Islam Menjamin Keselamatan Ibu dan Anak


MutiaraUmat.com -- Indonesia kembali menorehkan prestasi di kawasan Asia Tenggara. Bukan prestasi yang membanggakan, tetapi sebuah kasus yang membuat hati ini sangat miris. Bagaimana tidak, di saat jumlah dokter kandungan dinyatakan surplus, justru kasus Kematian Ibu dan Anak (KIA) di Indonesia dinyatakan paling tinggi di Asia Tenggara. Kasus terakhir terjadi pada akhir tahun 2025 yang menimpa seorang ibu berusia 31 tahun. Kasus ini terjadi di Jayapura Papua. Ibu berusia 31 tahun ini meninggal sebelum melahirkan sang buah hati dikarenakan beberapa rumah sakit menolak persalinannya karena berbagai macam alasan.

Melihat fakta di atas, seharusnya menjadikan kita bertanya-tanya ke mana para dokter kandungan yang dinyatakan jumlahnya surplus oleh pemerintah Indonesia. Dokter kandungan yang katanya jumlahnya surplus ternyata distribusinya tidak rata. Karena pada faktanya, dokter kandungan hanya terkonsentrasi di kota-kota besar. Sedangkan di daerah pedalaman terutama 3T (Tertinggal, Terpencil, Terluar) seperti Papua, jumlahnya sangat minim. Hal ini dikarenakan tingkat kesejahteraan dan fasilitas di daerah terutama daerah 3T jumlahnya sangat minim dan terbatas.

Sementara itu program pemerintah untuk meratakan jumlah dokter kandungan di berbagai daerah yakni salah satunya adalah program WKDS (Wajib Kerja Dokter Spesialis) telah lama diberhentikan. Program WKDS ini diberhentikan dengan alasan melanggar HAM dikarenakan program ini dianggap memaksa.

AKI (Angka Kematian Ibu) tinggi menunjukkan negara gagal melindungi nyawa ibu. Ini berdampak pada kelangsungan hidup anak. Tingginya angka kematian ibu dan anak di negeri ini bukanlah tanpa sebab. Semua ini disebabkan karena penerapan sistem kapitalisme sekularisme di negeri ini.

Dalam sistem ini pelayanan kesehatan dianggap hanya sebagai komoditas sehingga tujuannya untuk mengejar materi. Kapitalisme hanya peduli pada jumlah tenaga kesehatan, tetapi abai dalam distribusinya sehingga tidak menyelesaikan masalah. Negara hanya menjadi regulator, bukan pengurus rakyat. 

Distribusi dokter kandungan menjadi salah satu penyebab tingginya AKI. Namun, sebenarnya persoalannya sistemis, yaitu terkait jaminan pemerataan kesejahteraan masyarakat dan pemerataan infrastruktur kesehatan (ketersediaan faskes, RS, dokter, perawat, bidan, dll.). 

Solusi Islam

Islam memposisikan kesehatan adalah kebutuhan dasar rakyat yang wajib dipenuhi negara. Negara menyediakan fasilitas kesehatan, infrastruktur, dan nakes dalam jumlah cukup dan terdistribusi merata. Tidak boleh ada daerah yang kekurangan layanan kesehatan. Khilafah juga membangun infrastruktur (seperti jalan) untuk memudahkan akses masyarakat terhadap layanan kesehatan. Khilafah membiayai sektor kesehatan dari Baitul Mal sehingga tersedia gratis. 

Berikut solusi Islam dalam mengatasi kasus Kematian Ibu dan Anak, antara lain:

Pertama. Layanan kesehatan gratis.
Negara wajib menyediakan fasilitas medis dan tenaga kesehatan yang mudah diakses dan gratis untuk seluruh rakyat. Dengan adanya pelayanan kesehatan gratis maka keselamatan keluarga terutama ibu dan anak akan terjamin.

Kedua. Pendidikan kesehatan.
Pemerintah dan ulama akan memberikan edukasi kepada masyarakat terkait pemeriksaan kesehatan selama kehamilan.

Ketiga. Pengaturan jarak kelahiran.
Islam menganjurkan ibu menyusui selama 2 tahun. Hal ini secara tidak langsung telah mengatur jarak kehamilan untuk menjaga kesehatan ibu.

Keempat. Pemenuhan nutrisi.
Negara memenuhi kesejahteraan ekonomi rakyatnya agar ibu hamil bisa memenuhi kebutuhan nutrisinya dengan baik.

Kelima. Hak menyusui dan pengasuhan.
Suami wajib memberikan nafkah secara penuh agar istrinya fokus menjaga kesehatan dirinya dan bayinya dengan baik.

Keenam. Larangan aborsi.
Islam melindungi nyawa janin sejak awal dan mengharamkan aborsi kecuali dalam keadaan darurat yang bisa mengancam keselamatan nyawa sang ibu.[]


Oleh: Ummu Aqila
Aktivis Muslimah

0 Komentar