Kapitalisme Mematikan Kemandirian Pangan
MutiaraUmat.com -- Beberapa bulan terakhir harga tempe naik lagi. Bukan cuma naik, tapi ukurannya dikecilkan. Produksinya dikurangi. Perajin tahu-tempe di Malang, Jakarta Barat, sampai pelosok daerah lain menjerit.
Penyebabnya sama, rupiah melemah, harga kedelai impor langsung melambung. Padahal tempe itu lauk wajib rakyat kecil, sumber protein paling murah. Rasulullah bersabda:
"كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ"
"Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya." (HR. Bukhari Muslim)
Hadis ini menampar kita. Urusan perut rakyat bukan urusan remeh. Kalau harga tempe saja tak sanggup dijaga, lalu apa yang bisa diharapkan?
Ketergantungan kita pada kedelai impor sudah akut. Data menyebut nilainya mencapai triliunan rupiah setiap tahun. Delapan puluh persen lebih kebutuhan kedelai tempe masih didatangkan dari luar. Saat dolar naik, perajin langsung tercekik. Mau jual mahal, pembeli kabur. Mau jual murah, rugi sendiri. Jalan tengahnya ya kecilkan ukuran dan kurangi produksi. Dampaknya panjang. Gizi anak-anak menurun, daya beli makin lemah, usaha kecil gulung tikar.
Allah SWT berfirman:
"وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ"
Artinya: "Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan." (QS. Al-Baqarah ayat 195)
Kebijakan yang membuat rakyat sulit makan itu bentuk menjerumuskan diri ke kebinasaan, bukan?
Kalau ditelusuri lebih dalam, masalahnya bukan cuma kedelai. Harga plastik kemasan juga ikut naik. Biaya produksi jadi double. Perajin kecil dipaksa berjuang sendirian tanpa payung negara. Inilah wajah kapitalisme.
Sistem yang menjadikan pasar bebas sebagai tuhan. Harga naik turun diserahkan pada spekulan, kurs, dan importir besar. Negara seharusnya jadi pengurus dan pelindung rakyat. Kenyataannya negara lemah. Subsidi salah arah, stok pangan dikuasai segelintir orang.
Rasulullah bersabda:
"لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ"
Artinya: "Tidak beriman seseorang di antara kalian sampai ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri." (HR. Bukhari Muslim)
Bagaimana bisa disebut beriman kalau sistem yang dibuat malah membuat saudara sendiri kelaparan?
Akar paling dalamnya adalah matinya kemandirian pangan. Indonesia tanahnya subur, air melimpah, petani banyak. Tapi sawah diubah jadi perumahan, lahan produktif dibiarkan tidur.
Petani tidak dapat modal, tidak dapat teknologi, tidak dapat kepastian harga. Akhirnya mereka berhenti bertani. Kedelai lokal mati, impor jadi raja. Allah berfirman:
"الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً"
Artinya: "Dan Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu sebagai hamparan dan langit sebagai atap." (QS. Al-Baqarah ayat 22)
Bumi Indonesia sudah dihamparkan sempurna. Tinggal bagaimana penguasa mengelolanya. Kalau yang dipilih jalan impor terus, maka kedaulatan pangan hanya jadi slogan kosong.
Maka wajar kalau rakyat kecil terus jadi korban. Harga bahan pokok naik bukan karena alam, tapi karena sistem. Sistem kapitalisme memang begitu wataknya. Ia lahir dari rahim riba dan spekulasi. Uang kertas fiat yang dipakai hari ini nilainya bisa anjlok kapan saja. Tidak ada jaminan stabil. Rakyat kecil yang gajinya pas-pasan paling merasakan sakitnya. Allah berfirman:
"وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَن تَكُونَ تِجَارَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ"
Artinya: "Dan janganlah kamu memakan harta sesamamu dengan jalan batil kecuali dengan jalan perdagangan yang berlaku suka sama suka di antara kamu." (QS An-Nisa ayat 29)
Menjadikan rakyat tergantung impor lalu membiarkannya jatuh saat kurs naik, itu bukan perdagangan suka sama suka. Itu zalim!
Lalu apa solusinya? Tambal sana sini sudah terbukti gagal. Subsidi dicabut, harga naik lagi. Impor dibuka, petani lokal mati lagi. Masalah sistemik hanya bisa diselesaikan dengan solusi sistemik. Islam punya jawabannya. Khilafah akan menerapkan mata uang dinar dan dirham, emas dan perak. Nilainya riil, tidak bisa dicetak seenaknya, tidak bisa diguncang spekulan valas. Harga jadi stabil, perajin tenang berproduksi. Rasulullah bersabda:
"الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ مِثْلًا بِمِثْلٍ يَدًا بِيَدٍ"
Artinya: "Emas dengan emas, perak dengan perak, harus sama, tunai, dan sejenis." (HR Muslim)
Sistem ini menjaga keadilan dan menutup pintu spekulasi.
Khilafah juga wajib menghidupkan pertanian. Lahan mati akan dibuka, petani diberi modal tanpa riba, teknologi pertanian digalakkan, dan negara menjamin harga pembelian. Targetnya jelas, swasembada pangan. Kedelai lokal digenjot sampai tidak butuh impor lagi. Allah berfirman:
"وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا"
Artinya: "Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari kenikmatan duniawi." (QS Al-Qash ayat 77)
Mengelola bumi untuk kemandirian pangan itu bagian dari kenikmatan duniawi yang diperintahkan Allah.
Lebih dari itu, politik ekonomi Islam punya tujuan tunggal, pemenuhan kebutuhan pokok setiap individu rakyat. Sandang, pangan, papan adalah tanggung jawab negara. Perajin kecil tidak akan dibiarkan berhadapan langsung dengan kartel impor. Negara hadir sebagai penanggung jawab, bukan penonton. Rasulullah bersabda:
"الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ"
Artinya: "Imam adalah perisai, rakyat berperang di belakangnya dan berlindung dengannya." (HR Bukhari Muslim)
Perisai itu artinya melindungi. Melindungi perajin dari tekanan harga, melindungi rakyat dari kelaparan.
Jadi jelas, mahalnya tempe bukan sekadar soal kedelai. Ini soal sistem. Selama kapitalisme berkuasa, maka rakyat kecil akan terus terjepit setiap kali dolar naik. Tempe murah, perajin sejahtera, rakyat kenyang, itu bukan mimpi. Itu hasil nyata ketika syariah diterapkan secara kaffah.
Saatnya kita berani berpindah. Berpindah dari sistem yang menzalimi, menuju sistem yang dijamin Allah dan Rasul-Nya. Wallahu a’lam bishshawab.[]
Oleh: Iswatik
(Aktivis Muslimah)
0 Komentar