Saat Algoritma Mematikan Nalar: Menyelamatkan Anak dari Impulsivitas Digital Melalui Karakter Generasi Islam


MutiaraUmat.com -- Nalar yang Belum Sempurna dan Sisi Gelap Fase Tumbuh Kembang Anak di Era Digital.

Tragedi maut akibat aksi freestyle berbahaya yang viral di media sosial dan game online seperti Garena Free Fire telah merenggut nyawa dua anak usia TK dan SD di Lombok Timur akibat cedera leher fatal.

Nalar anak-anak yang belum sempurna menjadi faktor utama mengapa mereka sangat rentan meniru aksi berbahaya dari game online dan media sosial. Anak sekarang belum Mampu Membedakan Fiksi dan Realitas. Anak menganggap tindakan tersebut aman dan memiliki konsekuensi yang sama di dunia nyata.

Tanpa kendali dari fungsi eksekutif ini, anak bertindak murni atas dasar rasa penasaran dan dorongan instan untuk mencoba hal baru yang dianggap seru. Teknologi saat ini menggeser figur yang ditiru anak; jika dahulu mereka meniru orang tua atau guru, kini mereka meniru karakter game online dan konten kreator digital yang visualnya jauh lebih atraktif.

Anak-anak melihat tren tersebut sebagai cara instan untuk terlihat keren, berprestasi, atau diterima oleh kelompok bermainnya.Demi mendapatkan pengakuan tersebut, nalar kritis mereka terhadap rasa sakit atau bahaya menjadi sepenuhnya tertutup.

Lentera Iman di Usia Belia, Membaca Logika Kritis Ali bin Abi Thalib Saat Masuk Islam

Kisah Awal Mula Ali bin Abi Thalib Masuk Islam telah terjadi Sejak kecil, Ali bin Abi Thalib diasuh langsung oleh Rasulullah SAW untuk meringankan beban finansial ayahnya, Abu Thalib. Kedekatan ini membuat Ali menyaksikan langsung awal mula turunnya wahyu.

 Suatu hari, Ali yang masih berusia sekitar 10 tahun masuk ke dalam kamar dan mendapati Rasulullah SAW bersama Sayyidah Khadijah sedang melakukan gerakan ruku dan sujud.

 Ali merasa asing dengan gerakan tersebut karena masyarakat Makkah saat itu menyembah berhala. Beliau kemudian bertanya, "Wahai Muhammad, ibadah apa ini? Penjelasan Rasulullah: Rasulullah SAW menjelaskan bahwa ini adalah agama Allah yang diutus untuk para nabi, dan mengajak Ali untuk menyembah Allah semata serta meninggalkan berhala Lata dan Uzza"

Logika Kritis Ali Menunjukkan nalar yang cerdas, Ali tidak langsung mengiyakan. Beliau menjawab, "Aku tidak pernah mendengar hal ini sebelumnya. Aku tidak bisa memutuskannya sebelum berdiskusi dan meminta izin kepada ayahku, Abu Thalib."

Hidayah di Malam Hari: Malam harinya, Allah menggerakkan hati Ali. Beliau berpikir bahwa Allah menciptakannya tanpa perlu meminta izin kepada Abu Thalib, maka mengapa ia harus meminta izin ayahnya untuk menyembah Allah? Esok paginya, Ali langsung menemui Rasulullah SAW dan menyatakan keimanannya tanpa ragu.

Kemandirian Berpikir Generasi Islam vs. Peniruan Buta Generasi Kapitalis

Ali bin Abi Thalib memiliki nalar kritis yang mandiri. Saat ditawari Islam, beliau tidak langsung ikut-ikutan meskipun sangat menghormati Rasulullah SAW. Beliau menganalisis situasi, merenungkannya semalaman, dan mengambil keputusan logis: "Allah menciptakanku tanpa izin ayahku, maka aku tidak perlu izin ayahku untuk menyembah-Nya."

Anak Zaman Sekarang cenderung menjadi peniru pasif (impulsive imitators). Akibat fungsi eksekutif otak yang belum matang dan paparan gawai yang masif, mereka langsung mempraktikkan apa yang dilihat di layar (seperti tren freestyle maut) tanpa memikirkan konsekuensi sebab-akibat atau bahaya fisiknya.

Ali bin Abi Thalib belajar langsung dari realitas visual dan keteladanan karakter di dunia nyata. Beliau melihat kesalehan, kejujuran, dan gerakan salat Rasulullah SAW secara langsung, sehingga proses analisis logisnya berbasis pada kebenaran faktual.

Anak Zaman Sekarang dibombardir oleh informasi berbasis algoritma, efek visual, dan dunia simulasi (game online/media sosial). Pikiran mereka dipaksa memproses distorsi realitas—di mana karakter game bisa hidup kembali setelah jatuh atau melakukan salto ekstrem—sehingga nalar mereka kesulitan membedakan fiksi dan hukum fisika nyata.

Dari uraian diatas daoat kita mengambil benang merahnya bahwa generasi Islam dahulu seperti Ali bin Abi Thalib di usia anak-anak mampu merepresentasikan kecerdasan kognitif-spiritual yang matang, di mana rasa ingin tahu disaring oleh logika internal yang kuat. Sebaliknya, anak-anak di era digital saat ini sering kali memiliki kecerdasan digital yang tinggi (mahir teknologi), namun rapuh dalam kontrol impuls dan nalar kritis, membuat mereka mudah terhanyut oleh arus tren yang membahayakan nyawa.

Oleh: Putri Rahmi DE, SST
Aktivis Muslimah

0 Komentar