat. Diantaranya bahwa khilafah akan menghidupkan lahan pertanian dan membangun produksi kedelai mandiri. Mensupport para petani dengan kemudahan bibit dan pupuk baik dari segi harga maupun keberadaannya sehingga produk dalam negeri bisa bersaing dan tidak bergantung pada impor. 

Khilafah juga akan berusaha memberikan kemudahan-kemudahan agar setiap individu mampu memenuhi kenbutuhan pokoknya secara layak. Mulai dari penyediaan lapangan kerja, support pemodalan hingga arah kebijakan untuk melindungi para petani. Semua mekanisme terbaik ini hanya ada dalam system Islam. System yang sudah pernah berdiri lebih dari 1 abad. System yang mendominasi dan memberikan rahmat. Wallahu a’lam.[]


Yosie Purwanti, S.E.
Aktivis Muslimah

0 Komentar