Negara Gagal Melindungi Nyawa Ibu Melahirkan


MutiaraUmat.com -- Angka kematian ibu (AKI) di Indonesia saat ini sangat tinggi di Asia Tenggara, padahal jumlah dokter kandungan surplus. Mungkin hal ini terjadi bukan karena kurangnya dokter kandungan, tetapi bagaimana seorang dokter itu memperlakukan pasiennya. Menjelaskan kepada pasien tentang bagaimana keadaan janinnya dan bagaimana seharusnya seorang dokter itu bisa menenangkan pasien. Karena sekarang ini banyak praktisi kesehatan itu bukan menenangkan pasien tapi malah menakut-nakuti pasien.

Kebanyakan dokter kandungan itu tinggalnya di kota atau di kota-kota besar, sedangkan di daerah, apalagi daerah 3T (Tertinggal, Terpencil, Terluar) seperti Papua, jumlahnya sangat minim. Ini karena tingkat kesejahteraan dan fasilitas di daerah dan daerah 3T jauh jika dibandingkan dengan kota besar. Seharusnya walaupun di daerah 3T itu juga harus ada dokter kandungan biar ibu -ibu yang hamil itu mudah menemuinya apalagi jika kandungannya bermasalah. Dan sebagai seorang dokter dalam melayani masyarakat harus adil jangan sampai membeda-bedakan pasien.

Upaya pemerataan dokter kandungan, misalnya dengan program WKDS (Wajib Kerja Dokter Spesialis), saat ini tidak bisa dilakukan karena dianggap melanggar HAM. Karena adanya program WKDS saat ini, maka semua aturan yang dianggap baik untuk pemerataan dokter kandungan dianggap melanggar HAM.

AKI (Angka Kematian Ibu) tinggi menunjukkan negara gagal melindungi nyawa ibu. Karena kurangnya dokter kandungan dan kurangnya perawat untuk menjelaskan atau memahamkan bagaimana seorang ibu hamil itu seharusnya makan yang bergizi dan sebagainya. Hal Ini berdampak pada kelangsungan hidup anak karena ibu-ibu saat ini kebanyakan tidak mau makan yang banyak karena takut gemuk.

Kesehatan dalam kapitalisme hanya dianggap sebagai komoditas sehingga dipenuhi untuk tujuan materi (keuntungan), bukan untuk pelayanan rakyat. Kapitalisme hanya peduli pada jumlah tenaga kesehatan, tetapi abai dalam distribusinya sehingga tidak menyelesaikan masalah. Negara hanya menjadi regulator, bukan pengurus rakyat. 

Distribusi dokter kandungan menjadi salah satu penyebab tingginya AKI. Namun, sebenarnya persoalannya sistemis, yaitu terkait jaminan pemerataan kesejahteraan masyarakat dan pemerataan infrastruktur kesehatan (ketersediaan faskes, RS, dokter, perawat, bidan, dll.). 

Islam memosisikan kesehatan adalah kebutuhan dasar rakyat yang wajib dipenuhi negara. Dan negara tidak melihat bagaimana keadaan rakyat sekarang apa yang dibutuhkan. Semua rakyat memikirkan sendiri dan mencari solusi sendiri.

Negara menyediakan fasilitas kesehatan, infrastruktur, dan nakes dalam jumlah cukup dan terdistribusi merata. Tidak boleh ada daerah yang kekurangan layanan kesehatan. Khilafah juga membangun infrastruktur (seperti jalan) untuk memudahkan akses masyarakat terhadap layanan kesehatan. 

Khilafah membiayai sektor kesehatan, pendidikan, keamanan dan kebutuhan makanan bisa ambil dari Baitul Mal sehingga tersedia gratis.[]


Oleh: Harminah
Aktivis Muslimah

0 Komentar