Nikmat Sehat Adalah Nikmat yang Sering Terlupakan
MutiaraUmat.com -- "Bersyukurlah kamu masih sehat, Mas. Enak ya bisa naik motor, makan enak, bisa jalan. Nenek duduk saja susah."
Kalimat itu keluar dari bibir neneknya yang terbaring lemah di atas tempat tidur rumah sakit. Anakku yang duduk di sampingnya hanya terdiam. Mungkin untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa berjalan tanpa rasa sakit, makan dengan lahap, dan menggerakkan tubuh dengan bebas ternyata bukan hal biasa. Semua itu adalah nikmat yang luar biasa.
Kita sering menganggap sehat sebagai sesuatu yang otomatis. Bangun pagi tanpa nyeri, menghirup udara tanpa sesak, dan melangkahkan kaki tanpa bantuan dianggap hal biasa. Padahal, ada banyak orang yang rela menukar seluruh hartanya agar bisa kembali berjalan, kembali makan dengan lahap, atau sekadar tidur tanpa rasa sakit.
Benarlah sabda Rasulullah Saw,
"Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu padanya, yaitu kesehatan dan waktu luang."
(HR. Bukhari).
Hadis ini begitu menampar. Sebab manusia baru menyadari mahalnya kesehatan ketika nikmat itu mulai dicabut sedikit demi sedikit.
Saat sehat, kita sering mengeluh karena cuaca panas, makanan kurang enak, pekerjaan menumpuk, atau kendaraan macet. Namun ketika sakit datang, kita baru menyadari bahwa duduk tanpa rasa nyeri saja adalah kemewahan.
Rumah sakit menjadi saksi bisu bahwa nikmat sehat adalah nikmat yang paling sering dilupakan. Di sana, ada yang ingin kembali berjalan. Ada yang ingin kembali mengunyah makanan favoritnya. Ada yang hanya ingin bisa tidur tanpa alat bantu pernapasan. Bahkan ada yang berharap bisa pulang dan berkumpul bersama keluarga untuk terakhir kalinya.
Allah Swt. berfirman,
"Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya."
(QS. Ibrahim: 34).
Kesehatan termasuk nikmat terbesar yang sering luput dari perhitungan kita. Karena ia diberikan setiap hari, manusia menganggapnya biasa. Padahal, setiap detak jantung, setiap tarikan napas, dan setiap langkah kaki adalah karunia yang tidak ternilai.
Imam Ibnul Qayyim mengatakan,
"Nikmat yang paling sempurna setelah iman adalah kesehatan."
Karena dengan sehat, seorang hamba mampu beribadah dengan baik, mencari ilmu, bekerja, dan menunaikan berbagai kewajibannya.
Dalam kitab Asy-Syakhsiyah Al-Islamiyah, Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani menjelaskan bahwa seorang Muslim wajib membangun kepribadiannya di atas akidah Islam, sehingga cara berpikir dan cara menyikapi segala sesuatu selalu dikaitkan dengan hubungan kepada Allah. Nikmat dan musibah dipandang sebagai bagian dari ujian kehidupan yang harus mengantarkan manusia semakin dekat kepada Rabb-nya.
Ketika sehat, seorang Muslim tidak boleh merasa hebat atau sombong. Sebaliknya, ia harus menyadari bahwa kesehatan adalah amanah dari Allah yang akan dimintai pertanggungjawaban. Untuk apa tubuh yang sehat digunakan? Untuk ketaatan atau justru untuk kemaksiatan?
Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani juga menjelaskan bahwa seorang mukmin memandang segala sesuatu berdasarkan standar halal dan haram serta mencari keridaan Allah dalam setiap aktivitasnya. Maka kesehatan bukan sekadar anugerah fisik, melainkan sarana untuk semakin mendekat kepada Allah dan memperbanyak amal saleh.
Imam Al-Ghazali juga mengingatkan,
"Barang siapa yang tidak mensyukuri nikmat ketika ia ada, maka ia akan mengetahui nilainya ketika nikmat itu hilang."
Betapa banyak orang yang baru menghargai kesehatan setelah berbulan-bulan terbaring di rumah sakit. Baru menyadari nikmatnya menggerakkan kaki setelah harus menggunakan kursi roda. Baru merasakan indahnya bernapas ketika paru-parunya mulai melemah.
Karena itu, jangan menunggu sakit untuk bersyukur.
Bersyukurlah karena hari ini kita masih bisa berdiri sendiri. Bersyukurlah karena masih bisa menyuapi diri sendiri. Bersyukurlah karena masih bisa memeluk orang-orang tercinta.
Jika hari ini Allah masih memberikan tubuh yang sehat, gunakanlah untuk beribadah, menebar kebaikan, dan mendekat kepada-Nya. Jangan sampai kesehatan habis hanya untuk mengejar dunia, sementara kita lupa bersujud kepada Sang Pemberi Nikmat. Sebab pada akhirnya, kita akan memahami satu hal yang sering terlambat disadari manusia bahwa nikmat sehat bukanlah sesuatu yang biasa. Ia adalah hadiah besar dari Allah yang sering kita lupakan sampai suatu hari kita kehilangannya.
Semoga Allah menjaga kesehatan kita, mengampuni kelalaian kita dalam mensyukuri nikmat-Nya, dan menjadikan tubuh yang sehat ini sebagai sarana untuk semakin taat kepada-Nya.
"Ya Allah, karuniakanlah kepada kami kesehatan, keberkahan umur, dan kemampuan untuk menggunakan setiap nikmat-Mu di jalan yang Engkau ridai." Aamiin.
Barakallahufikum
Oleh: Nabila Zidane
Jurnalis
0 Komentar