Rupiah Melemah: Buah Penerapan Kapitalisme
Mutiaraumat.com -- Nasib rakyat semakin tak tentu. Melemahnya nilai tukar rupiah meresahkan masyarakat khususnya kalangan menengah ke bawah. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bahkan diperkirakan masih bergerak fluktuatif, namun beresiko ditutup melemah di kisaran Rp 17.650 hingga Rp17.800 pada perdagangan Senin (25/5/2026) (Bisnis.com, 25/5/2026).
Siapa pun paham, baik yang hidup di perkotaan ataupun desa, bahwa melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, akan berpengaruh terhadap stabilitas ekonomi keluarga, masyarakat hingga negara.
Dampaknya sangat luas, mulai dari kenaikan harga barang impor, tingginya biaya produksi hingga daya beli masyarakat semakin menurun. Faktanya, ekonomi Indonesia sangat bergantung pada bahan baku impor hingga nilai 70%, yakni impor yang tersebar pada industri kimia, tekstil, elektronik, minyak dan gas, obat-obatan hingga kendaraan pribadi (bbc.com, 16/5/2026).
Tidak hanya dirasakan oleh pelaku usaha besar, efek negatif melemahnya rupiah justru menjalar hingga masyarakat desa. Sebagai contoh, pakan ternak masih menggunakan jagung impor, begitu pula produksi tahu dan tempe bergantung pada kedelai impor.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Perdagangan terbaru, bahwa sekitar 85% kebutuhan kedelai nasional masih dipenuhi melalui impor, terutama dari Amerika Serikat dan Brasil (Ums.ac.id, 21/5/2026).
Rupiah yang terus melemah tidak hanya karena faktor teknis ekonomi semata, namun berakar pada sistem ekonomi kapitalisme yang berasaskan sekulerisme.
Sekularisme merupakan pemisahan agama dari berbagai aspek kehidupan, termasuk perkara pengaturan ekonomi. Dalam sistem kapitalisme, mata uang yang dipakai adalah uang fiat (kertas) yang tidak memiliki nilai intrinsik, serta tidak ditopang oleh aset riil seperti emas ataupun perak.
Nilai mata uang bergantung pada kepercayaan pasar, kebijakan bank sentral, hingga kekuatan ekonomi dan politik sebuah negara.
Hal inilah yang menjadikan nilai rupiah rentan terhadap gejolak global dan mudah terdepresiasi.
Selain itu, praktik riba dalam sistem keuangan kapitalis menyebabkan ketergantungan pada utang baik oleh negara maupun sektor swasta. Ketidakpastian kondisi ekonomi membuat masyarakat kehilangan arah dan sulit bangkit dari keterpurukan.
Solusi Islam
Islam memiliki solusi yang berbeda dan mendasar. Dalam Sistem Ekonomi Islam yang diatur berdasarkan Syariat Allah Swt, salah satu pilar pentingnya adalah penggunaan mata uang berbasis emas dan perak (dinar dan dirham).
Emas dan perak memiliki nilai intrinsik dan tidak dapat dicetak sembarangan sebagaimana uang kertas. Sepanjang sejarah, uang kertas relatif stabil dan tidak mudah terbawa inflasi. Standar emas dan perak meminimalisir manipulasi nilai mata uang, sehingga stabilitas harga lebih terjaga, dan daya beli masyarakat tetap terjaga.
Sepanjang sejarah Islam, sejak masa Rasulullah Saw hingga Khilafah Utsmaniyah, umat Islam menggunakan dinar (emas) dan dirham (perak) sebagai mata uang resmi. Bukan karena tradisi, tapi merupakan ketentuan syar'i yang berkaitan langsung dengan hukum-hukum lain seperti zakat, diyat, hudud dan jual.beli.
Islam juga secara mutlak melarang riba sehingga tidak akan ada peluang pembentukan lembaga apapun, baik pemerintah ataupun swasta yang menjadikan riba sebagai basisnya. Masyarakat didorong untuk menjalankan aktivitas ekonomi berbasis sektor riil.
Sektor riil yang bergerak aktif akan berdampak pada banyaknya proyek yang akan berjalan, hasil panen melimpah, industri tumbuh, toko ramai pembeli, arus uangpun lebih cepat berputar.
Di sisi lain negara yang menerapkan ekonomi Islam akan berperan aktif mengelola sumber daya alam untuk kepentingan rakyat, bukan untuk diserahkan kepada korporasi swasta atau asing. Distribusi kekayaan juga di atur agar tidak beredar di kalangan orang kaya saja sehingga terwujud pemerataan kesejahteraan.
Ini baru sekelumit dari luas dan rincinya aturan ekonomi Islam. Dari sini saja terlihat jelas solusi Islam yang mendasar dan menyeluruh. Solusi hakiki tentu memerlukan perubahan sistem kapitalisme sekuler menuju sistem ekonomi Islam, yang menerapkan aturan Allah secara menyeluruh, termasuk penggunan emas dan perak sebagai basis mata uang, sehingga stabilitas moneter, keadilan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
Allah Swt berfirman dalam Qur'an surah Al A'raf ayat 6:
"Dan sekiranya penduduk negeri- negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi."
Demikianlah, saat ini kita hidup dalam sistem ekonomi yang dibangun di atas pondasi yang rapuh, yakni riba, inflasi, utang dan manipulasi moneter. Sedangkan Islam, merupakan sistem yang adil dan kokoh, termasuk dalam aspek moneter. Penggunaan kembali dinar dirham bukan semata romantisme sejarah, namun solusi nyata atas krisi global yang tak kunjung usai. Wallahua'lam bishshowwab.[]
Oleh: Linda Maulidia, S.Si
(Aktivis Muslimah)
0 Komentar