Harga Pangan Melonjak, Pedagang dan Pembeli Sama-Sama Menjerit

Mutiaraumat.com -- Kenaikan harga pangan kembali menjadi momok bagi masyarakat. Dalam beberapa pekan terakhir, harga cabai dan bawang merah mengalami lonjakan di berbagai daerah. 

Kondisi ini tidak hanya membuat pembeli mengeluh, tetapi juga menekan para pedagang yang mengalami penurunan omzet akibat melemahnya daya beli masyarakat. 

Di Palembang, harga bawang merah bahkan naik dari kisaran Rp35.000 menjadi Rp50.000 per kilogram, sementara sebagian jenis bawang merah lainnya mencapai Rp60.000 per kilogram.

Para pedagang mengaku pembeli semakin sepi karena masyarakat mengurangi jumlah belanja mereka. (Detik.com, Rabu 10 Juni 2026)

Lonjakan harga juga terjadi pada komoditas cabai. Di sejumlah pasar tradisional di Jombang, harga cabai rawit menembus Rp100.000 per kilogram. 

Kenaikan ini membuat pedagang kesulitan menjual dagangannya karena banyak pembeli memilih mengurangi konsumsi atau membeli dalam jumlah yang jauh lebih sedikit dibanding biasanya. (iNews.id, Selasa 2 Juni 2026)

Data nasional pun menunjukkan tren yang sama. Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) mencatat harga cabai rawit merah mencapai Rp75.700 per kilogram, sedangkan bawang merah berada di angka Rp54.350 per kilogram. Angka ini menunjukkan bahwa gejolak harga pangan masih menjadi persoalan serius yang dirasakan masyarakat di berbagai daerah (ANTARA, Minggu 7 Juni 2026).

Fenomena ini sesungguhnya bukan hal baru. Hampir setiap tahun masyarakat menghadapi persoalan serupa. Ketika pasokan berkurang atau distribusi terganggu, harga pangan langsung melonjak. 

Akibatnya, rakyat kembali menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya. Pedagang kesulitan memperoleh keuntungan karena pembeli berkurang, sedangkan pembeli harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk memenuhi kebutuhan dapur.

Ironisnya, Indonesia dikenal sebagai negeri yang kaya sumber daya alam dan memiliki lahan pertanian yang luas. Namun, rakyat masih sering dihadapkan pada gejolak harga bahan pangan pokok. 

Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan pangan tidak cukup dijelaskan hanya karena faktor cuaca atau musim panen. Ada persoalan tata kelola yang lebih mendasar yang belum terselesaikan.

Dalam sistem kapitalisme, pangan dipandang sebagai komoditas ekonomi yang tunduk pada mekanisme pasar. Ketika pasokan berkurang, harga naik. Ketika permintaan meningkat, harga kembali melonjak. 

Negara sering kali hanya berperan sebagai regulator yang mengawasi dari kejauhan, bukan sebagai pengurus yang menjamin terpenuhinya kebutuhan rakyat secara optimal. Akibatnya, stabilitas harga sangat bergantung pada dinamika pasar yang tidak selalu berpihak kepada masyarakat kecil.

Islam memiliki pandangan yang berbeda. Dalam Islam, negara bertanggung jawab mengurus kebutuhan rakyat, termasuk memastikan ketersediaan dan keterjangkauan pangan. 

Negara tidak boleh membiarkan rakyat kesulitan memperoleh kebutuhan pokok akibat lemahnya distribusi, penimbunan, ataupun kebijakan yang tidak berpihak kepada masyarakat. 

Rasulullah saw. bersabda, 

"Imam adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang diurusnya." (HR Bukhari dan Muslim).

Karena itu, solusi atas persoalan pangan tidak cukup hanya dengan operasi pasar atau bantuan sesaat. Yang dibutuhkan adalah tata kelola yang mampu menjamin produksi, distribusi, dan stabilitas harga secara berkelanjutan. 

Negara harus hadir sebagai pelayan rakyat, bukan sekadar pengamat pasar. Dengan demikian, pedagang dapat berdagang dengan tenang dan masyarakat dapat memenuhi kebutuhan hidupnya tanpa dihantui lonjakan harga yang terus berulang.

Kenaikan harga cabai dan bawang merah hari ini hendaknya menjadi pengingat bahwa persoalan pangan adalah persoalan kesejahteraan rakyat. Ketika harga kebutuhan pokok terus melambung, yang menjerit bukan hanya pembeli, tetapi juga pedagang. 

Dan ketika kondisi ini terus berulang dari tahun ke tahun, sudah saatnya dicari solusi yang mampu menyentuh akar persoalan, bukan sekadar meredam gejalanya sesaat.[]

Oleh: Sera Alfi Hayunda, S.Pd.
(Aktivis Muslimah)

0 Komentar