Update Palestina: Refleksi Peringatan Nakba


MutiaraUmat.com -- Palestina sudah terjajah selama 78 tahun sejak 15 Mei 1948 entitas Yahudi merebut paksa dengan dukungan Inggris. Para menteri luar negeri, negara anggota BRICS menyerukan komunitas internasional agar terus mendukung bangsa Palestina dalam upayanya mencapai kemerdekaan dan kedaulatan. "Para menteri mengakui Jalur Gaza sebagai bagian tak terpisahkan dari wilayah Palestina yang diduduki."

Terkait hal tersebut, para Menlu BRICS menegaskan pentingnya "mempersatukan Tepi Barat dan Jalur Gaza di bawah Otoritas Palestina" serta menegaskan hak rakyat Palestina untuk menentukan nasibnya sendiri, termasuk hak mewujudkan Negara Palestina yang merdeka dan berdaulat. Lebih lanjut, para menlu BRICS mendesak gencatan senjata segera dan tanpa syarat di Jalur Gaza, serta penarikan penuh pasukan Zionis Israel dari wilayah tersebut. (ANTARA, 05/04/2026). 

Saat ini umat muslim di sana masih terus berjuang mengusir penjajahan di tengah diamnya para pemimpin muslim dunia. (ANTARA, 12/06/2026).

Kekerasan Palestina Masih Memburuk

Kezaliman Zion*s terus membantai warga Palestina. Tidak hanya melakukan pembantaian terhadap warga Palestina, namun mereka juga memperburuk situasi kemanusiaan dengan menutup akses bantuan dan penyeberangan di Rafah. Warga Palestina benar-benar tidak punya tempat berlindung lagi dan kelaparan massal pun menjadi fenomena luar biasa yang terjadi di wilayah Gaza hingga berlangsung sampai sekarang. 


Berlanjutnya penjajahan Palestina adalah potret kegagalan sistem yg sedang tegak dalam menciptakan kerahmatan di dunia, sekaligus menunjukkan kebusukan konsep negara bangsa yang membuat umat Islam kehilangan powernya. Dalam tatanan sistem hari ini membuat dunia islam menjadi makin parah dari krisis dan berbagai penjajahan lainnya. 

Pembebasan Palestina tidak bisa diharapkan datang dari negara-negara adidaya, lembaga internasional, ataupun regional. Semuanya justru ada untuk mengukuhkan penjajahan terhadap umat Islam. Adapun solusi damai yang digunakan oleh negara-negara adidaya lainnya hanya ilusif sebagai jebakan politik. Gagasan politik seperti solusi dua negara dinilai sebagai skenario negara adidaya untuk melanggengkan penjajahan dan kepentingan ekonomi mereka di Timur Tengah. Sungguh, kita tidak bisa berharap masalah Palestina bisa selesai di tangan mereka yang justru tunduk pada agenda Barat. Kaum muslim harus memahami bahwa kehadiran institusi politik Islam sangat dibutuhkan. 

Kepemimpinan Islam Mampu Menyatukan Kekuatan Umat 

Pembebasan Palestina harus menjadi agenda yang include dalam penegakkan sistem kepemimpinan Islam. Hanya kepemimpinan Islam yg diharapkan bisa amengusir penjajahan dan mengalahkan kekuatan pendukungnya. Islam dan umat Islam adalah kekuatan besar yang akan mengguncang musuh. Islam sebagai solusi sesungguhnya tidak hanya membebaskan negeri muslim dari penjajahan, tetapi juga merealisasikan tujuan-tujuan syariat yakni menjaga agama, menjaga nyawa, menjaga akal, menjaga keturunan dan menjaga harta. 

Agenda utama perjuangan hari ini memahamkan umat tentang urgensi hidup di bawah naungan kepemimpinan Islam sebagai wujud keimanan. Kepemimpinan Islam akan menyatukan dan memobilisir kekuatan umat Islam, sehingga kewibawaan umat ini kembali dan umat Islam siap merebut kepemimpinan dunia fan menebar rahmat ke seluruh alam. Umat islam harus sadar bahwa Khilafah adalah solusi hakiki bagi Palestina dan negeri-negeri muslim lainnya. 

Ketiadanya Khilafah yang menjadi junnah (perisai pelindung) bagi umat Islam hari ini menjadi terbelakang dan sangat melemah dimata dunia. Maka, sebagai muslim, kita harus menyambut seruan untuk mendirikan khilafah dengan segera yang akan mengakhiri genosida yang ada di Palestina, dan menegakkan keadilan bagi Palestina, serta membebaskan seluruh negeri Muslim lainnya dari penjajahan. Kehadiran Khilafah yang akan menyatukan seluruh potensi umat Islam dengan seluruh kekuatan, termasuk militernya untuk berjihad membebaskan Palestina.[]


Oleh: Afriani
(Aktivis Muslimah)

0 Komentar