Tren Freestyle Merenggut Nyawa, Alarm Keras bagi Pendidikan Anak
Mutiaraumat.com -- Dunia digital kembali memakan korban. Dua anak di Lombok Timur dilaporkan meninggal dunia setelah meniru aksi “freestyle” yang viral di media sosial dan game online.
Peristiwa ini bukan sekadar kecelakaan biasa, tetapi alarm keras bagi dunia pendidikan dan pengasuhan anak hari ini. Anak-anak yang seharusnya mendapatkan perlindungan justru tumbuh di tengah arus konten digital yang minim kontrol dan sarat bahaya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa perkembangan teknologi digital ternyata tidak selalu membawa dampak positif. Di satu sisi teknologi memudahkan akses informasi, tetapi di sisi lain juga membuka pintu besar bagi masuknya berbagai konten berbahaya kepada anak-anak.
Apalagi anak usia dini belum memiliki kemampuan berpikir matang untuk membedakan mana hiburan dan mana tindakan yang membahayakan nyawa.
Kasus di Lombok Timur diduga terinspirasi dari aksi ekstrem dalam game online populer yang banyak dimainkan anak-anak. Konten semacam ini mudah ditiru karena sering dianggap keren, menantang, dan viral.
Padahal anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan cenderung meniru apa yang mereka lihat tanpa memahami risiko di baliknya. (Kumparan, 13 Mei 2026)
Akibat kejadian tersebut, berbagai pihak mulai dari kepolisian, sekolah, psikolog anak hingga KPAI mengimbau para orang tua agar lebih mengawasi penggunaan gawai, media sosial, dan tontonan anak-anak.
Himbauan ini menunjukkan bahwa ancaman dunia digital terhadap anak bukan lagi sekadar kekhawatiran, tetapi fakta nyata yang sudah memakan korban jiwa (Tribun Pontianak, 14 Mei 2026).
Sayangnya, banyak orang tua hari ini terjebak pada pola pengasuhan praktis. Gawai sering dijadikan alat agar anak diam dan tidak rewel. Anak dibiarkan mengakses internet tanpa pendampingan memadai.
Akibatnya, media sosial dan game online perlahan mengambil alih peran pendidikan dalam kehidupan anak. Anak lebih mengenal karakter game dibandingkan teladan para nabi, lebih hafal tren media sosial dibandingkan adab dan akhlak Islam.
Di sisi lain, lemahnya kontrol lingkungan dan negara juga memperparah keadaan. Konten-konten berbahaya masih mudah diakses bahkan oleh anak usia dini. Sistem sekuler kapitalisme yang diterapkan hari ini menjadikan kebebasan informasi dan keuntungan industri digital sebagai prioritas utama. Selama konten mampu menghasilkan keuntungan besar, maka dampak moral dan keselamatan generasi sering kali diabaikan.
Akibatnya, anak-anak tumbuh dalam ekosistem digital yang tidak sehat. Mereka dijejali hiburan tanpa batas, tontonan penuh kekerasan, serta budaya viral yang mengutamakan sensasi.
Padahal masa anak-anak adalah fase pembentukan kepribadian yang sangat penting. Jika sejak kecil anak dibiasakan dengan tontonan berbahaya dan minim nilai moral, maka kerusakan generasi hanya tinggal menunggu waktu.
Islam memandang anak sebagai amanah besar yang wajib dijaga dan dididik dengan penuh tanggung jawab. Dalam Islam, anak-anak yang belum balig memang belum dibebani hukum syariat karena akalnya belum sempurna.
Karena itu, orang tua dan orang dewasa memiliki kewajiban untuk membimbing, mengarahkan, dan melindungi mereka dari segala bentuk bahaya.
Sayangnya, sistem kehidupan hari ini justru menyerahkan pendidikan anak kepada pasar digital dan industri hiburan. Orang tua sibuk bekerja, lingkungan kurang peduli, sementara negara gagal menghadirkan sistem perlindungan yang benar-benar menjaga generasi. Akibatnya, anak-anak tumbuh tanpa pengawasan yang kuat.
Padahal Islam memiliki konsep pendidikan yang menyeluruh. Pendidikan anak tidak hanya menjadi tanggung jawab keluarga, tetapi juga lingkungan dan negara. Orang tua wajib menanamkan akidah dan akhlak Islam sejak dini. Lingkungan masyarakat harus ikut menjaga budaya yang baik. Negara pun wajib memastikan media dan teknologi tidak menjadi sarana perusak generasi.
Dalam sistem Islam, negara tidak akan membiarkan konten berbahaya bebas beredar atas nama kebebasan berekspresi atau keuntungan industri digital. Negara akan membatasi ketat informasi yang membahayakan moral dan keselamatan anak serta memperbanyak konten edukatif yang membangun kepribadian Islam.
Karena itu, tragedi freestyle yang merenggut nyawa anak-anak ini harus menjadi renungan besar bagi umat. Kerusakan generasi tidak lahir secara tiba-tiba, tetapi merupakan akibat dari sistem kehidupan yang gagal menjaga anak-anak dari pengaruh buruk dunia digital.
Sudah saatnya umat kembali menjadikan Islam sebagai landasan pendidikan generasi agar lahir anak-anak yang cerdas, berakhlak, dan terlindungi dari berbagai kerusakan zaman.[]
Oleh: Sera Alfi Hayunda
(Aktivis Muslimah)
0 Komentar