Kurangnya Perhatian Orang Tua kepada Anak Saat Ini Akibat Kapitalisme


MutiaraUmat.com -- Kekerasan terhadap anak terus terjadi setiap hari, bahkan setiap detik. Saat ini kekerasan terhadap anak terjadi dalam berbagai lini kehidupan, baik di rumah, di luar rumah, maupun ranah daring. Tidak ada ruang aman bagi anak.

Miris! Selama empat bulan terakhir ini banyak terjadi kekerasan pada anak-anak, yaitu pada bulan Januari-April 2026, laporan pengaduan yang masuk ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia atau KPAI mencapai 426 kasus. Tencatat kasus terbanyak adalah pelecehan seksual dan korban kekerasan paling banyak pada anak adalah di rumah. Sedangkan, di dunia daring data terbanyak adalah keterlibatan anak dengan judi online.

Sekularisme merupakan mekanisme yang memisahkan Islam dari kehidupan sehingga keimanan tidak lagi menjadi benteng individu dan keluarga. Orientasi hidup dalam kehidupan hanya mengejar materi, sehingga anak pun tidak lagi dipandang sebagai amanah dari Allah. Tetapi anak itu hanya dianggap sebagai titipan dan tidak perlu dijaga dengan baik. Dan anak-anak hanya dicukupi kebutuhannya secara materi, semisal minta HP dibelikan dan orang tua tidak mengontrol atau tidak memperdulikan penggunaannya sehingga mereka terjerumus pada judol dan pinjol.

Dalam penerapan sistem ekonomi kapitalisme telah menciptakan tekanan ekonomi yang menghimpit keluarga. Kemiskinan dan kesenjangan sosial menjadi pemicu kekerasan di dalam rumah tangga. Biasanya jika ada kekerasan dalam rumah tangga anak itu menjadi korban dari pelampiasan mereka. Biasanya yang terjadi anak itu menjadi temperamen, tidak punya rasa malu sedikitpun, dalam berbicara tidak sopan.

Negara Kapitalisme gagal hadir sebagai junnah bagi rakyatnya, termasuk bagi anak-anak. Solusi yang ditawarkan pun ketika ada masalah hanya ditangani seenaknya sendiri tanpa menyentuh akar permasalahannya. Misalnya penanganan penggunaan sosial media bagi anak. Seharusnya sosial media itu perlu pengawasan dari pemerintah biar anak-anak itu tidak mencontoh. Apa yang mereka lihat di HP itu dianggap baik, gampang mencontoh apa yang sedang viral walaupun resikonya fatal dan berbahaya.

Selain itu, sanksi bagi pelaku tindak kekerasan terhadap anak tidak memberikan efek jera pada pelakunya sehingga kasus terus berulang. Dan terus terjadi dimana-mana

Islam menjadikan akidah sebagai fondasi keluarga sehingga keimanan menjadi benteng pertama. Orang tua yang memahami Islam akan memandang anak sebagai amanah yang wajib dijaga dan dilindungi dari berbagai persoalan dunia.

Sistem ekonomi Islam memastikan kebutuhan dasar dalam keluarga semua terpenuhi oleh negara, sehingga tekanan ekonomi tidak lagi menjadi pemicu kekerasan dalam rumah tangga. Dan semua keluarga saling membantu dan saling menghargai. Setiap anggota keluarga saling berkaitan dan saling mengingatkan jika menjauh dari Islam, tidak seperti saat ini di mana-mana terjadi pelecehan.

Negara Khilafah hadir sebagai raa'in dan junnah. Negara akan menutup pintu kerusakan dari hulunya, yakni dengan membangun pemahaman Islam yang benar di tengah umat dengan penerapan sistem pendidikan Islam, kemudian menjaga media agar tidak merusak akidah dan membahayakan rakyat.

Negara Khilafah menerapkan sistem sanksi (uqubat) yang bersifat zawajir dan jawabir bagi pelaku kekerasan terhadap anak, sehingga membuat efek jera dan orang lain tidak berani mengulang perbuatan yang sama sehingga dapat memutuskan rantai kejahatan.[]


Oleh: Harminah
(Aktivis Muslimah)

0 Komentar