Ketika Foto Estetik Lebih Penting daripada Keselamatan


MutiaraUmat.com -- Kabar duka kembali datang dari dunia wisata. Elmi (17 tahun), seorang pelajar SMA, dilaporkan tenggelam di kawasan wisata Apparalang, Desa Lembanna, Kecamatan Bonto Bahari, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, Minggu (7/6). Korban jatuh ke laut setelah terkena hempasan ombak saat berswafoto di tebing Apparalang yang terkenal dengan pemandangan lautnya yang indah.

Menurut Kepala BPBD Bulukumba, Andi Hasbullah, korban berada di pinggiran tebing yang menjadi salah satu spot favorit pengunjung untuk berfoto. Ombak besar datang menghantam area tersebut hingga menyebabkan korban terjatuh dan tenggelam.(kumparannews.com, 8/7/2026)

Membaca berita seperti ini, perasaan saya campur aduk. Sedih, miris, sekaligus khawatir. Sedih karena nyawa seorang remaja melayang di usia yang begitu muda. Miris karena kejadian serupa terus berulang. Khawatir karena fenomena ini seolah menjadi potret generasi yang semakin akrab dengan kamera, tetapi semakin jauh dari kesadaran akan risiko.

Zaman sekarang, seolah ada perlombaan tak tertulis. Siapa yang fotonya paling estetik, paling unik, paling berani, paling layak masuk FYP, dialah yang dianggap keren. 

Akibatnya, banyak anak muda rela berdiri di bibir jurang, duduk di tepi tebing, bergelantungan di lokasi berbahaya, bahkan menerobos area terlarang hanya demi satu kata, yaitu konten.

Kadang saya bertanya dalam hati, apakah sebuah foto benar-benar sebanding dengan nyawa?

Keindahan alam memang layak dinikmati. Namun ketika keinginan mendapatkan gambar yang menarik mengalahkan naluri menjaga keselamatan diri, di situlah masalah bermula. Apalagi pada usia remaja yang secara psikologis memang cenderung menyukai tantangan, mencari pengakuan sosial, dan sering merasa dirinya tidak akan mengalami hal buruk.

Namun menyalahkan korban semata tentu bukan sikap yang adil. Ada tanggung jawab lain yang tidak boleh diabaikan, yaitu tanggung jawab pengelola wisata. Tidak sedikit tempat wisata yang berlomba-lomba mempromosikan spot ekstrem karena dianggap menarik wisatawan. Foto-foto menawan dipajang di media sosial, pengunjung berdatangan, tiket terjual, keuntungan meningkat. 

Namun pertanyaannya, apakah sistem keamanannya sudah memadai?
Apakah tersedia pagar pengaman yang layak? Apakah ada petugas yang aktif mengawasi? 
Apakah ada papan peringatan yang jelas dan mudah dipahami? 
Apakah area berbahaya benar-benar dibatasi aksesnya?

Jangan sampai keselamatan pengunjung menjadi urusan nomor dua, sementara pemasukan menjadi prioritas utama. Wisata bukan hanya soal mendatangkan orang sebanyak-banyaknya, tetapi juga memastikan mereka pulang dengan selamat.

Di sisi lain, negara juga tidak boleh lepas tangan. Pengawasan terhadap standar keamanan tempat wisata seharusnya menjadi bagian dari pelayanan publik yang serius. Ketika sebuah lokasi terbukti memiliki risiko tinggi, negara wajib memastikan adanya regulasi, inspeksi, dan pengawasan yang ketat.

Keselamatan rakyat tidak boleh bergantung pada kesadaran individu semata atau niat baik pengelola. Sayangnya, dalam sistem kapitalisme, ukuran keberhasilan sering kali bertumpu pada angka kunjungan dan keuntungan ekonomi. Akibatnya, aspek perlindungan manusia kerap kalah oleh pertimbangan bisnis.

Islam memandang persoalan ini dari akar yang lebih mendasar, yaitu cara pandang terhadap kehidupan. Syekh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan bahwa perilaku manusia sangat ditentukan oleh mafahim (pemahaman) yang ia miliki tentang hidup. 

Ketika kebahagiaan diukur dari popularitas, pujian manusia, atau validasi media sosial, seseorang akan mudah mengambil risiko demi mendapatkan pengakuan tersebut.

Sebaliknya, Islam membentuk kepribadian yang menjadikan ridha Allah sebagai tujuan utama. Seorang Muslim diajarkan untuk berpikir sebelum bertindak, menimbang manfaat dan mudarat, serta menjaga amanah berupa nyawa yang telah Allah titipkan.

Allah SWT berfirman, "Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan." (TQS Al-Baqarah: 195)

Ayat ini mengajarkan bahwa menjaga keselamatan bukan sekadar pilihan, melainkan bagian dari ketaatan kepada Allah.

Dalam sistem Islam, negara juga memiliki kewajiban penuh sebagai pengurus dan pelindung rakyat. 

Rasulullah Saw bersabda, "Imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang diurusnya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Karena itu, negara tidak cukup hanya membangun destinasi wisata dan menarik wisatawan. Negara wajib memastikan seluruh sarana publik memenuhi standar keamanan terbaik. Area berbahaya diberi perlindungan maksimal, petugas tersedia secara memadai, dan pengelola yang lalai dapat dimintai pertanggungjawaban.

Tragedi Elmi seharusnya menjadi pelajaran bagi semua pihak. Bagi para remaja, bahwa tidak semua tempat layak dijadikan latar foto. Bagi orang tua, bahwa pengawasan dan edukasi keselamatan harus terus dilakukan. Bagi pengelola wisata, bahwa keuntungan tidak boleh mengalahkan keamanan. Dan bagi negara, bahwa perlindungan nyawa rakyat adalah amanah yang tidak boleh diabaikan.

Karena pada akhirnya, foto estetik bisa dibuat berkali-kali. Konten bisa dihapus dan diganti. Popularitas media sosial bisa datang dan pergi.
Tetapi satu nyawa yang hilang tidak akan pernah kembali.[]


Nabila Zidane
Jurnalis

0 Komentar